Wapres Jusuf Kalla. (foto: dok.antara)
Wapres Jusuf Kalla. (foto: dok.antara)

Kalau KPK Banyak "Pasien", Berarti BPKP Kan Tidak Efektif?

Ngopibareng.id Nasional 17 July 2018 14:54 WIB

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saat ini banyak menangkap pejabat yang korupsi, itu artinya BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) tidak berfungsi.

Yang mengatakan ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurutnya, banyaknya kasus dugaan korupsi yang ditangani KPK  menunjukkan pengawasan oleh BPKP  menjadi tidak efektif.

"Kalau mau dihubungkan pengawasan dengan KPK, artinya kalau KPK makin banyak pasiennya, itu berarti pengawasan tidak efektif. Pengawasan menjadi efekitif apabila pasien KPK berkurang," kata Wapres Jusuf Kalla saat membuka Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah 2018 di Gedung BPKP RI, Jakarta, Selasa 16 Juli 2018.

Wapres mengungkapkan jumlah perkara tindak pidana korupsi di Indonesia saat ini cenderung menurun dari jumlah kasus pada masa lalu. Hanya saja, lanjut JK, saat ini, setiap kegiatan penangkapan terduga koruptor dengan mudah dapat diketahui masyarakat. Hal itu menunjukkan seolah-olah tindak pidana korupsi di Indonesia makin tinggi.

"Sekarang ini walaupun kadang-kadang saya yakin bahwa sebenarnya korupsi kita menurun, makin banyak orang itu diketahui korupsi. Kalau zaman dahulu, tidak ada KPK, tetapi tentu hal seperti lobi-lobi itu merupakan hal biasa," tambahnya.

Pemahaman auditor dan pengawas juga harus luas sehingga memahami ada diskresi yang dimiliki oleh pejabat daerah.

Para pejabat sebagai pengguna anggaran tidak mudah diliputi rasa takut untuk memulai pembangunan, khususnya di daerah, kata Wapres.

"Selain ketegasa, pengawas juga harus mengetahui filosofi dan kebijakan, mengerti diskresi. Apabila semua hal dianggap sebagai pelanggaran, pejabat negara akan diliputi rasa takut. Apabila pejabat diliputi rasa takut, pembangunan juga tidak akan berjalan," jelasnya.

Oleh karena itu, BPKP diharapkan dapat menjalankan fungsi pemberian pendidikan dan evaluasi pengawasan agar para pengguna anggaran tidak melanggar batas aturan sehingga dianggap sebagai bentuk penyelewengan atau korupsi.

Salah satu tugas BPKP adalah mendidik dan melatih. Dengan demikian, BPKP harus melatih bagian pengadaan di daerah, di provinsi dan kabupaten supaya mereka jangan melanggar.

Bukan berarti agar mereka tidak menyeleweng, melainkan supaya tidak melanggar. "Bisa saja mereka melangar tanpa sengaja karena tidak tahu," ujarnya.

Wapres berharap BPKP dapat lebih meningkatkan pengawasan keuangan dan pembangunan, baik di pusat maupun daerah, supaya anggaran belanja Pemerintah dapat digunakan dengan baik untuk mempercepat pembangunan nasional secara merata. (ar/ma)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Mar 2021 09:57 WIB

Kenang Artidjo Alkostar, Jokowi: Sosok Berintegritas Tinggi

Nasional

Presiden Jokowi punya kenangan khusus dengan mendiang Artidjo Alkostar.

28 Feb 2021 20:07 WIB

Jenazah Artidjo Alkostar Dimakamkan di Situbondo

Nasional

Jenazah Artidjo dimakamkan di tanah kelahirannya di Situbondo, Jawa Timur.

28 Feb 2021 12:15 WIB

5 Fakta Kasus Dugaan Korupsi Proyek Wisata Jerat Nurdin Abdullah

Nasional

Gubernur Nurdin Abdullah terjerat OTT KPK.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...