Sumenep Diguncang Lindu Tektonik 5 Skala Richter

02 Apr 2019 09:27 Jawa Timur

Gempa bumi (Lindu) tektonik dengan magnitudo 5,0 melanda daerah Sumenep di Jawa Timur, Selasa, pukul 08.22 WIB menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

BMKG kemudian memperbarui informasi awal mengenai gempa tersebut, menyatakan gempa yang berpusat di laut pada kedalaman lima kilometer di koordinat 7,22 LS dan 114,56 BT, 83 kilometer arah tenggara Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, tersebut magnitudonya 4,9.

"Tapi kami di sini tidak merasakan adanya gempa. Kalau famili saya di Sepudi, tadi memang mengabarkan sempat ada guncangan, tapi sebentar," kata warga Pulau Poteran, Sumenep, Ahmad Sholeh.

Pulau Poteran merupakan salah satu pulau terdekat dengan daratan di sisi selatan Kabupaten Sumenep.

Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Pamekasan menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal yang diperkirakan akibat aktivitas sesar aktif.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar naik," kata Triyono.

Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di Pulau Sapudi dengan intensitas III-IV MMI, Situbondo dengan intensitas II-III MMI, serta Banyuwangi, Denpasar dan Singaraja dengan intensitas II MMI.

Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami.

Sementara itu, hingga pukul 08.46 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa sudah terjadi dua kali gempa susulan dengan magnitudo 3,0 dan 3,6 setelah gempa pertama.

Humas Forum Koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Madura di Pamekasan Budi Cahyono meminta warga tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Jika terkait dengan gempa bumi, kami minta masyarakat hendaknya mengacu kepada situs resmi BMKG atau rilis yang disampaikan masing-masing BPBD," kata Budi. (ant)

Reporter/Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini