Songko, Teror Ketakutan dari Legenda Minahasa
Film berjudul “Songko” akan hadir menyapa penonton pada bulan April ini. Berlatar belakang legenda lokal Minahasa, Sulawesi Utara, film ini akan menghadirkan horor terbaru. Pendekatan berbeda dengan mengeksplorasi horor melalui akar budaya dan cerita rakyat layak untuk ditonton
“Songko” menandai debut Gerald Mamahit sebagai sutradara film layar lebar. Menurutnya kisah Songko sebagai legenda yang memiliki kedekatan emosional bagi masyarakat setempat, sehingga film ini lahir dari proses kreatif yang menekankan keaslian cerita. “Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Untuk itu kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik. Bukan hanya menakutkan secara visual, namun ada akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,” ujar Gerald Mamahit dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis 9 April 2026.
Untuk memperkuat nuansa lokal tersebut, Gerald berkolaborasi dengan banyak talenta lokal. Para pemain dan kru bekerja langsung di wilayah Minahasa untuk memastikan cerita yang mereka hadirkan tetap menyatu dengan budaya yang menginspirasinya.
Sederat nama lokal hadir Film “Songko” seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak. Mereka memerankan karakter yang hidup dalam atmosfer misterius sebuah desa di Tomohon yang diteror makhluk mitologis.
Salah satu pemeran, Khiva Iskak menyebut pengalaman bermain di film ini terasa berbeda. “Yang membuat film ini menarik adalah kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita,” kata Khiva.
Sementara itu, Annette Edoarda mengungkapkan ketertarikannya pada kualitas cerita film tersebut. “Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami,” ujarnya. Imelda menambahkan kekuatan film justru terletak pada sisi psikologis manusia yang terseret dalam lingkaran ketakutan.
“Film ini menarik adalah bukan hanya soal makhluk yang menakutkan. Namun tentang bagaimana rasa takut bisa membuat orang saling mencurigai dan saling menyalahkan. Itu membuat ceritanya terasa sangat manusiawi sekaligus menegangkan,” tambahnya. Baginya menambahkan, trailer film “Songko” bahkan sudah membawa ketegangan yang kuat. “Semoga penonton juga bisa merasakan kengerian yang sama saat menyaksikan filmnya di bioskop nanti,” ungkap Imelda
Santara sebagai rumah produksi menegaskan komitmennya pada konsep hyperlocal storytelling. Mereka tidak hanya memakai Sulawesi Utara sebagai latar, tetapi juga membangun area set khusus di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Set tersebut berdiri bukan sebagai instalasi sementara, melainkan fasilitas kreatif yang dapat terpakai jangka panjang. Sebagian besar pemeran dan kru berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, sehingga proyek ini menjadi ruang kolaborasi yang memperkuat ekosistem perfilman daerah.
Sinopsis
Film “Songko” mengambil latar tahun 1986, ketika sebuah desa di Tomohon hidup dalam ketakutan karena serangkaian kematian perempuan muda. Mereka ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan yang jelas. Warga akhirnya percaya bahwa kejadian itu terkait hadirnya Songko, makhluk misterius yang diyakini memburu darah suci perempuan demi kekekalan.
Ketakutan berubah menjadi saling curiga. Tuduhan terus bermunculan hingga mengarah pada keluarga Mikha. Helsye, ibu tiri Mikha, dituding sebagai pihak yang memanggil Songko ke desa mereka. Situasi desa akhirnya bergeser menjadi konflik psikologis yang mengintai seluruh warga.
Film horor bertema legenda lokal ini siap tayang di bioskop mulai 23 April 2026. Dengan kekuatan cerita, nuansa budaya Minahasa, dan pendekatan sinematik yang autentik, “Songko” menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling dinantikan tahun ini.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement