Peta Sesar Surabaya dan Waru Yang Bisa Picu Gempa 6,5 SR

11 Oct 2018 11:38 Jawa Timur

Kota Surabaya ternyata berada di atas dua zona patahan atau sesar aktif yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru.

Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Amien Widodo pada ngopibareng.id, Kamis 11 Oktober menuturkan, keberadaan dua sesar ini baru dirilis secara resmi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada akhir 2017 yang lalu.

"Menurut hitungan para ahli dan hitungan Kementerian PUPR, dua sesar ini bisa memicu gempa hingga 6,5 skala richter," kata Amien Widodo.

Amien menyebut, Sesar Surabaya dan Sesar Waru sebenarnya sudah lama diketahui para ahli dan merupakan bagian dari Sesar Kendeng yang memanjang mulai dari Flores hingga ke Bandung.

Namun hasil penelitian terakhir menunjukkan jika di Surabaya, Sesar Kendeng ternyata terbagi dua patahan yang lantas diberinama Sesar Surabaya dan Sesar Waru.

Sesuai namanya, untuk Sesar Waru ini memanjang dari sekitar Waru tepatnya mulai dari kawasan Karangpilang, Surabaya; memanjang hingga ke Jombang, Nganjuk dan sampai ke Saradan, Madiun.

 

Sedangkan Sesar Surabaya memanjang mulai dari kawasan perbukitan Wonokitri, Mayjen Sungkono hingga ke kawasan Cerme Gresik. Beberapa retakan aspal beton di jalan Mayjen Sungkono diduga juga akibat dari pergerakkan sesar ini.

Desain pengukuran Sesar Surabaya dan Waru Grafis tim ITS
Desain pengukuran Sesar Surabaya dan Waru. Grafis: tim ITS

Amin mengatakan, terkait hasil penelitian ini, Kementerian PUPR sebenarnya telah mengirimkannya ke pemerintah daerah untuk segera memasang beberapa seismograf di sepanjang sesar.

"Harusnya pemerintah setempat segera memasang seismograf serta GPS di sepanjang sesar tadi supaya bisa diketahui pergerakkan sesarnya serta melihat potensi naik turun tanah," kata Amien.

Bantuan seismograf dan GPS dari Jepang sebenarnya juga telah ada, namun hingga saat ini Amien belum mengetahui apakah peralatan itu sudah dipasang atau belum.

Sementara itu dari catatan sejarah kata Amien, Kota Surabaya sebenarnya pernah diguncang gempa hebat pada tahun 1867. Sayangnya catatan sejarah itu tidak begitu detail dan hanya ditemukan sebagai penanda renovasi Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria di Jalan Kepanjen, Surabaya.

"Kita selalu buruk dalam mencatat sejarah. Beruntung di Gereja Kepanjen itu tertulis bahwa di tahun 1867 gereja itu pernah direnovasi akibat gempa besar," ujarnya. (man)

Editor : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini