Muktamar Sastra, Pesantren Sukorejo Tancapkan Tonggak Baru

18 Dec 2018 21:18 Seni & Budaya

Pesantren Sukorejo mencatat sejarah baru di era kekinian. Dengan digelarnya Muktamar Sastra 2018 diadakan pada 18-20 Desember 2018 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur.

Pesantren yang didirikan KH Syamsul Arifin dan dikembangkan KH As’ad Syamsul Arifin (almaghfurlah) mencatat momentum penting dalam perjalanan bangsa Indonesia dalam kehidupan bernegara. Di lokasi ini,  pada Munas Alim Ulama NU pada 1993 memutuskan organisasi yang didirikan para ulama pesantren ini, kembali pada Khittah NU 1926. Selain itu, proses pengakuan Pancasila sebagai asas organisasi menjadi tonggak terawal sebagai sikap dari ormas Islam.

Maka dengan Muktamar Sastra 2018 akan mencatat tonggak baru. Sebagai ikhtiar mendorong gerak bangsa ini agar tidak melulu menjadikan politik dan ekonomi sebagai panglima.

“Sekali waktu, kebudayaan juga harus maju. Tampil ke muka untuk mengendurkan tarikan benang kusut kehidupan sosial dan membuka ruang bernafas lebih lega di luar sesi-sesi debat politik yang banal,” kata KH A Mustofa Bisri.
KAUM SANTRI D Zawawi Imron Gus Mus dan sejumlah kiai di Madura Foto dok ngopibarengid
KAUM SANTRI: D Zawawi Imron, Gus Mus dan sejumlah kiai di Madura. (Foto: dok ngopibareng.id)

“Sekali waktu, kebudayaan juga harus maju. Tampil ke muka untuk mengendurkan tarikan benang kusut kehidupan sosial dan membuka ruang bernafas lebih lega di luar sesi-sesi debat politik yang banal,” kata KH A Mustofa Bisri, salah seorang tokoh yang akan menyampaikan Pidato Kebudayaan dalam perhelatan tersebut.

Menurutnya, kita semua percaya bahwa bangsa ini dibangun dengan tatanan dan ajaran-ajaran baik. Nilai tentang kerukunan, kerja keras, persatuan, gotong royong, dan sikap tenggang rasa adalah pelajaran utama dari para kiai dan pendiri bangsa. Jikalau hari ini sebagian dari nilai-nilai itu memudar, maka gerakan kebudayaanlah yang diharapkan bisa memulihkan kembali.

Muktamar Sastra untuk yang pertama diselenggarakan tahun ini diselenggarakan atas kerjasama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTNNU) Jawa Timur, Lesbumi NU Jawa Timur, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Timur, serta TV9 Nusantara.

Turut dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin para kiai dan tokoh budayawan cum sastrawan nasional seperti KH Mustofa Bisri, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, KH D Zawawi Imron, KH Mutawakkil Alallah dan Emha Ainun Nadjib.

Penyair D Zawawi Imron dalam aktivitas di pesantren Foto dok ngopibarengid
Penyair D Zawawi Imron dalam aktivitas di pesantren. (Foto: dok ngopibareng.id)

Muktamar Sastra tahun ini juga akan diikuti oleh 55 sastrawan dari 34 provinsi di Indonesia, 32 sastrawan dari kota/kabupaten penyangga di Jawa Timur, 10 delegasi Lembaga pendidikan, sanggar seni, dan pesantren (RMI NU), peserta peninjau dari media massa, 5 peserta dari negara serumpun, serta puluhan peserta mandiri yang mengirimkan karya dan diseleksi oleh Sosiawan Leak, Mashuri Alhamdulillah, Raedu Basha, Zainul Walid, dan Rosie Jibril sebagai dewan kurator.

Pembahasan dua tema besar ini diharapkan dapat memunculkan pemetaan kesusasteraan nusantara. Paling tidak, dalam dua segmentasi besar: sastra pesantren dan sastra Indonesia non pesantren. Secara lebih detail, dua tema besar ini akan dibahas dalam 6 diskusi panel yang diikuti para tokoh sastra nasional dan daerah yang menjadi muktamirin.

Muktamar Sastra 2018 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi kebudayaan bagi negara dan khalayak umum. Rencananya pula,  akan dicatat serta diabadikan sebagai Piagam Sukorejo 2018. (adi)