Mangga Podang (bagian 1)Lewat Semusim, Manis Sebentar Asemnya Berkepanjangan

14 Sep 2018 13:15 Feature

Sejauh mata memandang, hari-hari begini, buah mangga ada dimana-mana. Yang masih gemandul di pohon buanyak. Yang sudah dipanen apalagi, buanyaknya bukan main. Boleh dikata, ini adalah waktunya banjir mangga (emm... banjir kok mangga sih, kan cukup sulit membayangkannya).

_____________

Sudahlah pokoknya begitu. Buah mangga memang ada dimana-mana. Jenisnya juga bermacam. Tinggal pilih kalau mau beli. Tinggal pilih juga mau beli dimana. Beli langsung dari pekarangan pemilik mangga ada (bisa jadi malah dapat yang masak di pohon). Di supermarket banyak, keliahatan ranum-ranum dan segar pula. Di pasar-pasar tradisonal apalagi, lebih banyak lagi jenis mangga yang yang dijual. Dan sudah pasti lebih menggoda mata.

Ya, bulan-bulan seperti ini, hingga bulan Oktober ke depan, malah hingga Desember nanti, musim buah mangga sedang hits-hitsnya.

Asyik memang, tapi sebenarnya tidak asyik untuk yang menaman. Apalagi petaninya. Sebab, ketika musim panen yang bersamaan begini, harga biasanya anjlok. Harga menjadi sangat murah. Malahan sangat meriah.  

Dari pohon yang belum dipetik, harga tak lebih dari 2000 rupiah. Uuhhh. Malah ada jenis mangga tertentu yang hanya 500 rupiah dari pohon. Biyuhhh.

Jenis mangga Podang misalnya. Mangga ini sangat asam ketika masih pencit, tapi begitu lezat ketika sudah masak menguning kemerahan. Meski lezat mangga jenis ini tak pernah mampu mengerek harganya sendiri. Mangga Podang ini banyak terdapat di wilayah Kediri.

Belakangan kondisi ini agak berubah. Mangga Podang dikerek menjadi buah unggulan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri. Upaya menjadikan buah ini menjadi potensi unggulan rupanya cukup mampu menggeser frustasi warga lereng Gunung Wilis yang masih menanam dan memelihara pohon mangga ini. Secercah harapan pun muncul untuk menjadikan buah tersebut tak sekadar buah segar di atas meja.

Mangga Podang

Lereng Gunung Wilis membentang hingga ke seluruh wilayah Kabupaten Kediri di Jawa Timur. Jamaknya hidup di alam pegunungan, masyarakat selalu dirundung kesulitan. Lahannya kering, tanahnya jenis padas. Ketersediaan air minim, akses jalan juga sekadarnya. Belum lagi terbatasnya transportasi dan komunikasi. Ini beban sehari-hari yang membuat masyarakat frustasi.

Lebih kompleks lagi, mata pencaharian warga lereng Wilis di Kabupaten Kediri adalah petani/pekebun. Meski kurang menjanjikan, mereka tetap utun menjalani aktivitasnya. Tapi memang Tuhan Maha Adil, di tanah yang kurang menjanjikan ini tumbuh tanaman buah yang suburnya bukan main. Yaitu mangga podang.

Dulunya tanaman ini dipandang sebelah mata, bahkan di banyak wilayah varian mangga ini dibabat habis. Ketika sudah tumpas kelor, ribuan pohon mangga podang di lereng Wilis justru lolos dari penebangan massal. Seiring dengan kebijakan pemerintah kabupaten, mangga podang dijadi buah unggulan di Kabupaten Kediri.

Segar kekuningan ada sembursembur merah di bagian pantatnya itulah mangga podang fotoistimewakedirigoid
Segar, kekuningan, ada sembur-sembur merah di bagian pantatnya, itulah mangga podang. foto:istimewa/kediri.go.id

Muncul harapan untuk keluar dari deraan kesulitan. Bagaimana tidak, pohon buah yang satu ini bisa tumbuh di lahan kering tanpa rewel. Tanpa perlu perawatan intensif. Hebatnya lagi, dalam khasanah buah-buahan segar, mangga podang ternyata memiliki kekhasan yang tidak ditemukan pada varietas buah mangga lainnya.

Kulitnya yang kuning dengan sembur-sembur merah di dekat pangkal dahannya sungguh sedap dipandang mata. Aromanya sangat khas dan mengundang selera segar. Soal rasa, hmmm manisnya benar-benar memenuhi syarat sebagai buah unggulan.

Sayangnya, citra unggulan ini juga dibarengi kelemahan yang alamiah. Mangga podang yang tumbuh subur di Kecamatan Semen, Banyakan, Grogol, Tarokan dan Mojo ini bersifat musiman. Panen rayanya yakni bulan Oktober hingga Desember.

Di saat seperti ini mangga podang sangat melimpah-ruah. Menurut data, total produksi mencapai ±569.241ton dan semuanya dipasarkan dalam bentuk buah segar.

Masa panen raya seperti ini membawa dilema tersendiri bagi petani, sebab tak ada keberimbangan harga yang layak ketika buah sudah melimpah di pasaran. Harga bisa terjun sebebas-bebasnya. Hingga tembus 500 rupiah per kilogram. Jika harga sudah tak terkendali seperti ini, pilihan yang kerap dilakukan petani adalah membiarkan si buah cantik busuk dan mengering di pohonnya. Siapa peduli dan peduli apa. idi

Reporter/Penulis : widi kamidi


Bagikan artikel ini