Floa Think in Harmony, Hadirkan Harmoni Bermedia Sosial

13 Mar 2019 20:42 Surabaya

Kemudahan berinteraksi dengan tren yang ada saat ini memunculkan perbedaan cara pandang antara satu dengan yang lain. Hal ini menginspirasi akademisi dari Universitas Ciputra untuk menghasilkan karya seni bertajuk 'FloaThink in Harmony' yang diadakan di Galeri Paviliun House of Sampoerna, Surabaya.

Pameran ini diprakarsai sebelas orang seniman. Yang mengangkat tema media sosial dan internet harus disikapi dengan bijaksana. Terutama dalam menghadapi perubahan dan derasnya pengaruh budaya luar agar identitas bangsa dapat terjaga.

"FloThink in Harmony dipilih sebagai gambaran bagaiman kami mengejar, terbang, dan melayang dalam menyikapi laju perkembangan teknologi. Namum di sisi lain timbul harapan agar tetap menapak dan berakar pada prinsip juga norma," ujar Henry Trisula, salah seorang seniman.

Harmonisasi ini divisualisasikan dalam 30 karya dua dimensi maupun dua dimensi. Seperti lukisan berjudul 'Menuju Masa Depan, Melestarikan Masa Lalu' karya Hendry Trisula.

"Di lukisan ini saya ingin mengambarkan bahwa meskipun kita ada di era serba modern dimana informasi dari berbagai negara bisa diakses dengan mudah. Tapi kita juga punya budaya yang tak kalah bagus dan harus tetap kita ingat," ungkap dosen Basic Design Universitas Ciputra ini.

Lukisan berukuran 60 cm x 90 cm ini, digambarkan makhluk mitologi Indonesia. Seperti burung garuda, Lutung Kasarung, Barong, Naga basuki, Lembu Suana dan Buto Ijo yang mengelilingi seorang pemuda (yang mewakili anak muda zaman sekarang) dengan baju tradisional yang sedang memegang smartphone di tangan.

Salah satu karya Henry Trisula Menuju masa depan  lestarikan masa lalu  Foto  pitangopibarengid
Salah satu karya Henry Trisula 'Menuju masa depan, lestarikan masa lalu' (Foto : pita/ngopibareng.id)

"Di sini saya ingin masyarakat melihat bahwa meskipun kita hidup dengan mengikuti perkembangan zaman, tapi kita juga harus selalu berpijak pada akar budaya dan norma. Apalagi untuk kaum muda," tambahnya. 

Henry mengatakan,  karya ini terinspirasi dari kecintaannya terhadap cerita dongeng yang sudah banyak ditinggalkan kaum muda sekarang. Karena mereka lebih memilih cerita atau drama dari luar negeri. 

"Saya ambil ini mereka tertarik dengan dongeng, dan mereka tau bahwa dongeng Indonesia juga tak kalah menarik dari cerita dari luar negeri yang banyak bermunculan," jelasnya. 

Selain karya Henry ini, ada beberapa karya yang bisa Anda nikmati seperti lukisan berjudul 'In the Dark' karya Valentina Weyland,  karya tiga dimensi Jenny Lee yang bejudul 'Spirit in My Cups', 'Miror Miror on The Wall' karya Sherly Gunawan. 

Sementara, Rani Anggraini selaku Manager House of Sampoerna mengatakan,  isu yang diangkat dalam karya ini merupakan isu yanh dekat dengan masyarakat bagaimana sekarang ini banyak orang berkata tanpa berpikir di media sosial dan banyak juga yang menyebarkan hoax. 

"Untuk itu kami mengajak masyarakat bersikap bijaksana dalam menyikapi hal ini, lewat karya yang ditampilkan para semiman dengan gayanya unik dan berbeda antara satu sama lain," kata Rani saat ditemui dilokasi acara. 

30 karya 'Floa Think in Harmony' karya dari sebelas seniman ini dapat anda nikmati mulai tanggal 14 Maret sampai 6 April 2019. Bertempat di House of Sampoerna Surabaya. (pta)

Penulis : Pita Sari
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini