Pagar Laut, Pengalaman Berkapal Pinisi di Labuan Bajo
Ini kali kedua ke Labuan Bajo. Keduanya sama-sama dalam rangka Rapat Kerja Perusahaan. Bukan sekadar dolan. Dulu raker PTPN Group, kini Raker Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU).
Tentu masih ada agenda senggangnya. Baik dulu maupun sekarang. Bedanya dulu tak sampai menginap di kapal yang labuh di tengah laut. Kini pakai nginep karena ingin melihat sunset di Pulau Padar. Empat hari sebelum ada larangan ke pulau itu karena cuaca ekstrem.
Asyik. Sebab bisa merasakan berartinya pagar laut. Yang membuat naik kapal Phinisi berjam-jam masih terasa nyaman. Meski ketika balik, satu jam lebih dibuat mabuk karena gelombang tinggi saat melewati jalur yang langsung menyambung dengan laut terbuka.
Sungguh kali ini saya merasakan pentingnya pagar laut. Yang alami. Bukan pagar laut seperti yang ramai di Provinsi Banten, saat ini.
Sebab, sungguh begitu ‘’menyiksa’’ ketika kapal melalui lautan tanpa pagar alam di saat cuaca tak bersahabat. Selama satu jam, kapal itu harus terombang-ambing gelombang. Membuat sebagian besar penumpang –kecuali kru– mabuk laut berkepanjangan.
Saya yang besar dari pedalaman tak punya budaya laut. Berbeda dengan mereka yang dari kecil hidup di pesisir atau di daerah kepulauan. Bagi mereka gelombang laut seperti musik dangdut pagi penggemarnya. Begitu ombak berdebur, badan otomatis bergoyang untuk berjoget.
Rasanya begitu lama menahan mabuk. Saya jadi membayangkan para pengungsi Rohingya yang harus berbulan-bulan di tengah laut dengan perahu kecil.
Bagi kami, sejam saja di tengah ombak besar rasanya sudah ingin sampai di darat. Ombaknya sempat menggoyang perahu sampai peralatan di kamar mandi berjatuhan dan pecah. Kursi juga berjalan sendiri di ruangan.
Untung saja ada kapten kapal yang meyakinkan tentang keamanan perjalanan laut. Yang sejak awal sudah menyampaikan bahwa nanti akan melewati perairan yang sedikit membuat kapal bergoyang keras. Ketika kapal dengan 7 kamar dan satu ruang berkumpul itu melewati selat tanpa pagar laut.
Ia seorang pria yang selama hidupnya telah menyatu dengan alam di sekitar Pulau Komodo. Yang bisa menyelami kehidupan laut dan darat kepulauan di itu. Yang menjadikan alam nan indah di Timur Indonesia ini sebagai bagian hidupnya.
Baginya, laut dan kepulauan itu merupakan tempat ia lahir, berkembang, dan hidup. Yang tentu sangat punya kepedulian terhadap alam yang kini menjadi tempat favorit para wisatawan untuk memanjakan mata.
Kapten kapal itu namanya Mohammad Taher. Pria yang lahir dan besar di Pulau Komodo. Pulau yang menjadi habitat asli biawak ini. Yang menjadi salah satu Taman Nasional di Indonesia. Juga menjadi salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan UNESCO. Yang selama ini menjadi jujugan untuk menyaksikan komodo selain di Pulau Rica.
Sebelum berangkat, kapten sudah mengingatkan jika nanti akan ada guncangan sedikit ketika melewati jalur laut terbuka. Tapi saya tak membayangkan bahwa guncangannya sekeras itu. Apalagi disertai hujan dengan awan gelap di langit. Membikin tak ingin mengulang perjalanan seperti itu kembali.
Kawasan Labuan Bajo memang berupa gugusan pulau yang terjaga. Yang mulai ramai sejak digelar Sail Bajo di awal tahun 2013. Sejak saat itu, wisatawan mengalir ke sana. ‘’Hanya saja, waktu itu, sebagian besar yang datang wisatawan asing. Baru belakangan banyak wisatawan lokal yang datang,’’ kata Taher.
Pria kelahiran 1979 ini dulunya seorang aktivis kampung. Padahal hanya lulusan SMP. Namun, ia termasuk keturunan Saba, semacam petinggi suku di Pulau Komodo. Modo nama sukunya. Bahkan, sampai sekarang, ibunya yang lahir di pulau itu masih dianggap sebagai juru kunci pulau yang dihuni sekitar 2000 jiwa itu.
Ayahnya keturunan Bajo, suku pelaut dari Sulawesi. Haji Nuhung, namanya. Ia dikenal sebagai perintis kerajinan patung komodo. ‘’Bapak saya membuat patung atas saran seorang peneliti asal Florida Amerika Serikat Walter Auffenberg,’’ kisah Taher.
Haji Nuhung tak hanya merintis patung komodo pertama, tapi juga melatih warga pulau Komodo membuat kerajinan serupa. Kegiatan visioner yang sangat bermakna untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekarang. Ia juga menjadi orang pertama yang membuat kapal wisata di Labuan Bajo.
Taher lahir dan besar di Pulau Komodo. Sekolah SD di pulau itu. Sedangkan SMP ditempuh di Labuhan Bajo. Sebagai anak tokoh, Taher kecil dikenal pandai. Karena itu, ia menjadi kesayangan gurunya. Guru SD-nya pula yang mengirimkan ke Labuhan Bajo untuk sekolah di SMP. Sayang ia tak melanjutkan sekolah. Tidak dijelaskan mengapa hanya sampai SMP saja.
Dengan bekal sekolahnya itu, ia menjadi pemuda aktivis kampung. Ia sempat menggagas untuk membuat buku tentang identitas orang pulau Komodo. ‘’Saat itu, kami merasa warga Pulau Komodo kehilangan identitas aslinya. Padahal, identitas asli itulah yang bisa menjadi modal untuk maju,’’ katanya.
Ia bercerita banyak hal tentang warga kampungnya. Yang selama ini telah menyatu dengan kehidupan alam di Pulau Komodo. Di kampungnya, hewan yang dilindungi bernama komodo itu hidup menyatu dengan warga di kampung. Mereka tidak saling mengganggu. ‘’Di kampung kami komodo biasa berkeliaran di sekitar rumah,’’ tuturnya.
Bagi warga asli pulau itu, komodo itu berasal dari kata ko dan modo. Ko artinya milik, modo adalah nama suku. Sehingga komodo sebetulnya berarti milik suku modo. Bahwa kemudian itu menjadi nama hewan melata yang dilindungi, Taher tidak tahu sejak kapan itu mulai. Yang pasti, binatang reptil itu sudah menjadi obyek studi para ilmuwan sejak lama.
Yang pasti, keindahan gugusan pulau, bukit, pantai dan laut di NTT bagian barat itu telah memberikan berkah bagi warga setempat. Termasuk warga kampung Komodo yang untuk menggapainya perlu perjalanan kapal dari Labuan Bajo. ‘’Pengembangan pariwisata di sini bisa dirasakan manfaatnya bagi warga,’’ kata Taher.
Di Labuan Bajo, pagar laut yang memberi berkah warga setempat adalah pagar alam. Yang terdiri dari gugusan pulau, pantai dan bukit indah. Bukan pagar bambu yang menyusahkan nelayan seperti yang kini secara nasional menjadi sorotan. Bukan pagar yang dibikin manusia misterius yang sebetulnya telah jelas maksudnya.
Pagar alam bisa memberi berkah warganya, pagar laut bisa bikin repot banyak orang.
Advertisement