Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)

Surabaya Istimewa

Arif Afandi 13 July 2020 09:21 WIB

Kasus Covid-19 di Surabaya sudah sangat serius. Sampai Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berkantor di sini. Sejak Minggu, 13 Juli 2020.

Berapa kasusnya? Saya nggak mengikuti update angka-angka kasus Covid-19. Baik secara nasional maupun daerah. Bosan dan kurang bermakna.
Tapi bahwa kasus Covid-19 di Surabaya masih tinggi, saya dapat laporan banyak dari kawan dokter. Baik yang di RS pemerintah maupun swasta. Kebetulan saya juga mengelola rumah sakit: RS Mata Undaan.

Bisa disebut, kasus Surabaya tak pernah melandai. Sejak kasus pertama ditemukan. Terus tinggi. Seperti nyanyian anak: terbang...tinggi...tinggi sekali.

Sayang ini bukan soal burung yang terbang. Juga bukan soal cita-cita. Tapi tentang angka pertumbuhan kasus Covid-19. Termasuk angka kematian yang diakibatkannya.

Warga Surabaya juga sudah tak peduli. Buktinya jalan-jalan setiap hari sudah ramai. Sudah macet seperti biasanya. Rumah makan dan coffee shop juga sudah banyak pengunjungnya.

Seberapa ramai mal? Saya belum pernah ke pusat perbelanjaan. Tapi menerima sambatannya kawan-kawan pengelola mall. "Wah sepi...," kata Bos Group Ciputra Surabaya Sutoto Yacobus.

Hotel juga sudah mulai ada tamu. Bahkan ada yang gelar party ulang tahun.

Kok tahu? Saya terpaksa menerima sejumlah tamu di hotel. Karena kantor Ngopibareng.id sedang pindahan dari Gayungsari ke Tenggilis. Belakang Hotel Luminor Jalan Raya Jemursari.

Apa pun tingginya kasus Covid di Surabaya, warga memang sudah cuek. Tak peduli lagi. Hanya mereka lebih hati-hati. Bermasker saat keluar rumah.

Momentum untuk mendisiplinkan warga kembali sudah berlalu. Hanya bisa menyerahkan ke pribadi masing-masing. Sambil terus menasehati lebih berhati-hati.

Menerapkan PSBB kembali? Ah...sudah sulit. Pasti warga tak menginginkan. Sudah pernah di Surabaya Raya sampai 3 jilid. Yang hasilnya seperti sekarang.

Tapi, kalau pun ada yang bisa diperbuat pemerintah tinggal menyiapkan fasilitas kesehatan lebih banyak lagi. Biar kalau ada kasus serius bisa mengatasi. Bukan dibiarkan mati.

Tambah ventilator. Alat bantu pernapasan. Tidak hanya di RS milik propinsi. Tapi juga milik pemerintah kota dan kabupaten di Surabaya Raya.

Pasok APD sebanyak-banyakny ke rumah sakit. Untuk melindungi para dokter dan tenaga medis. Biar tidak makin tambah yang mati karena Covid-19.

Wis, bukan saatnya lagi tampil sendiri sebagai pahlawan yang bisa mengatasi Covid-19. Ajak semua stake holder bersama-sama. Mensosialisasikan tatanan hidup baru dalam pandemi.

Kerahkan semua aparat untuk bergerak bareng. Di semua kelurahan, RW dan RT. Agar warga berdisiplin dengan protokol kesehatan.

Beri stimulus semestinya. Sebagai pancingan untuk bergerak. Beri insentif. Meski itu hanya dalam bentuk pujian. Ojok mung diseneni (jangan hanya dimarahi).

Rasanya Surabaya kini memang telah menjadi istimewa. Cara penanganan Covidnya. Juga penambahan kasusnya. Termasuk ribut antarpemimpinnya.

Keistimewaan Surabaya tidak hanya bisa diatasi dengan kegiatan yang biasa-biasa saja. Harus juga dengan langkah yang istimewa.

Misalnya, mengubah strategi penanganan Covid-19. Dengan memberdayakan semua komponen masyarakat Surabaya. Melalui gerakan bersama.

Pendekatannya bukan kepada "pemaksaan" tapi "penyadaran". Menyadarkan warga bahwa ini adalah persoalan kita bersama. Bukan hanya masalah pemerintah saja.

Hanya saja, karakter warga Surabaya itu sangat istimewa. Egaliter. Asal tak hanya menjadi alat. Semua harus menjadi pahlawan.

Seperti ketika arek Surabaya melawan tentara Sekutu. Yang ingin kembali menjajah Indonesia. Tak ada yang mengklaim pahlawan dari gerakan rakyat itu.

Mereka berhasil mengusir tentara sekutu dalam strata yang sama. Para kiai memberi fatwa untuk para santri, warga lainnya nggak mau dijajah lagi, para pengusaha menopang logistiknya.

Bung Tomo hanya mengomando karena saat itu sedang menjadi penyiar radio. Dengan bahasa rakyat. Bukan perintah, apalagi marah-marah.

Hasilnya? Gerakan rakyat itu menyelamatkan Indonesia dari penjajahan kembali. Sampai kemudian pertempuran rakyat itu dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Surabaya memang istimewa. Perang melawan Covid-19 hanya akan bisa sukses jika semua warga menjadi pahlawannya. Bukan hanya dimonopoli oleh seseorang.

Maka hanya kolaborasi resep mengatasinya.

Rengkuh hatinya warga. Pasti bergerak semua. Tidak perlu Pak Terawan berkantor di Surabaya.

Penulis : Arif Afandi

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Aug 2020 20:35 WIB

Camat Tambaksari Manfaatkan Pendopo Kantor untuk Sekolah Daring

Surabaya

Fasilitas wifi untuk warga yang mengaku kesulitan saat sekolah daring.

06 Aug 2020 20:24 WIB

Mesum di Taman, Guru TK Digerebek Satpol PP

Jawa Timur

Kasus mesum ini terkuak atas laporan warga.

06 Aug 2020 20:10 WIB

Polresta Malang Fokus Pendisiplinan Masker Selama 2 Minggu

Jawa Timur

Disiplin masker untuk cegah penularan Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...