Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Hendro Wicaksono, profesor asal Indonesia menerima penghargaan dosen terbaik, Teacher of the Year, yang diberikan kepada dosen yang memiliki prestasi luar biasa dalam proses pembelajaran dari Universitas Jacobs, Bremen, Jerman. (Foto: pcinu-jerman)
Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Hendro Wicaksono, profesor asal Indonesia menerima penghargaan dosen terbaik, Teacher of the Year, yang diberikan kepada dosen yang memiliki prestasi luar biasa dalam proses pembelajaran dari Universitas Jacobs, Bremen, Jerman. (Foto: pcinu-jerman)

Mencetak Generasi Emas dalam Peradaban Islam, Cara Imam Syafi'i

Ngopibareng.id Khazanah 12 September 2020 15:32 WIB

Di tengah pandemi Covid-19, umat Islam harus tetap menghadapinya dengan sikap optimistis. Tentu dengan berharap akan meraih keberkahan untuk melahirkan generasi emas. Dengan kehadiran generasi emas itu, niscaya akan memberi kontribusi bagi Peradaban Islam.

Ustadz Ma'ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur, mengungkapkan "Cara Imam Syafi'i Mencetak Golden Generation". Terungkap dalam diskusi virtual PCINU Jerman, Sabtu siang 12 September 2020. Berikut ulasannya:

Para Sahabat kita di Eropa sebenarnya sedang menempuh pendidikan S2 atau S3, bahkan menjadi Guru Besar. Namun mereka masih menyempatkan diri berkhidmat untuk organisasi NU.

Saya melihat saat ini sedang dalam masa generasi keemasannya, khususnya yang kita tahu adalah PCI NU Jerman. Ada Prof Hendro Wicaksono, Dr Wahyu Wijaya Hadiwikarta, Dr Muhammad Rodlin Billah, Bu Rina Agustina, Dr Miftahussurur dll.

Bagi saya ini masih embrio "Golden Generation". Sebab mereka bertemu tanpa disengaja, memiliki kesepahaman, bercita-cita bareng dan merealisasikan programnya.

Generasi emas sebenarnya adalah ketika orang-orang hebat tersebut berhasil mengkader generasi sesudahnya, setelah beliau semua pulang ke tanah airnya, di Jerman sana masih ada penerusnya.

Sebagai contoh adalah keberhasilan Imam kita dalam mengkader penerusnya. Imam Syafi'i punya banyak murid. Diantara muridnya ada 2 orang yang bernama Rabi'. Yang pertama Rabi' Al-Muradi dan yang kedua Rabi' Al-Jaizi.

Kejadian berikut dialami oleh Rabi' Al-Muradi, siapa sangka di masa belajarnya ia adalah murid 'telmi'. Berikut riwayatnya:

ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻘﻔﺎﻝ ﻓﻰ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ ﻛﺎﻥ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻄﺊ اﻟﻔﻬﻢ ﻓﻜﺮﺭ اﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭاﺣﺪﺓ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ ﻓﻠﻢ ﻳﻔﻬﻢ ﻭﻗﺎﻡ ﻣﻦ اﻟﻤﺠﻠﺲ ﺣﻴﺎء ﻓﺪﻋﺎﻩ اﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﺧﻠﻮﺓ ﻭﻛﺮﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻓﻬﻢ

Al-Qaffal mengatakan dalam Fatawinya bahwa "Rabi' adalah orang yang tidak cerdas. Asy-Syafi'i mengajarnya dengan mengulang-ulang 1 masalah sampai 40 kali, Rabi' belum paham juga. Rabi' pun pergi dari tempat belajar karena malu. Imam Asy-Syafi'i memanggilnya di tempat sepi dan mengulang-ulang pelajaran hingga ia paham" (As-Subki, Thabaqat Syafi'iyah, 2/134)

Ternyata, Rabi' Al-Muradi inilah yang di masa berikutnya menjadi sosok ulama yang menyebarkan ilmu-ilmu Imam Syafi'i. Sebab Rabi' inilah yang meriwayatkan pendapat Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm, kitab induk Mazhab Syafi'i.

Selain beliau masih banyak murid Asy-Syafi'i yang lain, seperti Al-Muzani, Al-Buwaithi, Harmalah dan sebagainya.

"Untuk semuanya saya haturkan jazakumullah Khoiron katsiron, semoga Allah memberi keberkahan dan perlindungan kepada panjenengan di PCI NU Jerman."

Demikian tausiyah Ustadz Ma'ruf Khozin, yang juga Pengasuh Pesantren Aswaja Sukolilo Surabaya.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Jan 2021 05:17 WIB

Saatnya Politisi Puasa Bicara

As’ad Said Ali

Tak memolitisasi pandemi Covid-19

22 Jan 2021 03:08 WIB

Saat Peradaban Barat Mundur, Tak Otomatis Islam Jadi Alternatif

Khazanah

Prof Azyumardi Azra tentang perdamaian dunia

22 Jan 2021 02:38 WIB

Yudi Latif: Muhammadiyah, Bentuk Terbaik Politik Identitas

Khazanah

Di tengah politik identitas menjadi masalah sekarang

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...