Wahyu Nugoro di depan karyanya pada pameran tunggal  Intuitive Drawing di Bocosralus Artspace, Pasuruan. (Foto: ngopibareng/m. anis)
Wahyu Nugoro di depan karyanya pada pameran tunggal Intuitive Drawing di Bocosralus Artspace, Pasuruan. (Foto: ngopibareng/m. anis)

Beruntung Pasuruan Punya Wahyu Nugroho yang Radikal

Ngopibareng.id Seni dan Budaya 07 December 2019 16:11 WIB

Ketika politik sudah  menjadi panglima seperti sekarang ini, diperlukan orang-orang radikal agar kebudayaan atau kesenian tidak  terus menerus tergerus. Penggerusan berjalan secara masif. Banyak orang yang tidak merasakan, tapi  suatu saat mereka akan terkejut karena tiba-tiba kita sudah menjadi bangsa yang  tidak berkebudayaan.

Orang-orang radikal amat diperlukan, agar panglima yang bengis itu tidak makin merajalela. Perang melawan panglima mustahil akan menang, karena dia memiliki segalanya yaitu peraturan, kebijakan, dan anggaran. Tetapi perang tetap harus dilakukan, bukan untuk menang, melainkan untuk sekadar menunda agar kebudayaan tidak terlalu cepat sirna dari bumi Indonesia.

Wahyu Nugroho, 54 tahun, termasuk seniman radikal. Beruntung Pasuruan memiliki dia. Pasti dia tidak bergerak sendirian, tetapi secara radikal Wahyu Nugroho sejak bertahun-tahun yang lalu selalu memprovokasi anak-anak muda, termasuk para siswa,  karena memang dia seorang guru di MTsN  1 Kota Pasuruan, untuk mencoba menggambar dan terus menggambar.

Kalau ada anak muda yang beralasan tidak mampu beli kanvas dan cat atau alat-alat lukis lainnya, maka alumni Jurusan Seni Rupa  IKIP Malang ini akan mendesak agar mereka menggambar dengan media yang paling murah yang sudah mereka miliki, yaitu pensil dan kertas. Yang penting menggambar, kata Wahyu Nugroho pada mereka. Radikal sekali dia.

Setelah beberapa orang tertarik untuk menggambar, Wahyu kemudian menghasut mereka agar membentuk komunitas. Saat ini ada beberapa komunitas yang ada di Pasuruan, hasil dari hasutan itu. Padahal Wahyu tinggal di Purwosari, sekitar 25 kilometer sebelah selatan Kota Pasuruan.

Zuhkhriyan Zakaria, pelaku seni sekaligus dosen Universitas Islam Malang mencatat,  setidaknya ada tiga komunitas seni di Pasuruan yang digagas Wahyu Nugroho, bersama rekan lain tentu saja. Pertama adalah Sanggar Mahardhika Art, digagas dan dibentuk tahun 1984. Kemudian 2008 dia membentuk Komunitas Guru Seni dan Seniman Pasuruan (KGSP), dan  terbaru tahun 2018  membentuk komunitas  Alkmaart, khusus pelukis  drawing.

Radikalisasi Wahyu ini sebenarnya sudah lama dilakukan,  sejak awal tahun delapan-puluhan. Proses panjang ini akhirnya memberikan hasil.  Salah satunya,  sekarang  Pasuruan di kalangan seni rupa khususnya, dikenal sebagai  ‘kota drawing’.  Banyak pelukis asal Pasuruan yang ketika diajak pameran bersama oleh teman-temannya dari luar daerah, mengirimkan karya drawing. Dan itu ternyata malah memperkaya khasanah even pameran.

Kepercayaan pada berkembang pesatnya drawing di Pasuruan bahkan juga datang dari pemerintah pusat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk pameran drawing yang saat ini sedang berlangsung di Pasuruan. Pameran yang diikuti 26 pelukis Pasuruan ditambah 21 pelukis dari berbagai daerah di Pulau Jawa ini,  diselenggarakan sepenuhnya oleh Galeri Nasional Indonesia, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud. Diselenggarakan  sepenuhnya artinya termasuk pembiayaannya.

Wahyu Nugroho ikut dalam pameran bertajuk Pameran Seni Gambar; Merandai Tanda-tanda Zaman yang berlangsung di gedung Yon Zipur Pasuruan awal Desember 2019 ini.  Dia mengirimkan salah satu karya drawingnya yang berjudul Atraksi Topeng, terdiri dari tujuh panel  dengan media pensil di atas kertas.

Salah satu sudut pameran  tunggal  karya Wahyu Nugroho Intuitive Drawing di Bocosralus Artspace Pasuruan Foto ngopibarengm anisSalah satu sudut pameran tunggal karya Wahyu Nugroho, Intuitive Drawing di Bocosralus Artspace, Pasuruan. (Foto: ngopibareng/m. anis)

Karena Wahyu radikal, maka pada saat yang bersamaan, dia juga menggelar pameran tunggal di gedung yang letaknya sekitar 500 meter sebelah selatan tempat pameran bersama yang diselenggarakan Galeri Nasional. Pada pameran tunggalnya  yang bertajuk Intuitive Drawing dia memamerkan 57 karya yang sebagian besarnya bergenre drawing, berbagai ukuran.

Kalau tidak radikal, tidak akan seorang pelukis yang sedang pameran lukisan bersama pelukis-pelukis lainnya,  pada saat yang sama juga menggelar pameran tunggal, di tempat yang tak berjauhan jaraknya. Dan itu sah-sah saja.

Pameran tunggal Wahyu Nugroho menempati bangunan kuno tak terawat di Jl. Pahlawan, yang oleh pengelolanya diijinkan untuk dipergunakan sebagai  tempat berkesenian, dengan nama Bocosralus Artspace.  Sementara pengelolanya sendiri membuka cafe.   

Karya-karya Wahyu Nugroho dipajang di tiga ruangan yang dahulunya bekas kamar tidur, tetapi kini berubah menjadi galeri. Nampak sekali ruang-ruangan ini tidak terawat dengan baik. Dinding-dindingnya kusam, sementara lantainya perlu dipoles. Tapi dalam ruang-ruang yang seram, lukisan-lukisan Wahyu justru nampak makin garang.

Tentang karya-karya Wahyu Nugroho sendiri, pengamat sekaligus  aktivis seni Halim HD membuat catatan yang sangat pas. Menurut Halim, pada dasarnya, kekuatan karya Wahyu Nugroho terletak pada penciptaan ruang yang membawa kita kepada permenungan tentang  kedalaman, suatu ruang jeroan yang nampak secara fisikal bersifat anatomis.

Melalui ruang-ruang jeroan inilah Wahyu Nugroho menciptakan pencitraan berbagai problematika yang diserapnya, dan melahirkan pengungkapan yang bersifat metaforik dan simbolik. Karena, menurut Halim,  sesungguhnya masalah kesenian, khususnya senirupa, berkaitan dengan masalah ke dalaman dan intensitas. Dari ruang kedalaman itulah seluruh enerji menggerakan anggota badan dan membentuk karya senilukis.

Jadi, radikalisme Wahyu Nugroho ternyata bukan saja pada  pergerakan dia di ‘luar’, tetapi juga pergerakan dia di ‘dalam’, yang bisa dilacak dari karya-karyanya. (m. anis)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

08 Jan 2021 11:03 WIB

Bebas Murni, Abu Bakar Ba'asyir Diminta Dakwah tentang Perdamaian

Nasional

Abu Bakar Ba'asyir akan menjalani program deradikalisasi.

05 Jan 2021 21:34 WIB

Pasuruan Raya Diterjang Banjir, Sejumlah Jalan Dialihkan

Jawa Timur

Sejumlah sungai meluap dan menggenangi sejumlah kelurahan.

04 Jan 2021 07:47 WIB

Karomah Wali, Habib Ja'far Al-Kaff Menguji Kewalian Kiai Hamid

Khazanah

Soal kewalian berdasar dalil Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...