Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Istimewa)

Haedar: Nilai Keruhanian Seorang Pemimpin Mempunyai Arti Penting

Ngopibareng.id Khazanah 15 October 2020 12:10 WIB

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, pemimpin itu orang yang punya posisi penting dan pemimpin bukan hanya orang-orang yang punya keahlian semata-mata. Ia yang menguasai disiplin ilmu semata-mata, atau pengalaman-pengalaman yang terbatas semata.

"Tetapi harus naik kelas menjadi orang yang diatas rata-rata yang punya visi kebangsaan, kenegaraan dan kemanusiaan semesta yang melintasi dan melebihi dari yang lain,” tutur Haedar, dalam keterangan Kamis, 15 Oktober 2020.

Karena itu, lanjut Haedar, pemimpin adalah orang yang paling didepan untuk bertanggungjawab atas apa yang Ia pikirkan, Ia lakukan dan Ia letakkan jejaknya sebagai legesi didalam kepemimpinannya.

Haedar Nashir, pada pada Rabu memberikan amanat dalam Penutupan Pesmaba Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2020.

Haedar berharap kepada Maba UMM 2020 kelak ketika lulus dari kampus putih, dapat menjadi leader (pemimpin) dimanapun para mahasiswa berada.

“Menjadi pemimpin itu menjadi orang yang bertanggung jawab di atas dan di depan. Kullukum ra’in wa kullu roin masulun ‘an ra’iyyatihi,setiap anda adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya atas apa yang dilakukan dalam kepemimpinanya,” jelas Haedar.

Pemimpin karena berada didepan dan diatas, Ia memang harus bersama dengan orang-orang yang dipimpin, tapi Ia harus punya kelebihan termasuk visi kepemimpinan dan kenegaraan serta pandangan kemanusiaan semesta.

“Kalau pemimpin kemampuannya terbatas, Iaberada di dalam ruang kecil dalam dunia kecil yang sempit. Bahkan ketika pemimpin itu hebat tetapi kehebatannya tidak disertai dengan jiwa kepemimpinan maka akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang fasad fil ‘ardh, menimbulkan kerusakan di muka bumi.

"Kita sebut Fir’aun, tetapi kemampuan dan kehebatan disalahgunakan akhirnya menimbulkan kebencanaan dalam peradaban manusia,” terang Haedar.

Kita mencatat Hitler, Mussolini dan para pemimpin dunia yang menimbulkan onar dan nestapa dalam peradaban. Kehebatannya baik ilmu, pengalaman dan wawasannya tidak disertai dengan ruhani kepemimpinan dan nilai-nilai keruhanian.

“Nilai-nilai keruhanian itulah yang juga perlu dipupuk oleh para calon pemimpin,” tegas Haedar.

Haedar juga menegaskan bahwa, dalam hal wawasan pemimpin tidak cukup hanya punya keahlian semata, tapi harus bercakrawala luas, visi dan pemikiranya tidak boleh sempit dari ruang dan halaman rumahnya. Dia harus melampaui.

Haedar juga berharap kelakmahasiswa UMM dapatmenjadi pemimpin, baik dikeluarga, dimasyarakat, pemimpin umat dan bangsa bahkan pemimpin ditingkat global.

Bangun integritas diri, ilmu dan wawasan yang melampui serta jiwa kepemimpinan yang penuh pertanggung jawaban moral sehingga dari rahim kepemimpinan lahir apa yang diteladankan oleh Rasul akhir zaman. Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin, yakni kepemimpinan yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Bukan kepemimpinan yang fasad fill ‘ard yang merusak dan menimbulkan bencana dalam kehidupan.

“Islam mengajarkan umatnya memilki al akhlak al karimah, bahkan nabi diutus ‘Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak’ (HR Bukhari), seorang Rasul akhir zaman yang menggoreskan tinta kemajuan peradaban risalahnya dimulai dari iqra’ sekaligus membangun akhlak mulia,” tutur Haedar.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

31 Oct 2020 07:22 WIB

Lambaian Tangan Pemuka Agama, Humor Ini Memang Menegangkan

Humor Sufi

Dialog antara pastor dan pejabat tinggi

31 Oct 2020 07:01 WIB

Kuasai Ilmu, Wasathiyah Islam Harus Kedepankan Kaum Muda

Khazanah

Menuju Islam yang rahmatan lil 'alamin

31 Oct 2020 06:25 WIB

Seumur Hidup

Dahlan Iskan

Kejagung membuat gebrakan tuntutan seumur hidup untuk kasus pencucian uang.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...