Ilustrasi pesawat Garuda menurun. (Foto:Garuda Indonesia)

Pendapatan Garuda Indonesia Turun 90 Persen

Ekonomi dan Bisnis 02 June 2020 17:31 WIB

Pendapatan Garuda Indonesia anjlok hingga 90 persen akibat pandemi COVID-19. Sementara itu 70 persen pesawat dikandangkan karena sejumlah rute tidak beroperasi.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, mayoritas penerbangan Garuda sekarang ini  load factor atau tingkat keterisian di bawah 50 persen. "Jadi ini imbasnya sangat berat bagi Garuda dan maskapai lain,” kata Irfan di Jakarta, Selasa.

Ditambahkan,  penerbangan merupakan industri yang sangat terdampak dengan adanya pandemi ini karena mobilitas harus dibatasi, sementara mobilitas merupakan fundamental di industri penerbangan.

"Dampaknya juga bukan hanya berhenti di maskapai, melainkan pula di bandara, perhotelan dan restoran ketika penerbangan terganggu. “Yang lebih berat lagi, maskapai pada dasarnya industri yg sangat capital intensive atau padat modal dan marginnya di bawah double digit. Begitu ada goyangan seperti ini akan sangat goyang sekali. Tadi ada grafik yang menyatakan saat awal Maret menukik drastis mulai dari penumpang dan pendapatan,” katanya.

Namun, lanjut dia, sebagai maskapai nasional flag carrier, Garuda tetap memiliki kewajiban untuk menjaga konektivitas, karena itu pihaknya masih mengoperasikan rute-rute internasional, seperti dari Belanda, Australia, Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan serta rute-rute domestik.

“Untuk  Garuda, ini situasi unik yang harus dihadapi karena ini bukan semata-mata maskapai yang lain mudah ‘ah saya tutup dulu nunggu nanti kalau sudah baik’. Kami ini ‘national flight carrier’, mandat kami adalah memastikan konektivitas dan menyambungkan antarbangsa,” katanya.

Untuk itu, Irfan menjelaskan, secara perlahan pihaknya menurunkan frekuensi penerbangan di sejumlah rute.

“Secara dinamis kita liat tingkat keterisiannya dan kemudian pelan-pelan kita turunkan frekuensi penerbangannya. Seperti sebelumnya enam kali seminggu ke Amsterdam saat ini hanyas sekali seminggu. Tapi untuk memastikan konektivitas ini terjadi kita harus memastikan bahwa pergerakan orang yang harus bergerak terjadi. Karena kalau tidak kita bayangkan situasi saat 60-an yang memaksa kita berpikir waktu lama untuk berpindah,” katanya. (ant)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Jul 2020 07:02 WIB

Jaga Selamat, Muhammadiyah Putuskan Gelar Tanwir Daring Juli 2020

Khazanah

Hasil Rapat Pimpinan Muhammadiyah Tingkat Pusat

06 Jul 2020 06:46 WIB

Pancasila dan Penjual Sate Madura, Terasa Cerdiknya

Humor Sufi

Humor selalu mencairkan suasana tegang

06 Jul 2020 06:19 WIB

Ledakan di Menteng, Polisi Lakukan Pemeriksaan Mendalam

Nasional

Lebih dari petasan, tak memunculkan api

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...