Buka-bukaan Mahfud MD, dari Soal Baju Hingga Cawapres Koruptor

15 Aug 2018 10:58 Politik

"Saya diberitahu, Pak Mahfud sekarang pilihan sudah mengerucut ke bapak, syarat-syarat harus disiapkan, nanti pada saatnya akan diumumkan," kata Mahfud.

Apa sebenarnya yang terjadi sampai Mahfud MD terlihat mempersiapkan diri meski pada akhirnya dirinya tidak ditunjuk sebagai calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo ? Dalam diskusi di Indonesia Lawyers Club, Selasa 14 Agustus 2018 malam, Mahfud blak-blakan menceritakan situasi saat itu.

Menurut Mahfud, apa yang ia lakukan dengan mempersiapkan diri menjadi cawapres adalah perintah setelah dirinya mendapatkan sinyal dari Istana. Beberapa orang dari istana diantaranya Mensesneg Praktikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki memberitahukan akan kepastian dirinya bakal menjadi cawapres Jokowi.

Ia menceritakan, kepastian dari Istana datang pada 1 Agustus sekitar pukul 23.00 WIB, dimana saat itu dirinya diundang oleh Pratikno di Rumah Dinas Widya Candra. Saat itu Teten juga ikut dalam pertemuan. 

Di rumah Pratikno, disampaikan bahwa ia akan dipilih sebagai cawapres Jokowi dan harus segera mempersiapkan diri termasuk melengkapi sejumlah persyaratan administrasi untuk mendaftar ke KPU sebagai pasangan calon. Selain itu, berbagai skenario saat pendaftaran ke KPU juga dijelaskan oleh Pratikno dalam pertemuan malam itu. 

"Saya diberitahu, Pak Mahfud sekarang pilihan sudah mengerucut ke bapak, syarat-syarat harus disiapkan, nanti pada saatnya akan diumumkan," kata Mahfud. 

Mahfud kemudian melaksanakan permintaan Istana yang disampaikan oleh Pratikno dan Teten saat pertemuan itu. "Tapi saya dibertahu, semua sudah beres, tapi bagaimana komunikasi dengan PKB," ujarnya.

Setelah itu, Mahfud lantas berkomunikasi dengan beberapa orangnya Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). "Saya kan tidak nyalon dari PKB, tapi kenapa harus diminta bertemu Cak Imin ? saya lantas menemui orang-orangnya (Cak Imin), ada beberapa yang saya temui," ujarnya.

Sepekan kemudian, Mahfud kembali diundang Pratikno, ada Teten juga di lokasi yang sama. "Pak Mahfud besok akan diumumkan, upacaranya nanti berangkat dari gedung Juang berangkat pakai sepeda motor. Pak Mahfud yang membonceng Pak Jokowi," kata Mahfud menirukan permintaan Teten saat itu.

Permintaan kepada Mahfud yang sudah detail mengenai teknis ini sempat diprotes Mahfud. "Kenapa tidak pakai motor berbeda ? Teten menjawab kalau motor berbeda nanti Pak Mahfud belok kiri Pak Jokowi belok kanan dan difoto media tidak bagus. Jadi sudah sangat detail saat itu dibicarakan teknisnya," kata dia.

Komunikasi Istana dengan mahfud tak berhenti di situ. Pada Kamis 9 Agustus 2018, atau sehari sebelum deklarasi capres-cawapres, Mahfud mendapat telepon Pramono Anung. Saat itu Mahfud diminta menyerahkan Curriculum Vitae (CV) resmi darinya untuk keperluan administrasi. Pada saat yang bersamaan, Mahfud juga ditelepon oleh Asisten Ajudan Presiden, yang meminta kesediaannya mengukur baju untuk dipakai saat mendaftar ke KPU.

"Kalau ngukur baju kan lama. Akhirnya disepakati saya mengirimkan baju yang sudah ada ke Istana," kata Mahfud menceritakan dialognya dengan Asisten Ajudan Presiden.

"Pukul 13.00 WIB, ada komunikasi dengan Pak Teten, dikatakan nanti jam 4 akan diumumkan di Plataran, Pak Mahfud nanti datang ke sana sambil menunggu," ujar Mahfud.

Akhirnya, sembari mengantar CV yang diminta Pramono, Mahfud juga mengantar contoh baju seperti yang diminta oleh Asisten Ajudan Presiden. Setelah selesai, sekitar pukul 13.00 WIB, Handphone Mahfud kembali berdering. Ia disuruh Teten agar segera bersiap dan menunggu pengumuman cawapres yang disampaikan langsung oleh Jokowi. Saat itu, Jokowi tengah bersama ketum-ketum parpol koalisi di Restorant Plataran, Menteng.

"Pukul 13.00 WIB, ada komunikasi dengan Pak Teten, dikatakan nanti jam 4 akan diumumkan di Plataran, Pak Mahfud nanti datang ke sana sambil menunggu," ujar Mahfud.

Setelah menungu di Resto Tesate, tak jauh dari lokasi Jokowi, Mahfud disuruh Pratikno untuk kembali ke kantornya. Dan Mahfud harus menerima kenyataan pahit urung menjadi cawapres karena Jokowi mengumumkan nama Ma'ruf Amin.

"Pak Pratikno yang memberi tahu, coba kembali ke posisi semula dulu, habis itu diumumkan gitu," ujarnya.

Setelah tiba di kantornya, ia lantas diburu oleh wartawan. "Saya sampaikan ke wartawan saya tidak sakit hati karena kepentingan negara jauh lebih besar ketimbang nama Mahfud MD ataupun Ma'ruf Amin," kata Mahfud.

Setelahnya, Mahfud kemudian dijemput ke Istana untuk bertemu Jokowi. Dalam pertemuan itu, Jokowi menyampaikan penyebab batalnya Mahfud diumumkan sebagai cawapresnya.

Dalam kesempatan ini, Mahfud mengisahkan kekesalannya pada Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romy) yang menyatakan bahwa Mahfud terlalu percaya diri akan dipilih menjadi cawapres Jokowi, sehingga mempersiapkan segala persyaratan sebagai cawapres. 

"Yang mungkin saya agak sedikit tersinggung justru pernyataan Ketua PPP, Romy. Begitu (saya) keluar dari ruangan, 'Pak Mahfud itu kan maunya sendiri, bikin baju sendiri, siapa yang nyuruh'. Saya agak tersinggung itu," ujar Mahfud.

Padahal, sehari sebelum deklarasi pasangan capres dan cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin, Romy bahkan memberikan kepastian kepada Mahfud akan ditunjuk jadi cawapres Jokowi. 

"Romy justru sehari sebelumnya bahwa saya sudah final (jadi cawapres Jokowi)," ungkapnya.

Karena kesal pada Romy, Mahfud, di depan Romy sempat mengungkit nama mantan Ketua DPR Setya Novanto yang kerap berlindung atas nama presiden agar terhindar dari jeratan kasus korupsi.

"Saya buru dia Novanto, masuk bui saya bilang. Jadi jangan main-main saya bilang. Karena saya tahu catatan-catatan (korupsi) semua calon itu (10 nama cawapres). Nah ini tapi bergurau saja. Tabayun," kata dia.

"Romy justru sehari sebelumnya mengatakan bahwa saya sudah final (jadi cawapres Jokowi)," kata Mahfud.

Dalam kesempatan ini, Mahfud juga sempat mengungkapkan kekesalannya karena sempat dituding bukan kader NU. Saat itu pada pada Rabu 8 Agustus 2018 Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Ketua PBNU Bidang Hukum, Robikin Emhas menyebut Mahfud bukanlah kader NU.

"Gini, saya juga minta maaf kepada keluarga besar PBNU, ribut-ribut soal kader, katanya lho Pak Mahfud itu bukan NU, Yang resmi ada Nusron Wahid ini, saya ini pengurus Ansor periodenya Nusron Wahid ini, yang tanda tangan SK-nya Aqil Siradj, yah ini ada Pak Nusron Wahid," kata dia.

"Saya juga sampai hari ini adalah pengurus ISNU Ketua Dewan Kehormatan yang melantik Pak Aqil Siradj," imbuhnya.

Mahfud merasa aneh jika dia tak diakui sebagai keluarga besar NU, padahal dulunya Said Aqil sering menyebutnya sebagai kader NU. Bahkan, pada saat kasus kardus durian mencuat dan menyasar kepada salah satu menteri dari NU, Said Aqil pernah memohon kepadanya untuk meminta bantuan.

"Waktu ada kasus seorang menteri terlibat kasus duren, saya ada di Makkah, pagi-pagi subuh Aqil Siradj itu telepon, Pak Mahfud, Pak Mahfud tolong sebagai sesama kader NU tolong ini diselamatkan, nanti NU rusak kalau ini kena, begitu ada kasus politik begini bilang bukan kader tapi di NU itu memang banyak guyonan, saya menganggap ini guyon-guyon aja," ungkapnya.

Sekadar diketahui, melalui drama panjang, Mahfud MD akhirnya tidak terpilih sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi. Di detik-detik terakhir, Jokowi ternyata lebih memilih KH Ma'ruf Amin daripada Mahfud. (man)

Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini