Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa saat ditemui usai Rakernas Muslimat NU di Hotel Singhasari, Kota Batu (Foto: Lalu Theo/Ngopibareng.id)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa saat ditemui usai Rakernas Muslimat NU di Hotel Singhasari, Kota Batu (Foto: Lalu Theo/Ngopibareng.id)

Hina Umat Islam, Khofifah Minta Presiden Prancis Minta Maaf

Ngopibareng.id Internasional 01 November 2020 13:50 WIB

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa menuntut Presiden Prancis, Emmanuel Macron untuk meminta maaf kepada seluruh muslim di dunia menyusul pernyataannya yang menghina agama Islam.

"Muslimat NU mohon kepada Presiden Prancis untuk mencabut apa yang sudah disampaikan dan minta maaf kepada umat Islam di seluruh dunia," tuturnya pada Minggu 1 November 2020, usai acara Rakernas Muslimat NU di Hotel Singhasari, Kota Batu, Jawa Timur.

Sebagai pemimpin organisasi perempuan moderat, Khofifah juga mendukung sikap pemerintah Republik Indonesia (RI) yang mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menilai Islam sebagai kelompok separatis.

"Muslimat NU mendukung sikap resmi Pemerintah RI yang sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi," ujarnya.

Khofifah juga menyesalkan pernyataan dari Presiden Prancis yang menuduh umat Islam sebagai kelompok separatis. Perkataan ini terang Khofifah telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.

"Muslimat NU menyesalkan adanya statment Presiden Prancis yang sudah menyinggung perasaan umat Islam dan komunitas muslim di dunia," katanya.

Muslimat NU sebagai organisasi moderat ujar Khofifah terus mendorong adanya kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia dan seluruh dunia.

"Pesan Pengurus Besar NU saat membuka rakernas, adalah supaya muslimat NU ini menjadi bagian dari bagian penguatan kehidupan yang penuh dengan toleransi dan moderasi," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron menuding muslim sebagai separatisme, serta menggambarkan Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia.

Pernyataan Macron tersebut dipicu insiden seorang guru di Prancis yang dipenggal oleh seorang remaja etnis Chechnya karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas, ketika mengajar tentang kebebasan berpendapat.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2021 22:10 WIB

Tak Jadi di Situbondo, Artidjo Alkostar Dimakamkan di UII Jogja

Nasional

Tak jadi dimakamkan di Situbondo.

28 Feb 2021 21:52 WIB

Arsenal Menang Besar di Kandang Leicester City

Liga Inggris

Leicester City harus telan pil pahit setelah kalah dari Arsenal 1-3.

28 Feb 2021 21:32 WIB

Atta Halilintar Diangkat Jadi Presiden Komunitas Motor Listrik

Ngopitainment

Bamsoet angkat Atta sebagai presiden komunitas motor listrik Indonesia.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...