Menyehatkan, Bir Pletok Betawi Tetap Eksis di Tengah Persaingan

13 Jan 2019 17:53 Legenda Tenan

Mendengar nama bir, orang akan terbayang pada minuman beralkokohol yang memabukkkan. Seperti Bir Bintang, Bir Hitam maupun Bali Brem. Minuman yang satu ini, bukan seperti itu.

Masyarakat Betawi juga punya salah satu warisan kuliner yang namanya 'Bir Pletok'.

Meskipun tergerus berbagai jenis minuman kemasan pabrikan, Bir Pletok hingga kini masih eksis di banyak perayaan Betawi. Salah satunya pernikahan.

Gubernur DKI Anis Baswedan minta kepada masyarakat Betawi melestarikan Bir Pletok, dan wajib disajikan pada pesta-pesta rakyat Betawi.

"Kalau bukan rakyat Betawi sendiri yang melestarikan, siapa lagi," kata Anis.

Ihsan, salah seorang pengusaha Bir Pletok asal Condet Jakarta Selatan menjelaskan, Bir Pletok ini tidak memabukkan. Tapi menyehatkan. Bisa menghilangkan masuk angin, perut kembung dan pegel linu.

Rasa manis, pedas, dan hangatnya yang khas menjadikan bir ini digemari masyarakat Betawi hingga turis asing. Perpaduan rasa khas Bir Pletok lahir dari 11 macam rempah yang ada di dalamnya.

"Resep aslinya ada 11 macam rempah. Yang pasti ada di Betawi, atau Jakarta. Semua rempahnya punya peranan dan menghasilkan cita rasa berbeda-beda," kata Ihsan kepada ngopibareng.id di kawasan Jalan Tamrin, Jakarta, Minggu 13 Januari 2019.

Bir Pletok asli yang diracik langsung dari rempah-rempah pilihan. Ukuran 500 mililiter dijual seharga Rp20.000. Sedang yang ukuran 300 ml harganya Rp 10.000.

Ternyata cukup mudah untuk membuat Bir Pletok. Anda bisa mengkreasikannya juga dengan susu atau buah untuk variasi rasanya. 

Bahan-bahan yang dibutuhkan ialah jahe 250 gram. Kemudian cengkeh, biji pala, lada, sereh, dan kapulaga masing-masing tiga gram. Lalu kayu manis 30 gram, daun pandan tujuh lembar, daun jeruk enam lembar, serta gula manis satu kilogram. Semuanya untuk membuat Bir Pletok sebanyak enam liter, sehingga sediakan air enam liter.

Untuk warnanya sediakan kayu secang secukupnya. Selanjutnya jahe, biji pala, lada, kapulaga, dan sereh digeprek hingga pecah atau hancur. Masukkan ke panci yang sudah berisikan air dan dipanaskan menggunakan api sedang.

Selanjutnya masukkan rempah lainnya mulai dari daun pandan, daun jeruk, cengkeh, dan kayu manis. Sambil diaduk, masukkan juga gula sesuai selera manisnya. Satu rempah yang belum dimasukan ialah kayu secang. Kayu secang sendiri berfungsi untuk pewarnaan. Semakin banyak semakin merah, tentu dengan kualitas secang yang bagus.

"Kayu secang harus dimasukkan sendiri di akhir, dan dia sangat bergantung sama panasnya air supaya keluar warnanya. Jadi usahakan air sudah panas sekali, hampir mendidih," ujar Ihsan.

Racikan rempah untuk bir pletok khas Betawi.

Setelah mendidih, tutup panci dan diamkan selama 20-25 menit dalam keadaan kompor menyala. Ini berfungsi menyempurnakan warna dan rasa, mengeluarkan sari-sari rempahnya ketika suhu air mendidih. Setelah itu tiriskan dan siap dihidangkan.

Menurut Ihsan, dalam adat Betawi, tidak ada peruntukan khusus bir ini disajikan dalam keadaan hangat ataupun dingin dengan es batu. Semuanya tergantung selera.

"Semua rempah yang hangat, ada tempat khasiatnya masing-masing. Seperti jahe itu hangat di dada, kapulaga di lidah, cengkeh di langit-langit," ungkap Ihsan.

Setiap hari Minggu Ihsan membuka lapak di kawasan Car Free Day Tamrin, tujuan utamanya untuk mempertahankan minuman asli Betawi ini.

Kini Bir Pletok sendiri sudah bertransformasi dengan tersedianya dalam wujud sachet ataupun bubuk di pasaran. Bir Pletok selain ukuran dalam juga dijual kering dalam kemasan sachet. Namun masyarakat lebih menyukai dalam botol.

Kok dinamakan Bir Pletok? Begini ceritanya. Dulu orang Belanda sangat menyukai minuman dicampur dengan soda. Ketika botolnya dibuka dan dituang ke gelas terdengar bunyi 'pletok-pletok'. Bunyi aneh itu kemudian diabadikan sebagai nama minuman tradisional Betawi 'Bir Pletok'.

Karena tanpa bahan pengawet daya tahan Bir Pletok di tempat terbuka hanya sampai 24 jam. Kalau ingin bertahan lebih lama harus disimpan kulkas. (asm).

"Semua rempah yang hangat, ada tempat khasiatnya masing-masing. Seperti jahe itu hangat di dada, kapulaga di lidah, cengkeh di langit-langit," ungkap Ihsan.
Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini