Materi Khutbah Jumat: Mengapa Niat Sangat Penting dalam Beribadah
Niat sangat penting dalam saat kita melaksanakan ibadah. Karena dengan inilah yang menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Selain itu niat juga menentukan sah atau tidaknya amalan. Dan tidak kalah penting niat menjadi penentu nilai pahala sebuah amal di sisi Allah SWT.
Niat dengan disertai keikhlasan karena Allah akan mengubah aktivitas biasa seperti bekerja atau makan menjadi ibadah. Sebaliknya niat yang salah dapat menghapus nilai ibadah, bahkan menjadikan hal sebelumnya halal menjadi haram. Niat inilah fondasi amal perbuatan dan menjadi sumber ketenangan hati.
Rasulullah SAW. sendiri telah bersabda dalam sebuah hadisnya. “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam beribadah atau melakukan kebaikan. Setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan.
Niat berasal dari bahasa arab yaitu an niyat yang merupakan bentuk jamak dari niyah. Niat menurut bahasa bermakna menyengaja, menuju (al-qashd). Sedang menurut istilah niat adalah kemauan hati untuk mengerjakan sesuatu dan bertekad melaksanakannya tanpa ragu-ragu. Imam Nawawi berpendapat bahwa niat merupakan al qoshdu atau berkeinginan dengan hati dan Allah SWT. bermaksud memberimu kebajikan.
Sedang Imam Al-Sayuthi mengatakan niat adalah keinginan yang ditujukan kepada suatu perbuatan dalam rangka memperoleh ridha Allah dan melaksanakan hukum-Nya. Selain itu menjelaskan bahwa dalam fikih, niat sangat penting dalam rangka membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Misalnya, niat akan dapat membedakan antara melaksanakan wudhu atau mandi junub.
Niat juga membedakan antara duduk istirahat di masjid dengan duduk i’tikaf. Niat membedakan antara zakat, sedekah dan hadiah atau sogok. Sebaliknya, niat tidak diperlukan jika suatu ibadah tidak samar perbedaannya dengan kebiasaan lain. Misalnya, membaca Alqur’an dan berdzikir tetap sah tanpa didahului niat.
Dalam tulisannya yang berjudul Fenomenologi Niat, Antara al-Ghazali dan al-Sayuthi, Mujiburrahman menyebut bahwa Imam Al Ghazali menyebut niat lebih utama daripada perbuatan. Hal ini karena niat adalah kerja batin. Bagi Imam Al Gazali batin lebih prinsipil daripada tindakan lahir. Perilaku lahiriah manusia, katanya, sangat dipengaruhi oleh kondisi batinnya.
Meskipun perilaku lahir dapat pula membuat hati terbiasa dengan suatu perbuatan. Al-Ghazālī tidak membedakan antara niat (niyyah), kehendak (iradah) dan maksud (qashd). Menurutnya, semua kata ini terkait dengan dua hal: pengetahuan (‘ilm) dan tindakan (‘amal). Kehendak akan muncul ketika ada pengetahuan terhadap sesuatu yang diinginkan. Ketika kehendak bangkit, maka ia bergerak menuju tindakan.
Namun tindakan tidak akan bisa terwujud tanpa kekuatan (qudrah). Dengan demikian, niat berada di tengah-tengah antara pengetahuan dan kekuatan dalam mewujudkan suatu perbuatan yang dipilih manusia (ikhtiar). Maka niat menurut al-Ghazālī adalah “kehendak dan bangkitnya jiwa karena keinginan dan kecenderungan pada sesuatu yang cocok dengan tujuan (yang ingin dicapai), baik duniawi atau ukhrawi.”
Selain itu niat juga mempunyai banyak fungsi. Salah satunya adalah membedakan ibadah dengan kebiasaan. Niat itu membedakan perbuatan sehari-hari. Contohnya adalah mandi pertama mandi biasa dengan ibadah seperti mandi junub. Niat mengubah aktivitas biasa menjadi bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Kemudian niat juga menjadi penentu keabsahan dan nilai amal. Satu-satunya yang membedakan dua orang yang sama-sama beramal adalah niatnya.
Selanjutnya niat menjadi pondasi ikhlas. Dalam hal ini niat adalah ruh ibadah. Tanpa niat yang lurus, maka amal ibadah dapat menjadi sia-sia. Selain itu niat juga mempengaruhi kadar pahala yaitu niat yang murni (ikhlas) akan melipatgandakan pahala, bahkan untuk amalan ringan. Sebaliknya, niat yang bercampur duniawi akan mengurangi pahala, meskipun amalnya besar. Terakhir niat menjadi sumber ketenangan dan pertolongan Allah. Sudahkah Anda melakukan niat yang benar dalam perbuatan hari ini?
Penulis: Nurul Huda
Advertisement