Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara (kedua kanan) didampingi Kepala Balai Besar Industri Agro (BBIA) Umar Habson (kanan) memberikan penjelasan kepada Menteri Industri Pengolahan Makanan India, Sadhvi Niranjan Jyoti (kedua kiri) mengenai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk industri makanan dan miuman di dalam negeri ketika meninjau laboratorium BBIA di Bogor, Jawa Barat, (Foto: Biro Humas Kement)

Kemenperin Temukan Mikroba Pengurai Limbah

05 Mar 2018 09:50

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang menemukan mikroba pengurai limbah dan sistem pengolahan limbah terintegrasi. Penemuan ini diharapkan dapat menjawab seputar masalah limbah yang kerap dikeluhkan warga sekitar kawasan industri.

“Masalah pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat di lingkungan industri terus menjadi perhatian Kemenperin dalam membangun industri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara melalui keterangan tertulisnya.

Menurut Ngakan, sistem pengolahan limbah terintegrasi ini pada prinsipnya adalah implementasi teknologi pengolahan anaerob-wetland.

Teknologi anaerob merupakan sistem pengolahan limbah secara biologi dengan cara menguraikan senyawa-senyawa polutan dengan memanfaatkan aktivitas mikroba.

“Pengolahan ini dilakukan secara anaerob atau tanpa udara. Sebagai proses lanjutan dalam pengolahannya, teknologi anaerob ini dikombinasikan dengan wetland yaitu proses pengolahan dengan menggunakan tanaman sebagai medianya,” jelasnya.

Jadi, selain menggunakan mikroba, BBTPPIjuga mengembangkan pengolahan air limbah menggunakan tanaman berakar (wetland). Setelah limbah diurai mikroba, limbah akan dilewatkan dalam tanaman berakar, yang akan menyerap unsur-unsur polutan.

Ngakan menyampakan, penemuan sistem terintegrasi pengolahan limbah ini akan diduplikasi kepada perusahaan-perusahaan sejenis.

“Karena sebelumnya, dalam upaya mengurai limbah padat, sejumlah perusahaan menggunakan zat kimia, di mana hasil pengolahannya masih mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3),” ungkapnya.

Untuk itu, melalui mikroba anaerob, limbah yang dihasilkan akan memenuhi baku mutu atau standar hasil limbah kualitas terbaik dan bebas dari limbah B3.

Penelitian sistem pengolahan limbah terintegrasi ini sudah diterapkan di PT Korin Jaya yang bergerak di bidang produksi karton. Direktur Operasional PT Korin Jaya, Mr Park Jung Yong menyatakan, limbah yang tadinya berwarna hitam pekat dan padat, kini telah berubah seperti air sungai.

“PT Korin peduli dengan lingkungan. Karena itu, penelitian dari BBTPPI kami terapkan supaya masyarakat terbebas dari kanker," tuturnya.

Menurutnya, dengan menerapkan hasil penelitian BBTPPI, biaya yang dikeluarkan perusahaan menjadi lebih kecil dibandingkan dampak pencemaran yang terjadi di lingkungan dan masyarakat.

“Kami akan mengajak perusahaan lain dapat melihat kinerja hasil penelitian dari Kemenperin ini,” ujarnya. (ant)