Menag Nasaruddin Umar Salurkan Dagim Dam Ke Ponpes Najmul Hidayah Al Aziziyah, Bireuen, Aceh
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa daging Dam Haji 2025 dan logistik kebutuhan dasar kepada Pondok Pesantren Najmul Hidayah Al Aziziyah, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang terdampak banjir bandang.
Banjir tersebut menyebabkan asrama putri pesantren hanyut terbawa arus air banjir bandang, dan hanya menyisahkan bangunan masjid yang dipenuhi potongan kayu dan lumpur. Penyerahan bantuan dilakukan langsung Menag sebagai respons cepat Kementerian Agama terhadap lembaga pendidikan keagamaan yang terdampak bencana.
Selain daging Dam Haji 2025, Kemenag juga menyalurkan bantuan berupa sarung, mukena, selimut, paket sembako, genset, serta perlengkapan kebersihan. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu pemulihan aktivitas belajar mengajar serta meringankan beban para santri dan pengelola pesantren pascabencana.
Dalam kesempatan itu, Menag Nasaruddin Umar, menyampaikan empati sekaligus penguatan spiritual kepada keluarga besar pesantren. Ia menegaskan, musibah bukanlah hukuman, melainkan ujian yang mengandung hikmah dan pahala.
“Agama mengajarkan bahwa di balik setiap ujian selalu ada hadiah. Semakin besar ujian, semakin besar pula pahala yang disiapkan Allah,” kata Nasaruddin, dikutip Minggu 21, Desember 2025.
Menteri mengingatkan agar musibah tidak dimaknai sebagai kutukan. Al-Qur’an dan hadis justru memberikan panduan agar umat menghadapi cobaan dengan kesabaran dan keimanan.
“Musibah bukan kutukan. Solusinya bukan keputusasaan, tetapi kembali kepada Allah. Kesabaran adalah kualitas iman tertinggi,” ujarnya.
Menag turut mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai kemuliaan orang-orang yang wafat atau diuji akibat musibah. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang sabar dan ikhlas.
“Jika manusia mengetahui hikmah di balik musibah, niscaya ia akan mensyukuri musibah itu sendiri. Allah tidak pernah memberi sesuatu yang buruk kepada hamba yang dicintai-Nya,” lanjut Menag.
Selain bantuan material, Menag juga menekankan pentingnya ikhtiar spiritual dalam menghadapi bencana, salah satunya dengan memperbanyak salat dan sujud sebagai bentuk kepasrahan kepada Tuhan.
“Semua persoalan dapat diselesaikan dengan sujud. Jangan memikul beban sendirian, serahkan kepada Allah,” ucapnya.
Menag memberikan motivasi kepada para santri agar tetap semangat menuntut ilmu meski berada dalam keterbatasan akibat bencana.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan khawatir dengan masa depan, Allah akan menggantinya dengan kebaikan yang jauh lebih besar,” pesannya.
Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi pesantren dan lembaga keagamaan yang terdampak bencana, baik melalui bantuan kemanusiaan maupun dukungan pemulihan berkelanjutan, sebagai bentuk kehadiran negara dalam merawat umat dan pendidikan keagamaan.
Korban Jiwa BertambahMenjadi 1.059 Orang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal bencana Sumatera per 18 Desember dari tiga provinsi terdampak mencapai 1.059 orang.
Jumlah korban jiwa akibat bencana Sumatera masih berpotensi meningkat. Sebab itu, BNPB mencatat terdapat 192 orang yang masih belum ditemukan atau hilang setelah tiga pekan lebih penanganan bencana Sumatera tersebut. BNPB juga melaporkan ada lebih dari 7 ribu jiwa mengalami luka-luka.
Korban jiwa paling banyak tercatat di Provinsi Aceh. Sebanyak 451 jiwa meninggal imbas banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah paling ujung utara nusantara tersebut. Sekitar 4,3 ribu orang di Provinsi Aceh juga mengalami luka-luka akibat bencana ekologis itu.
Di Provinsi Sumatera Utara, BNPB mencatat ada 364 korban meninggal. Sebanyak 2,3 ribu orang mengalami luka-luka. Sedangkan di Provinsi Sumatera Barat, jumlah korban jiwa sebanyak 244 orang dan 382 lainnya mengalami luka-luka.
Advertisement