Financial Planner Desak Pemerintah Tutup Permanen Pinjol
Financial Planner Willy Filosofia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah tegas dengan menutup permanen layanan pinjaman online (pinjol), alih-alih hanya membatasi usia atau menerapkan verifikasi data bagi pengguna.
Penutupan total merupakan solusi paling efektif untuk melindungi generasi muda dari jerat utang dan kerusakan ekonomi pribadi.
“Kalau memang tujuannya melindungi generasi muda dan kelompok rentan, maka solusi paling rasional adalah menutup pinjol secara permanen. Banyak dari mereka tidak memahami konsekuensi jangka panjang dari utang digital,” ujar Willy melalui sambungan telepon, Kamis, 3 Juli 2025.
Ia menilai sistem pinjol yang terus dibiarkan berjalan membuka celah bagi pelaku usaha nakal dan oknum tidak bertanggung jawab. Karena itu, pengetatan aturan dinilai tidak cukup.
Willy menyarankan agar pemerintah memperkuat literasi keuangan dan memperluas akses ke lembaga keuangan legal seperti koperasi, kredit usaha rakyat (KUR), dan platform P2P lending berizin resmi. Menurutnya, skema pembiayaan tersebut jauh lebih aman sebagai alternatif pinjaman.
“Pinjol ini mirip dengan judi online. Keduanya tak memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat, justru menyebabkan kerusakan ekonomi. Jadi bukan sekadar diawasi, tapi harus diberantas,” tegasnya.
Ia juga menepis kekhawatiran soal dampak penutupan pinjol terhadap ekonomi, karena yang merugi hanya segelintir pengusaha yang meraup untung dari praktik 'menjual uang'.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, mayoritas pengguna pinjol berada pada rentang usia 19–34 tahun. Sebagian besar memanfaatkan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, sehingga memicu kekhawatiran akan potensi krisis keuangan pribadi yang dapat menyebar secara sistemik.
Meski pemerintah saat ini masih fokus pada pengawasan dan literasi digital, desakan untuk menutup total layanan pinjol terus menguat dari berbagai pihak, termasuk akademisi, tokoh masyarakat, dan korban pinjol sendiri.
Advertisement