Ketua Umum PBNU Doakan Jokowi Jadi Presiden Lagi

31 Jan 2019 16:12 Nasional

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, menegaskan jati diri NU adalah menegakkan kebenaran dan cinta negara dengan resiko apapun. Salah satu jati diri NU diperlihatkan oleh pendiri NU yakni KH Hasyim Asy'ari ketika diperintah Jepang sujud ke arah timur. KH Hasyim Asy'ri dengan tegas menolak karena bertentangan dengan aqidah.

Pernyataan Said Aqil itu disampaikan pada pidato peringatan hari kelahiran ke 73 NU di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. Said juga menyoroti ketimpangan dan pertarungan pemodal besar pedagang kecil yang notabene adalah warga NU, yang selalu kalah.

Di akhir sambutannya, Said Aqil mendoakan Jokowi diberi kekuatan oleh Alloh untuk memimpin kembali Indonesia. "Saya hanya mendoakan, bukan kampanye," kata Ki Said.

Puncak peringatan Harlah ke 93, memang dihadiri Presiden RI Joko Widodo. Presiden tiba di tempat acara disambut dengan sholawat badar. Duduk di panggung kehormatan, Presiden didampingi Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj yang berada di sebelah kiri, dan Pimpinan Pondok Pesantren Assidiqiyah, Kebun Jeruk KH Nur Muhammad Iskandar.

Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, juga hadir bersama
beberapa anggota kabinet lainnya. Ulama sepuh dan kyai kampung dari berbagai daerah di Indonesia juga hadir.

Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU merangkap Ketua Tim Konsolidasi NU, Robikin Emhas kepada ngopibareng.id mengatakan peringatan hari kelahiran NU ke 93 ini akan dijadikan momentum konsolidasi organisasi di berbagai tingkatan. Mulai dari struktur Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang, Ranting, hingga Anak Ranting NU.

Konsolidasi NU sudah dimulai pertengahan tahun 2018, meliputi konsolidasi struktur, kultur dan program. Konsolidasi ini melibatkan secara aktif seluruh pemangku pondok pesantren, para kyai dan masyayikh, serta tokoh-tokoh NU kultural.

Konsolidasi organisasi bertujuan agar NU, baik sebagai jam’iyah maupun jama’ah siap menyongsong satu abad kelahirannya yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2026.

"Usai resepsi hari ulang tahun akan dilanjutkan konsolidasi organisasi yang diikuti oleh seluruh fungsionaris PBNU yang meliputi Mustasyar, A'wan, Syuriyah, Tanfidziyah beserta seluruh pengurus lembaga dan badan otonom NU," kata Robikin.

Menurut Robikin, NU akan mempertegas kembali sikapnya bahwa Indonesia bukan negara agama. Namun tak seorang pun warga negara Indonesia boleh tidak beragama. Konstitusi bahkan menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk dan menjalankan peribadatannya sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

Dengan demikian, harus dikatakan dengan tegas, Indonesia bukan darul kufr (negara kafir). NU berpandangan bahwa Indonesia merupakan darussalam (negara damai). Karena itu tidak siapa pun boleh menjadikan Indonesia sebagai darul harb (kawasan perang). Bahkan di medsos sekalipun.

"Jadi, jangan mempertentangkan agama dengan negara. Karena agama dan negara bisa saling memperkuat. Hubbul wathon minal iman (nasionalisme bagian dari agama)," kata Robikin. (asm)

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini