Jejak Literasi Islam Nusantara: Riwayat Penerbit Salim Nabhan Surabaya
Pada awal abad ke-20, dinamika intelektual Islam di Nusantara mengalami pergeseran signifikan. Munculnya kolaborasi antara percetakan lokal dengan percetakan Arab memicu gelombang baru dalam produksi Mushaf Al-Qur'an dan literatur keagamaan.
Di tengah arus tersebut, muncul nama-nama pionir seperti Maktabah Aceh Besar di Kutaraja dan Maktabah Mashriyah di Cirebon. Namun, di gerbang Timur Jawa, berdiri sebuah institusi yang kelak menjadi legenda: Toko Buku dan Penerbit Salim Nabhan.
Kisah ini bermula dari kedatangan Salim bin Sa’ad Nabhan, seorang imigran asal Arab yang ikut dalam gelombang eksodus ke Surabaya pada awal abad ke-20. Berbeda dengan rekan-rekan sebangsanya yang umumnya memilih berdagang kain atau properti, Salim memilih jalan sunyi literasi. Didirikan pada tahun 1908, toko ini tercatat sebagai toko kitab pertama di Indonesia.
Bertempat di mulut Jalan Panggung No. 148, Nyamplungan, kawasan Kampung Arab Surabaya, Salim mulai menjajakan kitab-kitab berbahasa Arab melalui penjaja kaki lima sebelum akhirnya menetap di bangunan kokoh yang hingga kini masih berdiri di antara deretan toko parfum dan kedai makan.
Seiring meningkatnya kebutuhan para santri dan ulama akan referensi agama yang sulit diakses saat itu, Salim bin Sa’ad melakukan langkah revolusioner dengan mendirikan penerbitan bernama Maktabah Salim ibn Sa’ad Nabhan Surabaya. Transformasi dari sekadar toko menjadi penerbit ini membawa dampak besar. Toko ini kemudian menjadi penyedia literatur klasik yang menjadi rujukan utama para santri pasca-nyantri di pondok untuk mendapatkan "kitab induk".
Sedangkan penerbitan Salim Nabhan fokus pada penerbitan kitab-kitab klasik yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, seperti kitab Aqidatul Awam. Selain itu mempunyai keunikan yaitu material yang berkualitas. Pada buku terbitannya Salim Nabhan sering kali menggunakan kertas Eropa untuk memastikan daya tahan kitab bagi para penuntut ilmu.
Penerbit Salim Nabhan bukan sekadar unit bisnis, melainkan pilar pendukung gerakan keilmuan Islam di Nusantara. Di masa revolusi, mereka berperan penting dalam menyediakan kertas untuk menyalin kitab-kitab keagamaan di tengah keterbatasan logistik. Lebih jauh lagi, pencantuman nama "Surabaya" dalam setiap terbitannya secara tidak langsung mempertegas identitas Surabaya sebagai pusat intelektual Islam di Jawa, bersanding dengan penerbit besar lainnya seperti Al-Hidayah, Ahmad Nabhan, dan Al-Haromai Hingga hari ini, meski beberapa sisi bangunannya mulai keropos dimakan usia, Toko Buku Salim Nabhan tetap bertahan dan dikelola oleh keturunannya. Ia menjadi saksi bisu bagaimana literasi keislaman di Nusantara bertumbuh, dari sekadar barang dagangan kaki lima menjadi fondasi keilmuan pesantren yang menjangkau seluruh pelosok negeri.
Terbitan Salim Nabhan mencakup berbagai bidang seperti Nahwu (tata bahasa), Shorof (morfologi), Tajwid, Fiqih, Tarikh (sejarah), hingga risalah-risalah praktis, dengan contohnya termasuk Al Amtsilah At Tashrifiyyah (Shorof), Hidayatus Shibyan (Tajwid), dan Risalah Haid. Diantara buku atau kitab terbitannya antara lain adalah Al Amtsilah At Tashrifiyyah (Shorof), Hidayatus Shibyan (Tajwid), Risalah Haid (Fiqih), Tarikhun Nabi (Sejarah Nabi) hingga Nahwu Wadhih (Nahwu)
Selain itu juga menerbitkan mushaf Mushaf Al-Qur’an tahun 1951. Muashaf ini ditashih oleh sebuah tim yang terdiri dari enam ulama Al-Qur’an. Berdasarkan lembar tashihnya dapat diketahui para pentashih Al-Qur’an tersebut yaitu Ustadz Ahmad Hasan Bangil, K.H. Muhammad Ihsan Jampes Kediri, K.H. Muhammad ‘Adlan Cukir Jombang, K.H. Abdullah bin Yasin Pasuruan, Ustadz Salim bin ‘Aqil Surabaya dan Ustadz Abdullah Jalal.
Penulis : Nurul Huda
(Dari berbagai sumber)
Advertisement