Lahar panas menenggelamkan sebagian daerah di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Lumajang, Selas pagi. Gunung Semeru gawat tapi tidak meletus. (Foto:Istimewa)
Lahar panas menenggelamkan sebagian daerah di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Lumajang, Selas pagi. Gunung Semeru gawat tapi tidak meletus. (Foto:Istimewa)

Gunung Semeru Gawat, Tapi Tidak Meletus

Ngopibareng.id Warta Bumi 01 December 2020 10:04 WIB

Gunung Semere di wilayah Kabupaten Lumajang, dalam keadaan gawat. Gunung tertinggi di Jatim ini mengeluarkan lava pijar. Bahkan di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, sekitar pukul 2.00 lahar panas keluar dan sebagian kawasan pertanian dan kawasan penambangan pasir. Beberapa ternak tewas akibat terkubur lava.

BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)  Kabupaten Lumajang menyebutkan Gunung Semeru tidak meletus, tetapi mengeluarkan lava panas danmasih dalam status Waspada Level II. Karena itu diharapkan masyarakat tidak panik.

Menurutnya, hasil pendeteksian alat seismograf kemarin di Pos Pantau Gunung Sawur menyebutkan bahwa memang terjadi gempa tremor harmonik, letusan, hingga guguran lava pijar di puncak Gunung Semeru sejak Jumat 27 November lalu.

"Gunung Semeru tidak meletus, tetapi memang terjadi letusan mulai Jumat  dan memang mengeluarkan lava pijar yang mengarah ke areal Curah Kobokan sebanyak 13 kali dengan jarak luncur dari lidah lava/puncak sekitar 500-1.000 meter," tuturnya.

Ia mengatakan luncuran lava pijar tersebut masih jauh dari permukiman, hutan maupun area KRB (Kawasan Rawan Bencana) I, II dan III di Gunung Semeru, namun warga diimbau untuk tetap waspada.

"Saya mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km, dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru sebagai alur luncuran awan panas," katanya.

Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai gugurnya kubah lava pijar di Kawah Jongring Seloko, sehingga BPBD Lumajang terus melakukan koordinasi dengan pihak perhutani dan TNBTS karena dikhawatirkan nanti luncuran lava pijarnya itu akan semakin panjang.

"Luncuran lava pijar itu dapat menyebabkan adanya kebakaran lahan dan hutan yang ada di lereng Gunung Semeru seperti beberapa tahun lalu," ujarnya.

Pihaknya terus berkoordinasi secara intens dengan pihak Perhutani dan TNBTS, dengan saling memberikan informasi melalui jaring komunikasi untuk melaporkan setiap saat perkembangan hutan maupun aktivitas Gunung Semeru.

Sementara itu, pendakian ke Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl ditutup sementara sejak 30 November 2020 karena aktivitas gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur tersebut mengalami peningkatan.

Penutupan jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dikeluarkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) telah mengeluarkan Surat Pengumunan Nomor : PG.10/T.B/BIDTEK.1/KSA/11/2020 tentang Penutupan Sementara Kegiatan Pendakian Gunung Semeru. (ant/sbh)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Jan 2021 17:10 WIB

RSTKA Tambah Layanan Dapur Umum

Surabaya

RS Terapung menambah layanan dapur umum untuk korban gempa Sulbar.

22 Jan 2021 16:55 WIB

Anggaran Pendidikan Rp550 T, Kemendikbud Hanya Kelola Rp81 T

Nasional

Sebagian besar dana dikelola lembaga lain termasuk Pemda.

22 Jan 2021 16:45 WIB

10 Kelurga Korban Terorisme di Sulsel dapat Ganti Rugi Rp2 M

Nasional

Korban meninggal mendapat ganti rugi Rp250 juta.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...