Dewo Pratomo pernah berboncengan motor hadap belakang selama enam hari berturut-turut. (Foto: Dewo Pratomo)

Enam Cyclingrapher Kondang Indonesia

05 Aug 2020 17:38

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Keberadaan fotografer sangat penting untuk mengabadikan momen. Tak hanya ulang tahun, pernikahan, atau liburan. Momen gowes pun perlu jadi kenangan.

Tidak mudah memotret cyclist bersepeda. Harus memadukan bukaan diafragma, speed, aperture, dan lainnya. Belum lagi harus mencari angle terbaik. Semua ini dilakukan sambil bergerak. Bisa dari atas mobil atau motor. Bahkan saat gowes lalu motret temannya.

Enam fotografer kondang di kalangan cyclist yang bisa disebut cyclingrapher ini bisa membuat momen gowes anda jadi memorable!

Dewo Pratomo

Hobi utamanya adalah fotografi. Pria yang suka humor ini sudah melanglang buana memotret mobil balap F1, motor balap MotoGP dan pernik-perniknya di belasan sirkuit seluruh dunia. Saat ini lagi jatuh cinta dengan cyclingraphy.

Dewo yang hobi gowes dengan Brompton ini mengandalkan kamera Canon 1dx mark i dan mark ii dipadu lensa 24-70 dan 70-200. Spesialisasinya adalah foto candid dengan fokus pada ekspresi. Juga foto cycling scenery.

Salah satu contoh foto hasil jepretan Dewo Pratomo. Dewo lebih suka mengambil foto ekspresi candid dipadu pemandangan spektakuler. (Foto: Dewo Pratomo)

Tak jarang Dewo memberi kejutan. Semalam sebelumnya, Dewo hanya menanyakan ke teman cyclist “Anda gowes mana besok?” tanpa memberitahu akan difoto oleh bos Otak-Otak event organizer.

Tiba-tiba siang harinya, foto-foto cyclist sudah ter-upload di laman Facebook atau Instagram Dewo. Tentu dengan berbagai ekspresi candid dipadu pemandangan spektakuler ala DePe, panggilan akrabnya. Tujuannya adalah untuk menjadi penyemangat teman-teman gowes.

Jadi di setiap rute gowes, siapkan diri dan ekspresi sebaik mungkin. Siapa tahu wajah meringis karena tanjakan horor muncul di sosial media pria yang mengaku mencari pahala dengan memotret ini.

Paling berkesan, Dewo pernah boncengan dengan motor tapi hadap belakang selama enam hari berturut-turut. “Saat EO saya bikin even gowes Jakarta–Surabaya selama enam hari saya harus memotret mereka,” tuturnya.

Spesialisasi: candid ekspresi dan pemandangan

Kamera: Canon 1 dx mark I dan mark ii

Instagram: @dewopratomo

Facebook: dewopratomo

Kota: Surabaya

Darius Hariyanto dalam sebuah kesempatan. Dia sempat vakum gowes karena punya hobi baru. Naik Gunung! Tapi akhirnya dia kembali menekuni gowes. (Foto: Istimewa)

Darius Hariyanto

Darius memang sudah hobi gowes sejak lama. Sempat vakum karena ganti hobi naik gunung. Tapi cinta lama bersemi kembali, 2017 dunia sepeda memanggil hatinya.

Apalagi setelah bergabung dengan komunitas sepeda terbesar se-Malang, Ratjoen Cycling Community ini. Membuat Polygon Strattos S2 dan Sony A7ii atau Sony A6400 selalu berdampingan menemani Darius berpetualang gowes.

Salah satu contoh foto hasil jepretan Darius Hariyanto. (Foto: Darius Hariyanto)

Teman-teman Ratjoen CC juga sangat gembira. Ada yang memfoto saat mereka gowes mingguan. Juga menjadi dokumentasi komunitas Ratjoen CC Malang. Buat Darius, melalui bidikan kameranya, dia bisa mendapatkan ribuan teman.

Pria yang mempunyai spesialisasi foto saat gowes dan candid ekspresi ini memiliki banyak cerita unik. Mulai cerita sedih yaitu kamera rusak saat sedang tugas hingga cerita seru numpang charge baterai kamera di rumah penduduk.

Pernah juga, saat di Bali, Darius sudah berada di posisi yang pas dan tinggal menunggu momen cyclist lewat lalu jepret. Eh, didatangi oleh petani lokal. Mereka sangat baik, mengajak kenalan lalu ngobrol. Sebagai perkenalan diberi satu kantongan besar salak Bali.

Alhasil, saat jalan pulang Darius harus bawa kamera, backpack juga kantongan besar isi salak. “Mau dibuang kok sayang, tapi dibawa juga repot,” tuturnya lantas tertawa.

Spesialisasi: foto gowes dan candid ekspresi

Kamera: Sony A7ii atau Sony A6400

Instagram: @dariushariyanto

Facebook: Darius Hariyanto

Youtube: dD23project

Kota: Malang

Josua Alessandro in action. (Foto: Istimewa)

Josua Alessandro

Buat Joe, panggilan akrabnya gowes itu bisa membawa dirinya ke tempat-tempat eksotis. Untuk diabadikan melalui bidikan kamera Fuji Film XT-1 dan GoPro 7 Black.

Poin utama cyclingraphy yang diincar oleh Joe adalah pemandangan dan teman-teman gowesnya. Jadi sering, karya Joe tidak fokus pada wajah atau ekspresi cyclist. Kompensasinya, paduan antara cyclist dan pemandangan akan spektakuler dalam setiap jepretannya.

Salah satu contoh jepretan hasil karya Joe. Dalam memotret, Joe memang tidak fokus pada wajah atau ekspresi cyclist. Dia lebih suka memadukan antara cyclist dan pemandangan. (Foto: Josua Alessandro)

Pengguna Canyon Grail AL 7.0 SL ini pernah melakukan turing cyclingraphy ke Yordania dan memotret pemandangan di negeri itu. Pernah juga Joe gowes di Taiwan mengikuti RCC Summit di Wuling. Tentu memotret dengan spektakuler di sana.

Tak salah, beberapa karya fotografi Joe digunakan di buku majalah dan instagram Air Asia, Garuda Indonesia dan National Geographic Traveller Indonesia.

Spesialisasi: foto cyclist dengan pemandangan

Kamera: Fuji Film XT-1 dan GoPro 7 Black

Instagram: @kazevelo

Kota: Jakarta

Wito Nugroho sedang in action. Dia paling suka foto ekspresi cyclist ketika gowes dalam kecepatan tinggi. (Foto: Istimewa)

Wito Nugroho

Paling suka foto ekspresi cyclist ketika gowes kecepatan tinggi. Maklum tinggal di Jakarta membuat Wito mayoritas gowes dalkot (dalam kota). Jadi pasti cyclist akan geber kecepatan tinggi terus.

Pengguna sepeda roadplus, 3T Exploro ini sanggup mengimbangi peloton. Bahkan mendahuluinya untuk membidikkan kamera Fuji Film XT2 nya ke wajah cyclist lain. “Saya suka fitur dan warnanya Fuji ini. Bisa menangkap ekspresi candid dan natural dengan baik,” alasan ayah seorang anak ini.

Salah satu contoh jepretan karya Wito. Dia sanggup mengimbangi bahkan mendahului peloton untuk membidikkan kameranya. (Foto: Wito Nugroho)

Banyak yang dibidik Wito dari dalam peloton. Selain ekspresi, Wito juga sering memotret grup peloton itu. Lalu juga memotret bagian-bagian dari sepeda yang menurutnya keren. Semuanya dijepret pada saat peloton lagi jalan dengan kecepatan lebih dari 40 km/jam!

Beruntung, sepeda yang digunakan Wito adalah sepeda gravel. Sehingga membuat dirinya bisa eksplorasi cyclingraphy. “Biasanya pemandangan saat gravelan itu selalu spektakuler,” tukas penyuka foto saat hujan ini.

Spesialisasi: foto panning peloton dan pemandangan

Kamera: Fuji Film XT2

Instagram: @wito.nugroho

Kota: Jakarta

Parikesit Adiguno, hobi gowes juga membuatnya jadi cyclingrapher. (Foto: Istimewa)

Parikesit Adiguno

Bekerjalah sesuai hobi. Itu motto dari Adiguno, sapaan akrabnya. Tak salah jika pria lajang ini berprofesi sebagai fotografer wedding dan acara. Karena itu hobinya.

Selain itu, hobi gowes juga membuatnya jadi cyclingrapher. Sejak 2013 Adiguno sudah gowes dengan sepeda Fixie. Lantas tahun 2019 mengganti sepedanya dengan road bike Specialized.

Saat gowes, kadang Nikon D750 dicangklong di badannya dan siap memotret cyclist lain. Adiguno mengaku tidak memiliki spesisalisasi. “Basic saya fotografer, jadi mau motret apapun saya bisa,” bangganya.

Salah satu contoh karya jepretan Parikesit Adiguno di Wonokitri Bromo. (Foto: Parikesit Adiguno)

Motret produk sepeda di outdoor atau indoor atau studio juga bisa. Motret peloton latihan maupun balapan, atau foto lifestyle semuanya dijabani oleh cyclist yang memfavoritkan foto pemandangan di Cangar, Batu ini.

Spesialisasi: foto produk, lifestyle, race atau peloton, pemandangan

Kamera: Nikon D750

Instagram: @adiguno20

Kota: Surabaya

Heru Subekti dalam sebuah kesempatan. Berawal dari iseng menjepret teman-temannya saat gowes, malah kemudian kecebur menjadi cyclingrapher. (Foto: Istimewa)

Heru Subekti

Hobi gowes dan fotografi sudah lama digeluti Heru. Kadang saat gowes bareng komunitas Jogja Folding Bike, Heru iseng menjepret teman-temannya. Tak disangka banyak yang suka dan memamerkannya di laman sosial media mereka. Makin bersemangatlah Heru hunting foto gowes.

Puncaknya, saat Tour de Ambarukkmo dirinya dipinang oleh panitia via DM di facebook. Akhirnya satu demi satu even gowes menghubunginya untuk jadi tim dokumentasi.

Salah satu foto karya Heru Subekti. Dia paling suka momen foto gowes saat menanjak. (Foto: Heru Subekti)

Heru paling suka foto saat gowes menanjak. Bisa dapat ekspresi cyclist sekaligus foto dari ketinggian pasti backround nya bagus. Dan foto nampak dramatis saat Heru menjepret dengan menampilkan komposisi cyclist dan jalan miring.

Pernah semalam sebelum even, baterai kamera Nikon d3s-nya belum dicharge dan listrik mati. “Saya bingung setengah mati, untung dini hari listrik nyala langsung saya charge,” tuturnya lantas tertawa.

Spesialisasi: ekspresi candid saat menanjak

Kamera: Nikon d3s

Instagram: @herusubekti273

Facebook: Heru Subekti

Kota: Jogjakarta