'Gandheng-Renteng' Sebagai Gerakan Kebudayaan

23 Jan 2020 11:43 Tokoh Lain

Oleh : Wahyu Nugroho

KGSP adalah pengusung perhelatan Gandheng-Renteng, suatu organisasi seni independen (bukan dewan kesenian) berlokasi di Pasuruan. Salah satu misi yang diemban KGSP (Komunitas Guru Seni dan Perupa) adalah ikut  berkontribusi mengatasi persoalan budaya di Pasuruan dengan cara mendekatkan seni ke berbagai lapisan masyarakat, khususnya kalangan muda. Organisasi yang dibentuk tahun 2008 kini jumlah anggotanya mencapai sekitar seratusan pekerja seni, yang hampir 80 persen didominasi kalangan muda dari berbagai cabang seni. 

Apa persoalan sosial dan budaya yang dihadapi Pasuruan terkini ?

Sudah menjadi persoalan umum, krisis moral semakin meresahkan kehidupan masyarakat, termasuk di Pasuruan. Berbagai kalangan; pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat, ilmuwan hingga budayawan – mencoba menyajikan format penyelesaian. Namun, alih-alih ditemukan jalan keluar, justru krisis tersebut kian hari kian menjadi-jadi. 

Krisis moral ini tidak saja melanda manusia dewasa, tetapi telah merambah ke dunia remaja. Seringkali kita melihat, mendengar, atau membaca berita tentang perbuatan-perbuatan asusila, penyalahgunaan narkoba, miras, atau kekerasan di kalangan pelajar dan generasi muda. Sebagai warga “Kota Santri” tentu masyarakat Pasuruan dibuat ‘nelangsa’.  Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ?

Tak ayal, berbagai pendapat pun bermunculan ke permukaan; ada yang memaki-maki, menyalahkan orang tua, menyalahkan pendidikan, ajakan untuk kembali mendalami ajaran agama. Apa hasilnya ? Persoalan moralitas terus berlanjut. Para tokoh hanya mengemukakan pendapat-pendapat, setelah itu kembali pada rutinitas harian mereka; ke kantor, berdakwah, berdagang dan dilanjutkan ngrumpi dengan teman sejawat.

Nyaris tak ada upaya-upaya yang lebih konkrit untuk mengawal penguatan nilai-nilai moralitas di tengah warga ‘Kota Santri’ ini. Bertolak dari keprihatinan itu,  para pekerja seni Pasuruan mencoba memberi ‘alternatif lain’ dalam memberi jawab atas permasalahan moralitas di atas.

Pangkal kegagalan dalam mengatasi masalah moralitas itu karena kesempitan sudut pandang dalam memaknai persoalan moralitas, yaitu tentang baik-buruk atau halal-haram semata. Akibatnya, upaya untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan cara dicekoki secara intensif pengetahuan tentang hukum-hukum baik-buruk atau hukum halal-haram yang disampaikan secara normatif.

Bagi KGSP masalah moralitas bukanlah sekadar persoalan baik-buruk. Lebih dari itu, masalah moralitas adalah perkara penafian “dunia dalam” yang berisi superego dan spiritualisme. Akibat “kecintaan yang berlebihan” terhadap dunia materi, yang kerap kali dibarengi dengan pengidentifikasian terhadapnya, manusia menjadi teralienasi terhadap “dunia dalam”-nya sendiri. Padahal, di dalam dunia ini bersumber nilai-nilai moralitas yang dapat meningkatkan martabat kemanusiaan seseorang. Penafian pada sumber-sumber ini menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusiaan.

Seni merupakan sarana untuk menyelami ‘dunia dalam’ tersebut. Lewat seni, pencipta dan pengamat seni ‘diwajibkan’ untuk menghayati dunia batin, penghayatan, spiritualitas, religiusitas serta tanggung-jawabnya sebagai manusia. Maka, dengan seni - secara langsung atau tidak langsung - akan terjadi proses pendidikan moralitas.

Namun sayang, seni seringkali dipandang juga dalam wilayah yang sempit, sehingga mengalami distorsi makna. Hanya dipahami sebagai persoalan keterampilan teknis, jalan untuk mencapai popularitas, dan urusan finansial. Banyak karya baru lahir tanpa memantulkan kedalaman penghayatan dan nyaris tanpa empati terhadap kondisi sosial lingkungannya. Perhelatan seni dimaknai sekadar mempertontonkan kepiawaian keterampilan teknis, ajang pamer popularitas, dan saling berlomba dalam mengejar materi.  Akibat dari perlakuan terhadap kesenian seperti ini, kekuatan berkesenian sebagai proses pendidikan moralitas hampir tidak pernah terjadi.

 

Wahyu Nugroho penulis FotoNgopibarengmanis
Wahyu Nugroho, penulis. (Foto:Ngopibareng/m.anis)

Oleh karena persoalan sosial di atas itulah KGSP lahir untuk mencoba ikut berkontribusi, walau mungkin perannya untuk saat ini masih relatif kecil. Cara yang dilakukan adalah dengan menyebarkan ‘virus-virus’ seni sebagai pilar penyangga martabat kemanusiaan, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Namun KGSP menyadari bahwa niat itu akan menjadi sebuah utopia dan  menguap sia-sia apabila masyarakat lainnya enggan untuk  mendukung dan ikut mengemban misi tersebut.

Jika hanya dilihat dari permukaan memang Gandheng-Renteng sama saja dengan perhelatan seni rupa pada umumnya, yaitu sederetan karya dengan display yang menawan. Mungkin sedikit yang membedakan dengan yang lain, selama perhelatan berlangsung setiap hari digelar berbagai macam seni pertunjukan di sekitar lokasi, misalnya : tari, sastra, musik, dan teater. 

Jika mau menelisik lebih dalam tentang misi dan strategi yang diterapkan, barulah bisa dipahami, bahwa semua perhelatan Gandheng-Renteng, dari periode pertama hingga kesepuluh, tidak sekadar pameran seni rupa atau  sekadar gerakan seni. Perhelatan Gandheng-Renteng lebih sebagai Gerakan Kebudayaan. Salah satu contoh gerakan kebudayaan tersebut bisa disimak selama proses menuju 'Gandheng-Renteng #10’, yang perhelatan finalnya akan dilaksanakan awal Maret 2020.

Pada perhelatan 'Gandheng-Renteng #10’ yang diperhatikan tidak hanya pada aspek kualitas karya dari sisi visual dan pengorganisasian pameran semata. Para perupa yang terlibat dalam perhelatan yang mengusung tema kepedulian pada lingkungan alam dan sosial ini harus mampu mempresentasikan secara verbal tentang wacana atau pemikiran yang melatarbelakangi penciptaan karyanya di hadapan tim kurator dan sesama calon peserta.

Saat presentasi diharapkan mereka mampu mempertahankan dengan argumentasi bila ada perdebatan. Selama proses penciptaan tim kurator melakukan pendampingan melalui diskusi dan konsultasi secara personal.

Tujuan dilakukan presentasi wacana atau pemikiran adalah untuk menanamkan kepekaan dan kepeduliannya pada lingkungan alam dan sosial secara lebih seksama. Dengan didominasinya calon paserta dari kalangan perupa muda diharapkan mereka akan menjadi agen perubahan setidaknya di lingkungannya sendiri.

Begitu.

*Wahyu Nugroho, perupa tinggal di Purwosari, Pasuruan

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini