Ngopi Aja Kok Repot, Pokok Bau Kopi Sikattt! 

08 Apr 2019 10:30 Ngaji Kopi

Urusan menyeruput kopi sebenarnya tak sesimpel yang dibilang orang. Mengapa? Karena banyak kopi dengan proses tak sehat beredar di pasaran.

Celakanya, mayoritas peminum kopi di Indonesia tak mempedulikan soal ini. Pokoknya bau aroma kopi, warnanya hitam, hitamnya pekat, rasanya pahit, bahkan kalau perlu cari yang puahit, lalu sikattt! 

Urusan lidah berasa tidak nyaman. Urusan perut yang kemudian berasa kembung. Citarasa pahit yang bukan kopi. Pahit yang lebih dekat dengan obat. Itu mah urusan belakang. Kasih gula banyak-banyak, pokoknya ada rasa manis, selesai. Ngopi aja kok repot!

Kopi hitam gula disisihkan Biar ada dialog mesra perlu gula apa tidak ya FotoIstimewa
Kopi hitam, gula disisihkan. Biar ada dialog mesra, perlu gula apa tidak ya... (Foto:Istimewa)

Ngopi itu harus mau repot. Bukan ngopi aja kok repot! Ini tagline yang tidak pas. Malah bukan hanya tidak pas, bisa-bisa malah menyesatkan. Membuat pandangan yang keliru. Keliru yang bisa menyebar hingga ke hulu kopi bagai virus. Siapa hulunya kopi? Sudah pasti adalah petani kopi. 

Sayang dan sungguh disayangkan kalau petani kopi sampai bisa bilang: ngopi saja kok repot! Sebab, dampaknya bisa super panjang. Bakal tak pernah ada kopi sehat yang siap terseruput di ujung bibir kita.

Hulu kopi akan lebih suka ambil jalur pendek. Petik kopi sekadarnya. Proses kopi juga sekadarnya. Asal kopi sudah dilihat menua, ada satu dua yang merah, pantas untuk dipanen, maka diambilah itu kopi. Labelnya bukan kopi spesial, melainkan label kopi asalan.

Begini akan dipanen semua kalau petaninya malas Merah hijau disamakan Maka jadilah kopi asalan itu IlustrasiIstimewa
Begini akan dipanen semua kalau petaninya malas. Merah hijau disamakan. Maka jadilah kopi asalan itu. (Ilustrasi:Istimewa)

Kopi asalan, sebenarnya, adalah biji kopi umumnya. Dihasilkan oleh petani juga. Merunut "peristiwa"nya adalah begini: buah kopi dipanen secara racutan. Istilah lainnya adalah tripping. Kopi racutan itu campuran buah hijau, buah kuning dan sedikit yang warna merah. Kemudian ada buah kena hama. Buah kena penyakit. Biasanya daun dan ranting ikut disertakan.

Kopi sudah pasti tanpa sortasi, dan buah hasil panen kemudian langsung dijemur. Penjemuran dihentikan saat kadar air masih di kisaran 15–20 persen.

Kopi gelondong kering ini selanjutnya dikupas oleh petani atau dijual ke pedagang pengumpul. Setelah terkumpul dalam jumlah besar, pedagang pengumpul kemudian mengupas biji gelondong tadi menjadi biji kopi green beans. 

Biji kopi ini tanpa sortasi dipasarkan secara luas baik konsumen umum dan ke prosesor besar. Sebagian besar biji kopi asalan dibeli oleh prosesor besar untuk direproses lanjut. Biasanya, proses lanjut itu hanya pada pembersihan biji kopi dari kotoran. Pengeringan ulang atau redrying. Lalu, pemilahan mutu atau grading atas dasar ukuran dan warna biji. Itu saja!

Bagaimana dengan rasa? Kopi warna merah, kuning, juga hijau, sejak awal sudah berbeda. Kalau dipanen paksa, kemudian diproses sangrai, aroma pasti tetap aroma kopi. Namun, soal citarasa, tak perlu sampai meributkan bagaimana enaknya kopi asalan. Paling banter ya begitu itu! (widikamidi)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini