Ilustrasi pengemudi Grab. (Foto: Istimewa)

Pengamat: Seleksi Driver Bekas Uber ke Grab, Sama Saja Bohong

05 Apr 2018 12:07

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti nasib pengemudi Uber setelah perusahaan aplikasi transportasi tersebut diakuisisi Grab per 26 Maret 2018. Menurut Indef, pemerintah harus turun tangan. Sebab, Uber tidak bisa lepas tangan begitu saja terhadap para pengemudinya di Indonesia.

"Ini menyangkut kepastian nasib mantan mitra pengemudi Uber, skemanya bagaimana? Mestinya pemerintah minta pertanggungjawaban ke Uber terkait kepastian mitra pengemudi," ujar Direktur Indef Enny Sri Hartati melalui keterangannya, Rabu (4/4/2018).

Indef juga menyoroti Grab sebagai perusahaan yang mengakuisi Uber dalam keberlangsungan mitra pengemudi. Seharusnya sebagai perusahaan pengakuisisi, Grab berkewajiban membawa semua aset Uber, termasuk para pengemudinya.

"Kalau tidak salah, memang Grab punya kewajiban menampung mitra pengemudi Uber, tetapi dengan proses seleksi yang ditentukan Grab. Ya, sama saja bohong, tidak memberi kepastian terhadap pengemudi Uber," katanya.

Di lain sisi, Enny mengapresiasi langkah Go-Jek yang mau menampung dan tidak mempersulit para pengemudi Uber bergabung. Dengan demikian, para pengemudi ini bisa tetap bekerja sebagai pengemudi transportasi online dan memperoleh pendapatan. Sebelumnya, ribuan pengemudi Uber menolak bergabung ke Grab dan memilih bergabung ke Go-Jek, perusahaan transportasi online lain.

Pasalnya, Grab dinilai mempersulit daftar ulang mitra pengemudi Uber. Hal ini dialami Topan (36), mantan pengemudi Uber. Dia pada Senin (2/4/2018) mendatangi kantor Go-Jek di Ruko Crystal Lane di Alam Sutera, Tangerang Selatan, untuk mendaftar menjadi pengemudi Go-Jek. Ia mengaku pindah ke Go-Jek lantaran kecewa dengan Uber.

Pasalnya, dia dan para pengemudi Uber lainnya yang ikut membesarkan Uber di Indonesia merasa dibuang begitu saja dan tidak mendapatkan apa-apa dari akuisisi tersebut. “Bahkan, perusahaan yang mengakuisisinya juga mempersulit kami melakukan daftar ulang,” kata Topan.

Sementara saat mendaftar di Go-Jek, ia dan kawan-kawannya justru dipermudah. Hanya dalam waktu tidak sampai satu jam, ia sudah bisa langsung menjadi pengemudi Go-Jek. "Namun, karena masih baru, saya tidak langsung narik, harus mempelajari aplikasinya dulu," katanya.

Ada juga cerita Anton yang mantap masuk Go-Jek karena tergiur penetapan tarifnya lebih tinggi dan disertai dengan bonus tambahan.

"Banyak teman saya yang sudah di Go-Jek lama. Mereka cerita lebih menguntungkan dari ojek online lain, jadi saya mau coba juga," katanya.

Ia berharap dengan bergabung dengan Go-Jek, penghasilannya bisa lebih besar. “Ketika di Uber, biasanya sehari saya bisa dapat Rp 200.000. Mudah-mudahan di sini bisa lebih besar,” pungkasnya.

Seperi diketahui, setelah diakuisisi Grab, mitra pengemudi Uber yang beroperasi di Asia Tenggara diharuskan mendaftarkan diri lagi untuk menjadi mitra pengemudi Grab. Grab memberikan waktu hingga 8 April 2018 untuk masa transisi ini. Sebelum tanggal tersebut, aplikasi Uber masih aktif dan bisa digunakan seperti biasanya oleh mitra pengemudi dan penumpang.