Seniman itu Seperti Jurnalis, Orang Paling Egois
Sebagai penanggung jawab Galeri Merah Putih yang berada di komplek Balai Pemuda Surabaya, tanggal 25 Maret lalu saya menerima surat dari Kepala Disbudporapar Kota Surabaya mewakili Wali Kota. Isinya, kami pengelola galeri harus mengosongkan ruangan, diberi waktu paling lambat tujuh hari setelah menerima surat.
Waduh, gimana ini? Padahal agenda pameran di galeri kecil yang dikelola juga oleh tim kecil tersebut sudah penuh terisi hingga Desember 2026. Memang, ruangan galeri ukurannya cuma empat setengah kali delapan meter, mungkin galeri terkecil di Indonesia. Tapi karena dalam setahun bisa digelar sampai 41 pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama, baik pelukis dari Surabaya maupun dari luar kota, maka saya yakin galeri terkecil ini sekaligus juga menjadi galeri terpadat menggelar pameran.
Mereka yang berpameran tidak dibatasi hanya pelukis yang sudah punya jam terbang dengan karya-karya yang bagus atau setidaknya boleh dibilang lumayan dan menjanjikan. Bahkan pelukis anak dan mereka yang baru belajar melukis juga bisa berpameran, dengan cacatan ada slot yang kosong. Anak-anak berkebutuhan khusus, serta kelompok-kelompok yang perlu mendapat perhatian, juga kami beri kesempatan untuk berpameran tanpa harus dikuratori. Kami tidak pernah mengingkari bahwa ruangan kecil yang menjadi bagian dari komplek Balai Pemuda dan kami jadikan galeri tersebut adalah aset Pemkot Surabaya.
Untuk menjawab surat pengosongan, kami bersama-sama dengan para pelukis meresponnya dengan aksi berupa pameran lukisan di Galeri Merah Putih bertajuk ‘Art for Freedom’. Pameran diikuti 38 pelukis dari Surabaya dan sekitarnya, yang digelar selama seminggu, dengan menampilkan beragam karya tapi sebagian besar adalah coretan ekspresif karena kekecewaan bahkan kemarahan terhadap kebijakan Pemkot.
Ada kanvas yang ditutup dengan kain warna hitam, dipajang bersebelahan dengan karya lain berupa kanvas yang ditutup dengan kain putih. Keduanya mengekspresikan perasaan berkabung. Ada juga pelukis yang memperbesar surat perintah pengosongan dari Disbudporapar, mencetaknya di atas kanvas, lantas diberinya coretan-coretan warna merah. Karya-karya lainnya juga tampil sebagai sebuah karya lukis utuh, jauh dari asal-asalan. Beginilah cara seniman melakukan protes, bermartabat dan tetap memperhitungkan unsur estetika sehingga tetap indah dipandang mata.
Hari Selasa 31 April sore, saya bersama Ketua Bengkel Muda Surabaya - organisasi kesenian untuk anak muda yang pernah saya ketuai pada tahun 1976, yang juga mendapat surat pengosongan, datang ke kantor Pemkot. Kami ditemui dan berdialog dengan Kabag Hukum dan beberapa stafnya. Kemudian Kepala Disbudporapar yang menandatangani surat perintah pengosongan, juga hadir bersama beberapa stafnya.
Kami berdialog hingga waktu Isya’. Saya antara lain menjelaskan bahwa Galeri Merah Putih yang kecil ini menjadi acuan para pelukis baik yang baru belajar maupun sudah jadi. Karena itu jadwal pamerannya padat. Kepada para pelukis yang berpameran di galeri ini, kami hanya mengenakan sekadar beaya kebersihan saja, itupun fungsinya agar para pelukis merasa ikut bertanggungjawab karena sangat tidak mendidik apabila sepenuhnya kami gratiskan.
Untuk Balai Pemuda yang menyimpan bukan hanya catatan-catatan tetapi juga nilai-nilai sejarah termasuk sejarah kesenian Kota Surabaya, saya tegaskan harus tetap dipertahankan sebagai oase seni budaya. Sekarang di kota berpenduduk 3,2 juta ini yang tumbuh pesat dan banyak bermunculan adalah restoran, food court, tempat kulineran UMKM, kafe, warkop dan semacamnya. Pemkot punya kewajiban untuk menjaga keseimbangan hidup warganya, jangan sampai titik beratnya hanya pada urusan perut, sementara urusan kesejahteraan batin diabaikan. Karena itu fungsi Balai Pemuda sebagai satu-satunya oase kesenian harus tetap dijaga, bersama-sama dengan para seniman. Dari dialog panjang yang saya kira juga dilaporkan kepada Wali Kota tersebut akhirnya diputuskan, Galeri Merah Putih dan Bengkel Muda Surabaya tidak jadi digusur dari Balai Pemuda. Alhamdulillah.
Dengan mendapat dukungan dari banyak sekali seniman dan komunitas-komunitas perupa, Sabtu 18 April, kami menyelenggarakan OTS (melukis bersama) dengan mengundang dua model, Marcella Zalianty dan Arumi Bachsin. Kegiatan ini diikuti lebih dari 250 pelukis yang datang dari kota-kota di Jatim, juga beberapa pelukis dari Jateng. Acara ini kami rancang sebagai bentuk protes kami kepada Pemkot karena adanya perintah pengosongan, tapi sekaligus juga syukuran karena Galeri Merah Putih gak jadi digusur.
Cerita ini sengaja saya tulis meskipun terlambat, setelah saya ingat pada tesis lama saya bahwa seniman itu seperti jurnalis, orang paling egois. Yang satu merasa bisa menciptakan dunia melalui karya-karyanya, satunya merasa bisa menguasai dunia lewat berita-berita yang ditulisnya. Kebetulan saya berada di antara keduanya, aktif di kesenian sejak tahun 1975 sekaligus juga menjadi jurnalis sejak 1983 hingga sekarang.
Dari situ setidaknya saya punya pengalaman empirik tentang bagaimana cara mengendalikan ego agar saya tidak merasa paling hebat dan ngotot harus menang dalam hal apapun; yaitu melalui dialog. Dengan begitu – ini yang penting, kami tetap bisa menyebar-luaskan keindahan melalui cara-cara yang elegan dengan tetap menjaga etika dan estetika. Ini pendapat dan pilihan kami, bisa saja kita berbeda. (m. anis)
Advertisement