Teror Penebok dari Belitung dalam Film “The Bell: Panggilan untuk Mati”
Film baru dari Rumah produksi Sinemata Buana Kreasindo siap mengguncang bioskop Mei mendatang. Tontonan bergenre horor berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati. Sebuah karya yang mengangkat mitos mistis Pulau Belitung melalui sosok Penebok atau hantu tanpa kepala yang melegenda di daerah tersebut. Namun film ini mencoba menawarkan sudut pandang baru dalam genre horor Indonesia.
Aktor senior Mathias Muchus yang terlibat dalam film tersebut menilai bahwa “The Bell” mempunyai keunikan tersendiri. Latar Pulau Belitung adalah warna baru karena mitos lokal di luar Jawa jarang terangkat ke layar lebar. “Menariknya itu ternyata ada juga horor yang ada di luar Pulau Jawa. Di pulau yang indah dan keren itu tiba-tiba ada hantu namanya Penebok dengan lehernya buntung,” kata Mathias. Menurutnya bergabung dalam proyek ini karena ingin mendukung produksi film daerah. Kebetulan produser film ini juga berasal dari Belitung. Keterlibatannya inilah yang secara langsung memberikan kontribusi terhadap perkembangan industri kreatif lokal.
Proses syuting yang berlangsung sepenuhnya di Pulau Belitung turut menambah alasan mengapa film ini istimewa bagi para pemainnya. Mathias menuturkan suasana lokasi memiliki energi khusus yang memperkuat nuansa mistis cerita. “Selain pemandangannya indah banget. Seperti ada suasana magis memang. Tapi auranya itu memang agak-agak menyeramkan apalagi kita lagi menangani film film horor. Seolah-olah Penebok itu selalu muncul dari gedung-gedung vibes-nya itu bangunannya masih banyak yang tua-tua,” imbuhnya.
Sementara itu Aktris Ratu Sofya mengaku mempunyai pengalaman syuting saat kunjungan perdananya ke Belitung. “Aku tuh enggak pernah ke Belitung. Kebetulan syutingnya kita di Belitung full, makanya aku benar-benar kayak ‘aku mau banget’. Karena aku benar-benar penasaran juga sama Belitung. Dan setelah aku baca karakternya aku suka,“ katanya.
Sinopsis “The Bell: Panggilan untuk Mati”
Sutradara Jay Sukmo yang menggarap “The Bell: Panggilan untuk Mati” tampaknya fokus pada sebuah artefak kuno berupa lonceng keramat. Masyarakat Belitung percaya lonceng itu mampu mengurung roh jahat. Konflik bermula ketika sekelompok YouTuber mencuri lonceng tersebut demi mengejar konten viral. Tindakan sembrono itu justru membebaskan Penebok, sosok tanpa kepala bergaun merah yang sudah terperangkap selama ratusan tahun.
Begitu terlepas, Penebok mulai memburu para pencuri lonceng itu satu per satu, lalu meluaskan terornya kepada warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda bahwa kematian akan datang kepada siapa saja yang mendengarnya. Penebok digambarkan sebagai entitas haus kepala manusia, dan kehadirannya menandai rangkaian kejaran mematikan yang memacu adrenalin.
Film ini juga menghadirkan jajaran pemain lain seperti Bhisma Mulia, Shaloom Razade, Givina Dewi, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana, dan Maulidan Zuhri, yang memperkuat dinamika ketegangan dalam alur cerita. Dengan perpaduan mitos lokal, atmosfer magis Pulau Belitung, serta eksekusi visual yang berorientasi pada ketegangan, film ini diharapkan mampu menawarkan pengalaman horor yang berbeda bagi penonton.
Cerita tentang Penebok, yang selama ini hanya hidup dalam tuturan masyarakat setempat, kini hadir dalam bentuk sinema yang lebih dekat dengan generasi muda. “The Bell: Panggilan untuk Mati” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement