Film AIN Hadirkan Horor Tubuh dan Kritik Fenomena Flexing di Media Sosial
Satu lagi muncul film horor yang tayang dalam bulan mei ini. Film bioskop berjudul AIN mengusung genre body horor yang menyoroti dampak negatif iri hati dan budaya pamer dalam media sosial. Kisah dalam film ini mengikuti perjalanan seorang influencer yang mengalami perubahan fisik ekstrem akibat penyakit ain. Kondisi tersebut muncul karena tatapan iri atau dengki.
Film AIN telah tayang dari 7 Mei 2026 dengan menampilkan deretan aktor berbakat. Pemeran utama Joy Putri yang dimainkan Brittany Fergie. Sedangkan karakter Putru Ayudya memainkan karakter Dini Haryanti. Selain itu juga aktor Ajil Ditto turut memperkuat memperkuat dinamika cerita.
Kisah film ini adalah tentang Joy seorang beauty influencer. Ia suka memamerkan kemewahan dan kecantikannya dengan mengunggah gaya hidup glamornya di media sosial. Temannya, Dini, mengingatkan agar Joy menghentikan kebiasaan tersebut. Namun Joy tetap mengabaikannya. Hingg akhirnya konflik berkembang saat tubuh Joy mulai mengalami kerusakan mengerikan akibat penyakit ain yang berasal dari pandangan penuh kecemburuan. Film produksi MVP Pictures ini disutradarai Archie Hekagery. Dengan pendekatan fenomena sosial modern, film ini menawarkan pengalaman horor tanpa kehadiran hantu secara visual. Kengerian dalam cerita hadir melalui suasana mencekam dan perubahan tubuh yang tampak nyata.
Tema Ain
Tema penyakit ain menjadi pusat narasi film ini. Penyakit muncul akibat tatapan iri, dengki, atau kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah. Selain itu juga berkaitan dengan tren flexing yang semakin sering terlihat pada selebriti dan influencer di media sosial.
Menurut Archie Hekagery, ide film ini muncul karena kegelisahan terhadap budaya pamer di dunia digital. Tanpa membutuhkan riset panjang karena konsep ain sudah populer dan menjadi kepercayaan masyarakat Indonesias. Maka proses pengembangan cerita berlangsung lebih lancar.
“Film ini kami buat karena relate dengan kondisi sekarang, di mana banyak orang suka flexing di media sosial dan kemudian mengalami gangguan seperti autoimun tanpa menyadari kemungkinan adanya ain. Film ini sangat nyata dan sangat real, bukan fiksi. Kalau mencari tentang penyakit ain, akan banyak pengakuan dari orang-orang yang sudah mengalaminya,” ujarnya.
Sementara Brittany Fergie juga menyampaikan pandangannya tentang film ini. Fergie merasa memiliki kedekatan personal dengan tema yang diangkat karena pernah mendengar banyak cerita serupa dari lingkungan sekitarnya. “Aku sangat percaya karena mendengar cerita dari teman-teman dan lingkungan sekitarku. Film ini menjadi tantangan, baik dari sisi teknis maupun cerita. Ini juga membuka wawasan bahwa masih banyak orang yang belum aware dengan penyakit ain,” ungkap Brittany.
Pendekatan film ini yang lebih mengandalkan suasana, emosi, dan pengalaman visual membuat ceritanya terasa lebih nyata. Kengerian tidak muncul dari sosok hantu, tetapi dari perubahan tubuh yang dialami Joy dan tekanan psikologis yang menyertainya. Hal ini menjadikan film AIN berbeda dari banyak film horor lainnya.
Film AIN dalam industri film Indonesia kembali menunjukkan keberanian untuk mengeksplorasi tema horor yang lebih psikologis dan relevan dengan realita sosial masa kini. Kehadiran aktor-aktor kuat dan cerita yang dekat dengan kehidupan modern menjadikan film ini salah satu judul yang layak dinantikan.
Penulis: Nurul Huda