TNBTS Temukan Dua Spesies Anggrek Baru yang Langka di Gunung Semeru
Kekayaan hayati di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali membawa kabar baik bagi dunia botani. Balai Besar TNBTS secara resmi mencatat penemuan dua spesies anggrek baru di lereng selatan Gunung Semeru, Jawa Timur.
Kedua spesies tersebut diidentifikasi sebagai Anoectochilus papuanus dan Acanthophippium bicolor. Penemuan ini menjadi catatan baru (new record) penyebaran kedua flora tersebut untuk wilayah Pulau Jawa dan Indonesia.
Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS, Toni Artaka, menjelaskan bahwa penemuan ini tidak terjadi secara instan. Proses identifikasi menyeluruh hingga publikasi ilmiah membutuhkan waktu bertahun-tahun.
"Sejak ditemukan sampai pengajuan jurnal ilmiah butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun, setelah itu proses publikasi ilmiah hampir dua tahun," ujar Toni di Kota Malang.
Ditemukan di Ketinggian 800-1.100 MDPL
Penemuan kedua anggrek langka ini dilakukan dalam waktu yang berbeda. Spesies Anoectochilus papuanus pertama kali ditemukan pada tahun 2022. Setahun berikutnya, pada 2023, tim lapangan kembali menemukan spesies Acanthophippium bicolor.
Keduanya tumbuh subur di lereng selatan Gunung Semeru dengan elevasi sekitar 800 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Habitat alami yang terjaga membuat kedua tanaman ini mampu bertahan, meskipun secara umum keberadaannya relatif sulit ditemukan di alam liar.
Karakteristik Unik: Berbentuk Kendi hingga Berbulu Halus
Secara global, kedua anggrek ini masuk ke dalam kelompok yang sangat unik dan memiliki ciri fisik yang kontras:
1. Anoectochilus papuanus (Kelompok Jewel Orchids)
Anggrek yang dikenal dengan keindahan daunnya ini memiliki ukuran yang cenderung mungil namun eksotis.
Daun: Memiliki urat daun yang khas dengan ukuran sekitar 2–5 sentimeter.
Bunga: Ketinggian bunga mencapai 12 sentimeter dengan perpaduan warna marun dan putih transparan. Keunikan utamanya terletak pada rambut-rambut halus yang menyelimuti seluruh bagian bunga.
2. Acanthophippium bicolor (Kelompok Jug Orchids)
Berbeda dengan spesies pertama, anggrek ini memiliki struktur yang lebih kokoh dan tinggi.
Ukuran & Daun: Memiliki tinggi sekitar 60 sentimeter dari pangkal hingga ujung daun. Kelebihannya, dua daun hijaunya mampu bertahan sepanjang tahun (evergreen).
Umbi Semu: Memiliki umbi semu (pseudobulb) yang tumbuh merumpun hingga sepanjang 20 sentimeter.
Bunga: Memiliki diameter mencapai 4 sentimeter dengan bentuk unik menyerupai kendi (jug). Warnanya sangat mencolok, yaitu merah menyala berpadu dengan kuning pucat.
Migrasi Flora dari Papua, India, hingga Sri Lanka
Penemuan ini sangat mengejutkan para peneliti karena sebaran geografis asli kedua tanaman ini sebenarnya berada sangat jauh dari Pulau Jawa.
Spesies Anoectochilus papuanus sebelumnya hanya tercatat menyebar di wilayah Papua hingga Kepulauan Solomon. Sementara itu, Acanthophippium bicolor dikenal luas sebagai flora asli yang tersebar di wilayah India dan Sri Lanka.
Belum Memiliki Nama Lokal dan Berstatus Langka
Meskipun sudah teridentifikasi secara ilmiah, kedua spesies anggrek di kawasan Gunung Semeru ini hingga kini masih belum memiliki nama lokal.
Berdasarkan status global dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), baik Acanthophippium bicolor maupun Anoectochilus papuanus saat ini masih masuk dalam kategori Not Evaluated (belum dievaluasi).
Toni menambahkan, karena sifatnya yang cukup langka di habitat aslinya, pihak TNBTS ke depan akan melakukan konfirmasi dan koordinasi lebih lanjut dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menentukan status konservasi yang lebih spesifik dan resmi di Indonesia.
Advertisement