Jadi Tugas Terakhir Kemenag, Ditjen PHU Luncurkan Buku “Haji Indonesia Era Kementerian Agama”
Penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025 menjadi tugas terakhir Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Kementerian Agama. Mulai tahun 2026, tanggung jawab pengelolaan haji Indonesia resmi beralih ke Kementerian Haji dan Umrah.
Sebagai bentuk dokumentasi dan memori kolektif penyelenggaraan haji selama 75 tahun, Ditjen PHU Kemenag meluncurkan buku berjudul “Haji Indonesia Era Kementerian Agama”. Buku ini diluncurkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama di Tangerang Selatan, Rabu 17 Desember 2025.
Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan langsung oleh Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, serta Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin. Momen tersebut sekaligus menjadi ajang pamitan Ditjen PHU atas berakhirnya mandat penyelenggaraan haji di bawah Kementerian Agama.
“Kami bersyukur haji terakhir sukses dilakukan Kemenag. Tahun depan, pelaksanaan haji akan diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Hilman Latief.
Haji 2025 Dinilai Paling Kompleks, Namun Sukses
Hilman Latief menyebutkan bahwa penyelenggaraan haji 2025 merupakan tantangan terberat Ditjen PHU Kemenag karena tingginya kompleksitas persoalan dan dinamika lapangan. Meski demikian, pelaksanaan haji dinilai berjalan sukses.
Bahkan, Pemerintah Arab Saudi menilai haji Indonesia 2025 sebagai salah satu penyelenggaraan terbaik sepanjang masa. Indeks kepuasan jemaah haji Indonesia juga tercatat meningkat dengan kategori sangat memuaskan.
Menurut Hilman, 75 tahun penyelenggaraan haji oleh Kementerian Agama bukanlah waktu yang singkat. Ia mengingat pesan Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama agar Kemenag tetap berperan ke depan melalui penyusunan dokumen penting sebagai memori kolektif umat Islam Indonesia.
“Hari ini kami persembahkan buku Haji Indonesia Era Kementerian Agama. Mudah-mudahan buku ini dapat sampai ke para rektor PTKIN, Kanwil Kemenag provinsi, dan para pemangku kepentingan sebagai pegangan dan memori kolektif Kemenag,” harapnya.
Buku Akademik Setebal 2.300 Halaman
Proses penyusunan buku “Haji Indonesia Era Kementerian Agama” dikoordinasikan oleh Sekretaris Ditjen PHU M Arfi Hatim bersama tim dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
M Arfi Hatim menjelaskan, buku setebal sekitar 2.300 halaman ini ditulis oleh Hilman Latief bersama tim dalam waktu relatif singkat setelah berakhirnya musim haji. Proses penyuntingan dan pengemasan buku dipercayakan kepada Hadi Rahman dan Oman Fathurahman, filolog terkemuka yang juga editor buku Naik Haji di Masa Silam.
“Ini boleh jadi merupakan buku paling tebal dan paling komprehensif tentang haji Indonesia,” ujar M Arfi Hatim.
Ia menambahkan, buku ini disusun berdasarkan sumber primer milik Kementerian Agama serta referensi akademik yang kredibel, sehingga memenuhi standar karya ilmiah.
Tiga Jilid, Satu Kesatuan Sejarah Haji Indonesia
Buku “Haji Indonesia Era Kementerian Agama” diterbitkan dalam tiga jilid.
Jilid I: Dari Masa ke Masa, memuat narasi kronologis penyelenggaraan haji Indonesia sejak 1950 hingga 2025.
Jilid II: Ekosistem dan Kebijakan, membahas kebijakan dan ekosistem haji secara tematik dan argumentatif selama 75 tahun.
Jilid III: Adaptasi dan Inovasi, mengulas perjalanan inovasi dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
“Tiga jilid buku ini memiliki sudut pandang yang berbeda, namun merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” pungkas M Arfi Hatim.
Advertisement