Gubernur Provinsi Jawa Timur menjelaskan mengapa Jawa Timur gagal menurunkan kurva covid-19 sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo. (Ngopibareng.id)

Permintaan Jokowi Turunkan Kurva Tak Terpenuhi, Ini Kata Khofifah

Jawa Timur 09 July 2020 15:35 WIB

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengakui jika Provinsi Jawa Timur gagal memenuhi permintaan Presiden Joko Widodo sebelumnya, yaitu menurunkan kurva kasus baru covid-19 dalam dua minggu. Namun, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya sehingga angka kesembuhan bisa meningkat mengikuti jumlah kasus baru yang terus meroket akibat pemeriksaan rapid test dan swab test covid-19.

Hal itu disampaikan Khofifah dalam wawancara langsung di salah satu televisi nasional, pada Kamis 9 Juli 2020. “Selagi tracing dan tes tinggi, maka kasus baru pasti muncul. Jika kami ingin kasus baru tak muncul, maka tes PCR dihentikan, sederhananya kan seperti itu,’ kata Khofifah menjawab pertanyaan pembawa acara TV One.

Ia juga menambahkan, kasus yang tinggi di Jawa Timur sebanyak 66 persen di antaranya disumbang oleh Surabaya, kemudian disusul Sidoarjo, dan Gresik.

Namun, meski jumlah kasus tinggi, ia mengklaim jumlah kesembuhan juga terus meningkat. Menurutnya, jumlah kesembuhan per Rabu 8 Juli mencapai 1.250 orang. Dilansir dari laman Info Covid-19 Jawa Timur, jumlah kasus total mencapai 14.941 dengan 5.579 di antaranya sembuh, 7.992 sedang menjalani perawatan, dan 1.139 pasien atau sekitar 7,62 persen dari seluruh kasus, meninggal.

Ia juga memaparkan sejumlah upaya sudah dilakukan untuk menekan agar kurva covid-19 bisa segera turun. Strategi pertama melibatkan peran pemerintah yang bekerjasama dengan sektor swasta, media, akademisi, dan masyarakat, untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi, pentingnya penerapan protokol kesehatan di lingkungan masyarakat, serta bahayanya covid-19.

“Saya lihat warga yang tidak pakai masker bukan karena mereka membangkang, tapi karena belum paham bahaya covid-19. Masker itu ada di laci tempat uang (pedagang di pasar), atau dipakai di dagu,” kata Khofifah.

Upaya selanjutnya adalah mengembangkan one gate system, sistem pelaporan kondisi rumah sakit rujukan satu pintu. Di sini, relawan dari FK Unair akan membantu menyusun laporan kondisi fasilitas di seluruh rumah sakit rujukan, untuk memperbarui laporan setiap enam jam sekali. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit rujukan covid-19 yang sebelumnya mengeluhkan sulitnya koordinasi, serta kapasitas bed yang tak merata dan sering overload di rumah sakit tertentu. “Sekarang ada relawan dari FK Unair yang membantu mereport one gate reveral system ini,” katanya.

Terakhir adanya RS Darurat Lapangan yang banyak membantu merawat pasien covid-19 dengan gejala klinis sedang. Menurutnya rumah sakit ini memiliki tingkat kesembuhan 100 persen. “RS Darurat Lapangan ini sembuhnya 100 persen, sekarang merawat 107 pasien,” imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Jawa Timur pada 25 Juni 2020 lalu. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi menilai masyarakat Jawa Timur terutama di Surabaya memiliki kesadaran yang rendah atas penerapan protokol kesehatan. Jokowi juga menyoroti koordinasi yang lemah antara pemda dalam menangani wabah covid-19.

Penulis : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

09 Aug 2020 12:20 WIB

Video Latihan Anggota Paskibra yang hanya Berjumlah 8 Orang

Nasional

Paskibraka tak menyangka bisa dua kali bertugas gara-gara corona.

09 Aug 2020 12:12 WIB

Covid Sudah Membunuh Lebih 100.000 Warga Brazil

Internasional

Akibat Presiden Jair Bolsonaro meremehkan pandemi ini.

09 Aug 2020 12:03 WIB

Manajer Juventus Dipecat, Ronaldo Gak akan Pindah ke Klub Lain

Liga Italy

Meskipun Juve tersingkir dari Liga Champions

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...