Film Aladdin Menjual Lagi Imajinasi Dongeng Kuno, Tapi Apik kok

25 May 2019 12:00 Film

Ini dongeng lawasnya bukan main. Boleh dibilang sangat kuno. Dongeng kuno makuno yang bertahan hidup dari zaman ke zaman. Aladdin!

Produk imajinasinya apa saja ada. Mulai cetakan hingga film. Barangkali penerbit seluruh dunia ini pernah meliriknya sebagai bahan cetakan ulang. Pun film juga demikian. Bermacam produser boleh jadi pernah menjadikannya sebagai pendulang uang.

Mulai hari ini, 25 Mei 2019, Aladdin hidup lagi. Di Indonesia. Eh, maksudnya mulai main di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Aladdin hidup dalam film dengan setuhan imajinasi kekinian.

Rupanya Aladdin ini menjadi salah satu bagian dari momentum besar Walt Disney. Usai membombardir pasar dengan Captain Marvel dan Avengers: Endgame yang sukses menyingkirkan Titanic dari posisi runner-up box office sepanjang masa, Walt Disney juga meluncurkan Aladdin. 

Aladdin karya Guy Ritchie merupakan versi live action dari animasi Aladdin tahun 1992 yang monumental. Disebut monumental lantaran Aladdin 1992 sukses menggabungkan unsur kualitas dan komersial. Ia meraih dua Oscar dan meraup laba kotor US$ 504 juta. Saat itu. Bukan main!

Aladdin karya Guy Ritchie merekonstruksi hikayat 1001 malam dari Tanah Arab. Pada masa itu, orang miskin dianggap sebagai tikus jalanan.

Aladdin (Mena) yang tak berayah dan ibu hidup di puing rumah tak terpakai bersama monyetnya. Si monyet bernama Abu. Untuk bertahan hidup dia mencuri barang para pengunjung pasar.

Suatu hari, Aladdin bertemu Yasmine (Naomi) yang sedang menyamar untuk membaur bersama rakyat. Yasmine menolong anak tidak mampu yang dituduh mencuri dagangan.

Aladdin membantu Yasmine keluar dari pasar. Yasmine ternyata seorang putri Sultan (Navid) dari Kerajaan Agrabah. Kerajaan Agrabah saat itu posisinya dalam bahaya besar. Perdana Menterinya, Jafar (Marwan) berambisi naik tahta. Agar ambisinya terwujud, Jafar kemudian memperalat Aladdin agar mengambil lampu wasiat di sebuah gua. Lampu wasiat itu berisi Jin (Will) yang sanggup mengabulkan tiga permintaan. Apa pun itu.

Film dengan materi dongeng kuno ini sempat mendapat kritik negatif gara-gara teaser dan trailer. Dianggapnya kurang menarik. Tapi rupanya Aladdin mampu menjawab keraguan publik.

Versi live action mampu menghidupkan imajinasi anak-anak yang tumbuh di era 1990-an. Rahasianya terletak pada banyak aspek. Tata artistik, dalam pandangan kami, memegang aspek paling krusial. 

Visualisasi kerajaan dan permukiman penduduk Agrabah sangat detail. Desain interior dan eksterior didominasi warna cokelat, kuning, oranye, hijau, lengkap dengan pasar yang menyediakan aneka bumbu. Plus suasana yang sedikit berantakan dan berdebu.

Klimaksnya adalah kedatangan Pangeran Ali yang digambarkan Guy Ritchie laksana karnaval yang melibatkan ratusan penampil dengan kostum warna-warni untuk menajamkan kesan glamour.

Elemen artistik, riasan wajah dan rambut, serta kostum akan sia-sia jika tanpa pemilihan aktor dan aktris yang tepat. Mena dan Naomi adalah daya tarik utama. Syukurlah Mena dirias hingga ketampanannya tersamarkan. Dalam banyak angle, ia tampak biasa saja. Sudut pandangnya tentang persahabatan, keputusan untuk berhenti berpura-pura, dan kebaikan hatinyalah yang membuat penonton jatuh cinta.

Di sisi lain kita melihat Naomi yang sukses memadukan aura ningrat seorang putri, semangat untuk membuktikan diri, jiwa pemberani, dan gestur jatuh cinta yang alami. Kesengsem alias jatuh cinta untuk kali pertama tergambar jelas pada air mukanya. Momen terbaik Yasmine terjadi saat ia menyanyikan ”Speechless”. Lagu tentang perempuan yang terperdaya oleh keadaan namun menolak berdiam diri ini dibawakan dengan powerful.

Kami tidak akan lupa pada Yasmine yang menyanyi dengan raut tegas berwibawa namun matanya merah berkaca-kaca. Ya, bagaimana pun Yasmine perempuan. Naomi mengeksekusi adegan ini dengan brilian.

Lalu dari mana datangnya lagu dengan lirik berenergi besar ini? Alan Menken, peraih delapan Oscar itu meracik nadanya. Lirik “Speechless” yang menyetrum hati penonton ditulis Justin Paul dan Benj Pasek, peraih Oscar lewat La La Land serta memoles The Greatest Showman. Huihh, sudahlah, ayo nonton saja. (idi)

Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini