Pembatasan Media Sosial untuk Anak: Perlu Dukungan Edukasi Orang Tua agar Efektif
Wacana pembatasan penggunaan media sosial untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun kembali mencuat di tengah kekhawatiran dampak negatif gadget terhadap perkembangan mental anak. Meski pembatasan tersebut dinilai penting, para ahli menyarankan agar kebijakan ini diimbangi dengan edukasi yang kuat kepada orang tua agar pengawasan penggunaan teknologi di rumah dapat lebih efektif.
Ketua Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM), Jainul Rahmat Arifin, menegaskan, meskipun banyak platform digital seperti YouTube sudah menerapkan sistem pembatasan usia, yang sebenarnya perlu mendapat perhatian lebih adalah peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget di rumah.
"Pembatasan itu memang penting, namun yang lebih mendesak adalah bagaimana orang tua bisa lebih aktif mengawasi dan memberikan pemahaman kepada anak mengenai penggunaan gadget yang bijak," ujar Jainul, Selasa, 31 Maret 2026.
Ia menambahkan, tanpa pendampingan yang tepat, anak bisa berisiko mengalami gangguan perkembangan, seperti keterlambatan bicara atau kesulitan dalam proses belajar. Hal ini sering terjadi ketika anak terpapar terlalu lama dengan gadget tanpa pengawasan yang memadai.
"Peran orang tua itu sangat krusial. Mereka perlu memahami dengan baik bagaimana cara yang tepat untuk mengatur waktu dan penggunaan gadget pada anak," tegas Jainul.
Namun, meskipun penting untuk membatasi durasi dan jenis konten yang dikonsumsi anak, Jainul juga mengingatkan bahwa pembatasan yang terlalu ketat bisa menghambat kreativitas, terutama pada anak-anak yang sudah memasuki usia remaja.
"Anak-anak usia 16 tahun ke atas berada dalam fase eksplorasi. Mereka membutuhkan ruang untuk berkreasi, mencari ide, dan bahkan belajar keterampilan produktif, seperti editing atau desain, melalui platform digital," ujar Jainul.
Oleh karena itu, ia mendorong agar kebijakan pemerintah terkait pembatasan media sosial harus mempertimbangkan keseimbangan antara perlindungan terhadap anak dan kesempatan bagi mereka untuk berkembang di dunia digital.
"Jika pembatasan terlalu luas, termasuk terhadap konten pendidikan dan inspiratif, hal itu justru bisa menghambat perkembangan anak. Pemerintah harus bijak dalam merumuskan kebijakan ini," imbuh Jainul.
Kebijakan pembatasan media sosial, menurut Jainul, harus didasarkan pada pertimbangan matang tentang dampaknya terhadap perkembangan anak. Dengan demikian, pembatasan yang diterapkan tidak hanya melindungi anak, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk berkembang dan berkreasi di era digital.
"Ada banyak sisi positif dan negatif dalam hal ini. Kunci utamanya adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara pembatasan dan edukasi, khususnya untuk orang tua," tandasnya.
Advertisement