Diperlukan Rasa Cinta untuk Mengolah Tembakau Besuki

Feature

Sabtu, 22 Oktober 2022 08:00 WIB

Semerbak aroma tembakau kering, tercium di gudang pengolahan milik PTPN X di Ajung, Jember. Bau daun tembakau beda dengan bau asap rokok,  yang bagi sebagian orang menyesakkan dada. Tembakau adalah herbal. Apalagi tembakaunya dari jenis Besuki-Oostg, yang ditanam khusus untuk produksi cerutu, bukan untuk rokok. Aroma tembakau kering semerbak di beberapa gudang yang berada dalam satu halaman dengan kantor Kebun Ajung, di tepi jalan besar yang menghubungkan Ajung dengan Kota Jember.

Di gudang-gudang kokoh bangunan kuno inilah daun tembakau diolah, setelah sebelumnya melalui proses selama 104 hari, sejak pembibitan hingga berupa romposan. Empat puluh hari diperlukan untuk pembibitan, 42 hari saat penanaman dan terakhir 22 hari ketika dikeringkan di gudang-gudang pengeringan yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Ajung dan Jenggawah, hingga menjadi romposan dan masuk ke gudang pengolahan ini.

Ratusan pekerja perempuan sudah menunggu untuk mengolah romposan yang datang. Romposan adalah daun tembakau yang dianggap sudah kering setelah melalui proses selama 22 hari di gudang pengeringan. Penampilan para pekerja perempuan di gudang pengolahan ini bertolak belakang dengan para perempuan yang bekerja di sawah maupun di gudang pengeringan. Semuanya berseragam warna krem, pakai celemek, masker, dan kepala mereka ditutup dengan selembar kain sewarna, hampir semuanya bersolek, dan sebagian besar masih muda.

Sementara di sawah, para pekerja perempuan nampak lebih kuat. Apalagi mereka memakai booth karet,  dengan pakaian rangkap berlapis-lapis. Ada percikan tanah menempel di sana-sini, termasuk menempel di wajah bercampur dengan keringat. Baik yang bersolek maupun yang berpupur tanah, sama-sama dianggap sebagai pahlawan oleh PTPN X. Jenis pekerjaan dan keterampilan mereka berbeda, tapi sama-sama diperlukan karena sama-sama menjadi bagian dalam satu proses produksi tembakau Besuki, dari mulai pembibitan hingga menjadi produk berupa wrapper, binder maupun filler. Wrapper adalah lembar tembakau pembalut cerutu, binder untuk pembungkus cerutu filler untuk isi cerutu.   

Romposan

Di gudang-gudang berdinding warna putih di Ajung ini, daun tembakau yang sudah kering ini diolah dengan melakukan sortasi kemudian fermentasi, disortir lagi kemudian difermentasi lagi sampai empat kali, hingga akhirnya terpilah mana daun tembakau yang masuk kategori wrapper, mana katagori binder dan mana masuk filler. Proses pengolahan dilakukan selama 60 hari, dengan urut-urutan yang sudah terjadwal. Proses yang detail dan rumit ini berlangsung dari tahun ke tahun, tidak pernah berubah, dari jaman kolonial hingga hari ini.

Di gudang pengolahan ini, kiriman tembakau dari gudang pengeringan masih berupa romposan. Pertama kali yang dilakukan terhadap romposan adalah sortasi, atau sortir, yaitu dipilih mana daun tembakau yang bagus dan mana yang rusak. Daun yang rusak dicabut dari untingan dan disisihkan, sedang daun yang masih lembab dipilah untuk kembali dikeringkan beberapa hari. Tingkat kelembaban tertentu diperlukan agar pada daun tidak muncul bercak-bercak jamur saat dilakukan fermentasi.

Fermentasi adalah pekerjaan sederhana, tumpukan daun dibiarkan begitu saja di dalam gudang dengan cahaya dan suhu tertentu. Gampang dan sederhana, nampaknya, tetapi fermentasi ini adalah tahapan yang paling kritis pada proses pengolahan tembakau. Karena kesalahan sedikit saja dapat menurunkan kualitas tembakau.

Pada pekerjaan sortiran tadi, daun yang sudah dianggap bagus dan memenuhi syarat, ditumpuk kemudian oleh pekerja yang lain dipilah-pilah lagi berdasarkan usia; tua, terlalu tua dan menjelang tua. Proses ini disebut saring rompos, atau sarpos. Ini proses pertama yang dilakukan ketika tembakau berada di gudang pengolahan.

Gudang pengolahan tempat dilakukan sortiran ini keadaannya terang benderang, penuh dengan meja-meja dan tempat duduk untuk para pekerja melakukan penyortiran. Pekerjaan juga dilakukan oleh para perempuan, dengan pakaian seragam, dalam tingkat kebersihan yang optimal. Cahaya di dalam gudang kuno dan luas terang benderang, dipenuhi dengan lampu-lampu TL atau neon panjang, yang khusus diimpor untuk melakukan penyortiran tembakau.

“Lampunya merk Philips, harganya satu biji Rp 750 ribu. Dengan lampu ini penyortiran terhadap tembakau bisa dilakukan secara optimal. Lampu khusus ini tidak menimbulkan bayangan, sehingga para pekerja bisa melihat warna tembakau secara natural. Lampu-lampu ini kita datangkan langsung dari Belanda, karena di dalam negeri tidak ada,” kata Subandi, Manager Pengolahan di Kebun Ajung, Jember.

Para perempuan pegawai PTPN X sedang bekerja memilah-milah daun tembakau, di bawah sinar lampu yang khusus diimpor dari Belanda,  di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.Id/M. Anis)
Para perempuan pegawai PTPN X sedang bekerja memilah-milah daun tembakau, di bawah sinar lampu yang khusus diimpor dari Belanda, di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.Id/M. Anis)

Big Data

Hasil sortiran berdasarkan usia tembakau kemudian dipilah, diikat setiap 40 lembar untuk kriteria yang sama. Proses mengikat ini dikenal dengan sebutan diunting. Untuk mengunting digunakan tali berwarna, dipakai untuk mengikat daun tembakau sesuai dengan kriterianya. Daun tembakau yang masuk katagori  tua, diunting dengan tali dari pelepah batang pisang yang berwarna coklat. Daun tembakau yang masuk katagori terlalu tua diunting dengan tali rafia warna kuning, sedang daun yang masuk katagori menjelang tua diunting dengan tali rafia warna hijau.

Selesai saring rompos atau sarpos, daun-daun tembakau itu dibawa ke gudang di sebelahnya yang luas dan terbuka, tanpa meja untuk bekerja, dengan cahaya yang temaram bahkan cenderung gelap. Cahaya hanya masuk dari jendela kaca berlapis pada sisi dinding yang menghadap ke jalan raya. Inilah gudang tempat dilakukan fermentasi terhadap tembakau. 

Seorang perempuan pegawai PTPN X sedang mengatur dan menumpuk daun tembakau untuk dilakukan fermentasi,  di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.Id/M. Anis)
Seorang perempuan pegawai PTPN X sedang mengatur dan menumpuk daun tembakau untuk dilakukan fermentasi, di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.Id/M. Anis)

Fregmentasi daun tembakau dilakukan dengan cara menumpuknya rapi di atas papan besar atau panel disebut juga sebagai stapel ukuran 3 X 3 meter. Kalau tinggi tumpukan sudah 1, 5 meter, bagian atasnya kemudian ditutup dengan terpal plastik warna biru. Dengan cahaya gudang dan temperatur yang bisa dikendalikan, daun-daun tembakau itu mengalami fregmentasi tahap awal. Cahaya lampu diatur, demikian juga angin yang masuk melalui fentilasi gudang. Itu pun masih diperkuat dengan penggunaan thermo hydrometer untuk mengatur suhu di dalam gudang.

Tiga hari kemudian, tumpukan itu dibongkar. Pekerjaan membongkar tumpukan harus dilakukan dengan hati-hati, karena daun tembakau kering mudah sekali sobek, apalagi kondisinya sudah sangat tipis. Tembakau yang tadinya berada di bagian dalam tumpukan, dipindahkan ke bagian luar. Sebaliknya tumpukan yang tadinya berada di pinggir, dipindah ke bagian dalam tumpukan dalam. Dengan demikian daun-daun itu akan memperoleh cahaya dan udara yang sama selama dilakukan fermentasi.  

Di gudang fermentasi yang sangat luas ini, pekerjaan yang dilakukan para perempuan ini sama, yaitu  menumpuk daun-daun tembakau untuk difermentasi. Seakan-akan pekerjaan para perempuan itu sama, yaitu hanya menumpuk, membongkar dan menumpuk daun tembakau lagi, karena memang daun romposan tiap hari masuk ke gudang, terutama selesai panenan seperti saat ini.

“Saya sudah bekerja selama enam tahun di sini, menggantikan ibu saya yang pensiun karena sudah tua. Ibu saya bekerja di sini lebih dari dua puluh tahun, pekerjaannya sama dengan saya, mengatur dan membongkar tembakau di dalam gudang,” kata Wahyuni, salah satu dari perempuan yang bekerja di gudang pengolahan di Ajung.

Seorang staf PTPN X sedang mencatat dan mengumpulkan data tentang tembakau yang masuk dari para pekerja, di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.Id/M. Anis)
Seorang staf PTPN X sedang mencatat dan mengumpulkan data tentang tembakau yang masuk dari para pekerja, di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.Id/M. Anis)

Setiap kali dia selesai mengerjakan tugasnya menumpuk atau membongkar tembakau di dalam gudang, Wahyuni segera mengambil secarik kertas dan ballpoint yang memang sudah dipersiapkan untuk menuliskan sesuatu. Demikian juga yang dilakukan pekerja-pekerja lain di tumpukan berbeda yang ada di gudang.

Di setiap tumpukan daun tembakau di atas stapel, memang selalu disertakan secarik kertas penuh data. Dari catatan yang ditulis di kertas itu bisa diketahui tembakau ini berasal dari kebun mana, kapan dipetik, dikeringkan di gudang pengeringan mana, kapan masuk ke gudang pengolahan, kapan mulai ditumpuk untuk difermentasi, kapan dibongkar, semua ada datanya, lengkap. Setiap pergerakan daun tembakau ada datanya, dari hari ke hari, dan dari musim ke musim, tersimpan rapi pada big data.

 Bir-biran

Fregmentasi dilakukan hingga empat tahap, masing-masing tahap membutuhkan waktu 7 hari, tahap berikutnya 7 hari, tahap ketiga 12 hari dan tahap keempat membutuhkan waktu 12. Untuk fregmentasi saja  dibutuhkan waktu sekitar 38 hari.

Setelah fermentasi, tumpukan tembakau dibongkar kemudian dipindahkan lagi ke gudang di sebelahnya yang terang benderang dan dilengkapi meja dan tempat duduk, untuk dilakukan bir-biran, kemudian dilanjutkan dengan penyortiran.

Bir-biran adalah istilah yang hanya ada di gudang pengolahan, maksudnya setiap lembar daun dibuka oleh dua orang perempuan yang duduk berhadap-hadapan. Setiap lembar daun tembakau dibuka bersama oleh dua orang itu, untuk membuka lipatan maupun tekukan yang pasti ada pada setiap daun setelah mengalami proses sedemikian panjang. Setelah dilakukan bir-biran, maka  kondisi daun jadi benar-benar sempurna, tak ada lagi lipatan sekecil apa pun di permukaannya, terutama pada tepinya.

Warna daun tembakau, sangat penting sebagai kriteria untuk menentukan kualitas tembakau. Semua daun tembakau yang masuk gudang sortasi memang berwarna coklat, tetapi hanya mata yang berpengalamanlah yang mampu membedakan mana warna yang masuk kriteria bagus, dan mana yang warnanya masuk kriteria di bawahnya.

Hasil sortiran berdasarkan warna, kemudian dikumpulkan sebanyak 40 lembar, lantas diunting atau diikat. Tali yang digunakan untuk mengikat  ditentukan berdasarkan kriteria warna tembakau hasil sortiran. Daun tembakau yang masuk katagori  tua diunting dengan tali dari pelepah batang pisang yang berwarna coklat. Daun tembakau masuk kategori terlalu tua diunting dengan tali rafia warna kuning, sedang daun yang menjelang tua diunting dengan tali rafia warna hijau. Setiap unting berisi 40 lembar daun tembakau. Hasil sortiran yang sudah diunting inilah yang menjadi produk akhir dari pengolahan.

Sebelum dilakukan penyortiran warna, terlebih dahulu melalui penyortiran ukuran. Ukuran bagus diberi kode Ukur 1, yang panjang daun antara 40–47 cm. Kalau panjang daun antara 47-50 cm diberi kode Ukur 1 plus, lebih panjang dari 50cm kode Ukur 1 Plus S. Di bawah Ukur 1  adalah Ukur 2, panjang daun antara 36–40cm, di bawahnya Ukur 3 Plus dengan panjang daun antara 33–36cm. Sedang yang paling rendah adalah Ukur 3 dengan panjang daun 30 – 33cm.

“Setiap tembakau akan dipisahkan berdasarkan kode ukur. Pada packing akan dicantumkan juga kode ukur, sehingga kami, dan pembeli, langsung akan tahu ukuran berapa tembakau yang ada di setiap box packing itu, “ jelas Subandi, Manager Pengolahan di Kebun Ajung.

Subandi, Manajer Pengolahan Kebun Ajung, sedang memeriksa aroma  daun tembakau, di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.id/M. Anis)
Subandi, Manajer Pengolahan Kebun Ajung, sedang memeriksa aroma daun tembakau, di gudang pengolahan yang berada di Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Ngopibareng.id/M. Anis)

 Rasa Cinta

Amat jauh dan panjang perjalanan daun tembakau dari mulai berbentuk pilen yang ditanam sebagai benih, hingga menjadi produk yang sudah di-packing. Sedikitnya diperlukan waktu selama 142 hari sejak pembibitan hingga fermentasi di gudang pengolahan. Belum termasuk beberapa hari yang diperlukan untuk pengolahan yang dilakukan di sela-sela tahap fermentasi.

Seluruh tahapan itu harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan dengan penuh perhatian oleh para pekerja. Hal itu juga telah dilakukan oleh para pendahulu, yaitu mereka yang  dahulu juga bekerja pada empat perusahaan swasta milik Belanda masing-masing NV. Landbouw Maatchappij Oud Djember,  NV. Besoekische Tabaks Maatchappij, NV.  Cultuur Maatchappij Djelboek serta NV Landbouw Maatchappij, sebelum empat perusahaan Belanda itu dinasionalisasi oleh pemerintah RI pada tahun 1957.

Menurut Dwi Aprilia Sandi, GM Kebun Ajung, bekerja di produksi tembakau Na-Osgst ini sangat beda dengan bekerja di tempat lain, meskipun sama-sama  memproduksi tembakau. Apalagi dengan pekerjaan di sektor lain. “Para pekerja tidak saja harus bekerja dengan keterampilan tangan, tetapi juga harus dengan perasaan. Keterampilan saja tidak cukup, masih harus dilengkapi dengan rasa cinta. Tanpa kombinasi keterampilan dan rasa itu, tidak mungkin bisa diperoleh produk tembakau yang berkualitas. Pada semua tahapan, dari mulai pembibitan hingga fermentasi, diperlukan pekerja-pekerja yang terampil dan memiliki rasa cinta pada setiap lembar daun tembakau yang disentuhnya,” kata Sandi, panggilan akrabnya.

Suatu saat, mungkin saja produksi tembakau Na-Oogst  atau Tembakau Besuki ini juga akan mendapatkan sentuhan perkembangan teknologi. Mungkin saja. Tetapi untuk satu atau bahkan untuk dua dekade mendatang, teknologi belum diperlukan, kecuali untuk administrasi dan manajemen. Memang teknologi bisa diterapkan untuk meningkatkan keterampilan dalam pengolahan, tetapi teknologi sama sekali tidak memiliki rasa cinta. Padahal rasa itulah yang paling diperlukan dalam memproduksi dan mengolah tembakau Na-Osgst. (M. Anis/bersambung)

Tim Editor

M. Anis

Reporter & Editor

Berita Terkait

Sabtu, 21 Januari 2023 11:06

Pasar Bandeng Imlek Rawa Belong, Peminatnya Orang Betawi

Selasa, 17 Januari 2023 14:08

Sudah Sejak 1987 Bangun Asmoro Melukis di Lilin

Rabu, 11 Januari 2023 14:18

Ritual Manten Tebu PG Modjopanggoong, Harmoni Budaya dan Industri

Rabu, 11 Januari 2023 12:31

Siasat Pabrik Gula Modjopanggoong Bertahan di Tengah Persaingan

Bagikan Berita :