Masuk Daftar Global Thinkers 2019, Prestasi Susi pun Diakui Dunia

23 Jan 2019 19:05 Internasional

"Alhamdulillah, akhirnya bisa berkunjung dan ngobrol dengan Ibu @susipudjiastuti115 . Semakin yakin akan keikhlasan 'Aset Indonesia' yang luar biasa ini terhadap Indonesia dan bangsa Indonesia.

"Semoga Allah memunculkan pemimpin-pemimpin seperti Ibu Susi yang sederhana, tegar, dan ikhlas berkhidmah kepada dan untuk tanah air dan rakyatnya. AdãmaLlãhu 'izzahã..."

Begitulah komentar KH A Mustofa Bisri, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibiin, Leteh, Rembang, dikutip ngopibareng.id, dari akun facebooknya, Rabu 23 Januari 2019.

Gus Mus, panggilan akrab tokoh Islam moderat ini, berkomentar setelah melakukan silaturahim balasan kepada Susi Pudjiastuti di Jakarta, pada 21 Januari lalu. Kedua tokoh ini, sebelumnya saling ketemu di kediaman Gus Mus di Rembang. Silaturahim kedua tokoh ini mendapat pujian dari pelbagai kalangan di Indonesia.

Nama Susi Pudjiastuti memang cukup dikenal, tergolong Srikandi Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia ini, termasuk antara sedikit perempuan yang mempunyai karakter berjuang ini, akhirnya diakui dunia.

Tak heran bila kemudian dunia pun mengakui. Susi Pudjiastuti masuk ke dalam daftar bergengsi Global Thinkers 2019, dalam kategori 10 besar tokoh yang dianggap punya pengaruh di bidang pertahanan dan keamanan menurut versi majalah ternama Foreign Policy.

Menteri kelahiran Pangandaran, Jawa Barat, tersebut bersanding dengan perempuan berpengaruh lain seperti Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen.

"Menjaga hubungan baik dengan China bukan berarti kendur dalam urusan penegakan hukum di sektor illegal fishing (pencurian ikan)," kata Susi Pudjiastuti.
Susi Pudjiastuti ketika tampil di forum PBB Foto Kelautan dan Perikanan Indonesia for ngopibarengid
Susi Pudjiastuti ketika tampil di forum PBB. (Foto: Kelautan dan Perikanan Indonesia for ngopibareng.id)

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Wazed pun masuk, dengan rekor jabatan terlama dalam sejarah negara sejak Januari 2009.

Foreign Policy, dalam editorialnya, memaparkan Susi berada dalam daftar karena komitmennya dalam mempertahankan kelestarian ikan serta biota laut.  Komitmen itu ditunjukkan dengan keberaniannya menelurkan kebijakan yang dianggap menakutkan, serta diperhatikan kawan maupun lawan.

Susi dikenal karena keputusannya menenggelamkan kapal nelayan yang kedapatan memancing secara ilegal di wilayah perairan Indonesia. Ketika berkunjung ke Norwegia pada Juni 2018, Susi menjelaskan bahwa saat ini Indonesia telah menenggelamkan 363 kapal di teritorinya.

Dampak dari kebijakan tersebut, lanjutnya, adalah stok ikan meningkat dari sebelumnya 6,52 juta ton pada 2011 menjadi 12,5 juta ton pada 2017.

Kemudian ukuran ikan yang ditangkap nelayan mengalami peningkatan, serta jarak melaut kian dekat, serta neraca perdagangan perikanan Indonesia nomor satu di ASEAN pada 2016. Kebijakan yang menuai prestasi di forum internasional seperti FAO bukannya tanpa tantangan.

Susi Pudjiastuti menjamu Gus Mus di kediamannya di Jakarta Foto fb gus mus
Susi Pudjiastuti menjamu Gus Mus di kediamannya, di Jakarta. (Foto: fb gus mus)

Susi mengaku merasa gelisah, ketika di Norwegia. Sebabnya, dia merasa berjuang sendiri tanpa mendapat dukungan di negeri sendiri. Belum lagi konsistensi penegakan hukum terbentur kepentingan di balik kekuasaan.

Kebijakannya itu juga sempat menimbulkan ketegangan dengan China yang menuduh Indonesia menembaki kapal nelayan dan melukai satu orang.

"Menjaga hubungan baik dengan China bukan berarti kendur dalam urusan penegakan hukum di sektor illegal fishing (pencurian ikan)," kata Susi.

Dia mendukung penuh tindakan Komando Armada Maritim Kawasan Barat (Koarmabar) yang menembak kapal berbendera China di kawasan Natuna Juni 2018.

"Hubungan baik kita harus jaga. Tapi soal pencurian ikan ya tidak termasuk hubungan baik antarlembaga dong," ujar Susi kala itu.

Sementara itu, nama berpengaruh lain yang masuk ke dalam daftar tokoh berpengaruh, selain Susi, adalah PM Bangladesh Sheikh Hasina. Kebijakannya yang menuai perhatian dunia adalah menerima sekitar 700.000 warga minoritas Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Hasina menerima pengungsi Rohingya dan menempatkan mereka di kamp pengungsi Kutupalong yang berlokasi di Cox's Bazaar. Meski begitu, dia juga disorot karena berniat memulangkan para pengungsi Rohingya yang ditentang baik pejabat PBB maupun organisasi HAM.

Dari Meksiko, terdapat nama Olga Sanchez Cordero yang baru menjabat sebagai menteri dalam negeri sejak 1 Desember 2018. Mantan Senator tersebut berjanji bakal mencari cara untuk mengurangi angka korban tewas karena perang melawan narkoba yang dicanangkan pemerintah.

Merupakan eks hakim di Mahkamah Agung Meksiko, Cordero merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai orang nomor satu di lingkungan Kemendagri.

Adapun dari jajaran sosok terkuat dunia, Kanselir Jerman Angela Merkel bersanding dengan Gerakan Perempuan #MeToo maupun eks Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama.(adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini