Sandera Kursi Menghantui Pak Jokowi

19 Jul 2019 09:44 Ajar Edi

Pak Joko Widodo (Jokowi) memang ahli mebel masyur. Serutannya lembut. Tak heran semua berebut membeli karyanya.

Namun, kelihaiannya menyerut kayu terhenti. Saat dia terpilih jadi Walikota Solo, pada 2005. Sejak itu, praktis tangannya tak memegang ketam lagi.

Tapi jangan salah, bukan berarti kursi darinya tak lagi dinanti. Menjelang Oktober ini, malah sebaliknya. Ramai orang antre.

“Saya belum dipanggil ke Istana,” ungkap mantan anggota kabinet periode lalu kepada temannya. Dia berharap diberi kepercayaan lagi. Diberi kursi. Dipilih jadi menteri.

Memang, dalam senyap atau terang banyak yang meminta. Atau berebut secara terbuka. Misalnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Nahdlatul Ulama (NU) yang lantang bersuara.

“Moga-moga yang jadi menteri minimal 10 menteri dari PKB,” ucap Cak Muhaimin Iskandar, Ketum PKB itu. Lontaran itu dihembuskan di acara buka puasa di Rumah Dinas Wakil Ketua MPR pada 19 Mei lalu. Bahkan, target ini terus digoreng oleh anak buah keponakan Gus Dur itu. 

Salah satunya, Ketua DPP PKB Pak Jazilul Fawaid. Sepertinya, politik, sudah dihitung bak dagang. “Kalau sama-sama saja, ibarat usaha masih rugi. Tapi kalau berkurang, itu celaka," katanya di gedung DPR, Rabu 17 Juli  ke media.

Nada seirama juga muncul dari NU. Sebelumnya, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), usul serupa. Alasannya klasik, kontribusi tokoh dan warga NU jadi faktor kemenangan Pak Jokowi dan Pak Kiai. 

Rais 'Aam PBNU, Pak Miftachul Akhyar mengaku PBNU telah menyiapkan kader terbaik sebagai menteri. "Kalau siap, sejak dulu siap," jelas Miftachul pada Minggu, 23 Juni 2019 kepada wartawan.

Permintaan PKB dan PBNU ini, jelas, bak sandera kepada Pak Jokowi. Rumor yang beredar, NU meminta jatah kursi Menteri Agama. Bahkan, sudah menyodorkan nama sang ketua umum, KH Said Aqiel Siradj.

Tentu banyak juga yang gerah. Ada dari kalangan kubu nasionalis yang ingin menutup sandera ini. Mencari alternatif nama lain. Agar posisi kuasa seimbang.

Namun, dari kalangan NU lainnya ada juga yang berpendapat lain. Putri Gus Dur, Mbak Yenny Wahid salah satunya. Dia meminta kepada petinggi PBNU untuk menyerahkan pembagian kursi menteri kepada Pak Jokowi. 

Permintaan PKB dan PBNU ini, jelas, bak sandera kepada Pak Jokowi. Rumor yang beredar, NU meminta jatah kursi Menteri Agama. Bahkan, sudah menyodorkan nama sang ketua umum, KH Said Aqiel Siradj.

“Tak tepat jika meminta jatah di kabinet mendatang,” tegasnya kepada wartawan. Sikap itu disampaikannya usai mengikuti peringatan HUT Bhayangkara ke-73 di kawasan Monas, Rabu 10 Juli lalu. Di benaknya, peran sinergi dengan pemerintah yang lebih pas dijalankan.

Suara Mbak Yenny, didukung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Sholahudin Wahid. Gus Sholah meminta NU kembali ke khittah atau asalnya. Menjadi bagian dari masyarakat sipil.

"Saya pikir organisasi NU terlalu jauh masuk dalam kegiatan politik. Bahkan meminta jatah menteri, kalau mau begitu jadi partai saja," kata Gus Sholah kepada wartawan di Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu 17 Juli 2019.

Tapi, kursi menteri memang mengiurkan. Bikin ramai. Rumor banyak beredar. 

Konon, PDI Perjuangan, sang pemenang Pemilu 2019, juga tak mau ketinggalan. Sudah menyorongkan permintaan untuk lima kursi menteri. Dari posisi Menteri Dalam Negeri, Menteri BUMN, Menteri Desa, Jaksa Agung, dan Sekretaris Kabinet. 

Lima menteri ini adalah posisi kunci. Kementerian dengan dana yang besar. Juga punya tangan sampai ke daerah, pas saling melengkapi. 

Misalnya, pengucuran dana desa, diperkuat dukungan Kementerian Dalam Negeri, lantas dijaga oleh Kejaksaan. Semua program partai bisa sampai ke akar rumput. Dan dieksekusi dengan sempurna.

Dipastikan, jika PDI P mendapatkan kelimanya, mereka jadi pemenang Pemilu 2024. Partai lainnya, hanya gigit jari. Setidaknya, jadi pengembira saja.

Kursi menteri memang mengiurkan. Bikin ramai. Rumor banyak beredar.

Partai politik, kini sudah menghitung persiapan untuk calon presiden. Saat Pak Jokowi turun, semua dalam posisi start yang sama. Tak heran, beberapa lembaga survey, sudah merilis para kandidat calon presiden. 

Nama mereka melintas dari berbagai profesi. Baik dari para Kepala Daerah di Jawa. Lantas, para politisi berdarah biru. Para profesional hingga para jenderal dari Polisi dan TNI.

Kembali keurusan kursi menteri. Peristiwa terkini adalah viralnya susunan menteri. Buru-buru, Kementerian Kominfo sudah melabelinya dengan hoax, alias palsu. 

"Yang tahu isi kabinet itu siapa, ya Pak Jokowi, itu saja. Jadi nalar kita saja dulu, kalau bukan Pak Jokowi yang umumkan, itu berarti tidak benar," terang Pak Menteri Rudiantara kepada wartawan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu, 17 Juli 2019.

Sayangnya, nama Pak Menteri Rudiantara tidak ada di list yang viral itu. Posisinya, digantikan oleh Angel Herlina Tanoesoedibjo. Putri dari konglomerat media, Hary Tanoesoedibjo.

Bisa jadi, bagi yang namanya ada di list itu, mereka berharap itu benar. Tinggal menunggu dipanggil ke istana. Namun, bagi yang namanya tidak ada, tentu berseru, itu palsu.

Ajar Edi, kolumnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Arif Afandi


Bagikan artikel ini