Bandung All Terrain Challenge benar-benar tantangan untuk 90 orang pesertanya. (Foto: Suryo Endro))
Bandung All Terrain Challenge benar-benar tantangan untuk 90 orang pesertanya. (Foto: Suryo Endro))

Bandung All Terrain Challenge, Gabungkan Road Bike dengan Gravel

Ngopibareng.id Gowes Bareng 29 September 2020 12:48 WIB

Apa jadinya ketika even organizer acara gowes road bike berkolaborasi dengan pecinta offroad gravel? Terjadilah even Bandung All Terrain Challenge 200 km hari Sabtu, 26 September 2020.

“Sebenarnya tawaran ini muncul setelah saya menyelesaikan rute Audax 300 km bulan Agustus 2020. Waktu itu Om Bob Aria Bharuna, panitia Audax Randonneur Indonesia tahu bahwa saya dan teman-teman DirtxClouds suka main gravel dan eksplor jalur-jalur Bandung. Nah, Om Bob tercetus bikin Audax dengan rute-rute gravel itu. Pertemuan berlanjut dan serius, jadilah kami bikin acara Bandung All Terrain Challenge 2020 ini,” tutur Syahroni Akbar Prabowo, salah satu penggagas acara dari DirtxClouds.

DirtxClouds adalah komunitas di Bandung yang suka blusukan eksplor jalur-jalur offroad gravel di Bandung. “Kami sering disebut Bandung based gravel ninja,” bilang Edmund, salah satu anggota DirtxClouds yang memiliki akun instagram @edmundjeds.

Unsupported ride jadi harus ganti ban sendiri ketika kempes Foto Rifky AkbarUnsupported ride jadi harus ganti ban sendiri ketika kempes. (Foto: Rifky Akbar)
Unsupported ride jadi harus saling membantu saat teman mengalami kram Foto Rifky AkbarUnsupported ride jadi harus saling membantu saat teman mengalami kram. (Foto: Rifky Akbar))

Karena salah satu even organizernya adalah Audax Randonneur Indonesia jadi even ini unsupported. “Peserta harus bisa mandiri. Mengganti ban harus bisa sendiri. Hingga kerusakan mekanikalpun harus bisa diatas sendiri dalam perjalanan ini,” tutur om Bob.

Setelah pertemuan demi pertemuan dan survei panitia dari Audax Randonneur Indonesia dan DirtxClouds akhirnya ditentukan rute. Start dari Bikesystem di kawasan jalan Dago, Bandung menuju Cicalengka lalu Ciparay lanjut Cisanti. Diteruskan ke Cileunca, Gambung, Soreang, Cihampelas, dan Dermaga Cibogo (Saguling). 

BikeSystem di kawasan Dago Bandung jadi titik start dan finis Bandung All Terrain Challenge 2020 Foto Rifky AkbarBikeSystem di kawasan Dago Bandung jadi titik start dan finis Bandung All Terrain Challenge 2020. (Foto: Rifky Akbar))

Masuk Kota Baru Parahyangan lalu ke Cimahi dan Mohammad Toha. Terakhir finis di Bikesystem lagi. “Total jarak adalah 200 km dengan total elevasi 2,300 meter,” tutur Arai, sapaan akrab Syahroni Akbar Prabowo.

Pemilik akun instagram @storyonsaddle ini meyakinkan om Bob bahwa mayoritas peserta bisa menyelesaikan rute 200 km itu di bawah Cut of Time (COT) 13,5 jam.  

Pasalnya, 65 persen jalur yang dilalui adalah aspal. Sisanya baru rute offroad gravel. Rutenya dimulai dengan gowes di jalur aspal biasa sejauh 80 km. lalu secara bergantian peserta melewati jalanan gravel, aspal, makadam, tanah, beton hingga kilometer 120.

Lalu sisa 80 km lagi adalah aspal hingga finis kembali ke Bikesystem. Tercatat ada 90 peserta yang ikut. Mayoritas peserta datang dari Bandung, Jabodetabek, dan Tasikmalaya

Total 160km pergi dan pulang jalanan aspal Foto Rifky AkbarTotal 160km pergi dan pulang jalanan aspal. (Foto: Rifky Akbar)

Dan banyak dari mereka yang baru main gravel bike, jadi agak kaget dengan rute seperti ini.

“Tanjakan pertama di kawasan Ciparay ke Cinsanti itu berat meskipun itu rute aspal. Panjangnya 32 km dengan elevation gain 967 meter. Lalu ada lagi segmen gravel dari perkebunan teh Kertasari hingga Pengalengan yang keluar di Situ Cileunca. Rute Pengalengan ke Pasir Jambu lengkap ada jalur gravel, beton, makadam juga vegetasi. Melewati hutan pinus, kebun the, hutan tropis, kebun kopi. Lantas ada turunan yang panjang dengan pemandangan kebun teh,” jelas Arai yang menggunakan sepeda XLR8 road endurance dengan ban 700c x 32 mm.

Jalur gravel di tengah perkebunan teh Kertasari Bandung Foto Rifky AkbarJalur gravel di tengah perkebunan teh Kertasari Bandung. (Foto: Rifky Akbar)

Nah, banyak peserta yang takut melintasi jalan turunan dari Pengalengan ke Peternakan Susu karena meskipun turunan tapi makadam. “Batunya juga besar-besar. Kalau peserta pemain road bike pasti tidak terbiasa. Beda dengan pemain MTB pasti sudah terbiasa dengan jalur seperti ini,” imbuh Om Bob.

Setelah lepas dari rute offroad, peserta kembali ke jalan aspal. Tapi jangan gembira dulu. Kira-kira memasuki kilometer 150, mulai Dermaga Cibogo Waduk Saguling rutenya rolling terus dan ada nanjak “halus” menuju Cimahi lantas baru finis di BikeSystem Bandung.

“Harusnya tidak berat karena gradien tidak tinggi. Tapi karena sudah di km 150 dan banyak peserta yang lelah jadi terasa berat,” tutur Arai.  

“Ini kenapa tidak habis-habisnya ya, Za?” tanya Nick kepada Reza sambil terengah-engah. “Maunya panitia apa sih?” timpal Reza di tengah pemberhentian.

Mereka sadar masih harus melewati beberapa tanjakan sebelum masuk Kota Baru Parahyangan dan tinggal 40 km lagi menuju finis. Tak hanya peserta dari Bandung, peserta dari luar Bandungpun melayangkan pesan WhatsApp ke Arai, “Apa-apaan tuh nanjak setelah Waduk Saguling,” begitu isi pesan singkatnya.

Tiga orang peserta dari Jakarta, Gya Amalia, Ronald Simanjuntak, dan Romi Pangestu sangat puas dan senang. “Kalo ada lagi, kami pasti ikut lagi!” seru Pakcok, panggilan akrab Ronald Simajuntak

Gya Amalia dan Romi Pangestu mau ikut apabila digelar lagi Foto IstimewaGya Amalia dan Romi Pangestu mau ikut apabila digelar lagi. (Foto: Istimewa)
Ronald Simanjuntak sangat senang dengan rute Bandung All Terrain Challange 2020 ini Foto IstimewaRonald Simanjuntak sangat senang dengan rute Bandung All Terrain Challange 2020 ini. (Foto: Istimewa))

Menurut pengguna sepeda gravel Cervelo Aspero, rutenya sangat seru dan menantang. Karena mereka berangkat bertiga jadi mereka menjaga agar tetap bisa bersama. “Paling kita terpisah di tanjakan saja. Tapi saling tunggu di atas,” bilang Pakcok yang baru dua kali ikut even gravel seperti ini.

“Setelah lewat Situ Cihaniwung, jalanan mulai banyak batu kali dan agak turun. Mesti pilih-pilih jalan dan di pinggir pakai alur air,” tutur Pakcok yang mengaku habis kalori hingga 5.000.

Menurut Gya, turunannya gilaaa… karena gravel dan banyak batunya. Tapi semua lelah dan ketakutan itu terbayar dengan pemandangan perkebunan the dan jalur beton dengan pohon dan angin sejuknya.

Gya yang juga baru mengikuti dua kali even gravel ini mengatakan bahwa kemungkinan besar ke depan akan banyak even gravel. Apalagi sekarang banyak peserta perempuannya juga. “Panitia Audax dan DirtxClouds keren, pakai barcode untuk menjaga protokol kesehatan,” tutur pengguna sepeda gravel Salsa Vaya ini.

Apabila banyak peserta menggunakan sepeda gravel dan MTB, tapi Agus Surono beda. Dia memilih menggunakan sepeda lipat Element Troy 16 single crank 53t 8 speed dengan sproket 11-32.

“Saya sudah terbiasa menggunakan seli untuk jalan rusak, makadam, kerikil, batu koral, jalan tanah. Tapi sebelumnya pakai ban 20 inchi. Baru kali ini mencoba pakai ban 16 inchi,” tutur Gussur, panggilan akrabnya.

Agus Surono menggunakan sepeda lipat Element Troy dan lulus sebelum COT Foto Audax RandonesiaAgus Surono menggunakan sepeda lipat Element Troy dan lulus sebelum COT. (Foto: Audax Randonesia))

Menurut pria ramah ini, ada titik yang “menggemaskan” untuk seli yaitu di km 90. Ada belokan turunan curam dan makadam batu-batu besar. Mau turun tapi nanggung karena pakai sepatu cleat dan udah terjebak. Jadi pasrah aja mencari celah batu yang rata. Asyiknya di situ. Hahaha…,” tutur Gussur yang datang dari Jakarta ini.

Dalam perjalanan sejauh 200 km ini ada tiga checkpoint yaitu di mini market km 50, di warung km 96, dan di mini market km 145. “Untuk checkpoint ini, panitia Audax berinisiatif pakai barcode dan selfie lalu langsung unggah ke dokumen,” tutur Om Bob.

Pakai barcode untuk checkpoint demi protokol kesehatan Foto Rifky AkbarPakai barcode untuk checkpoint demi protokol kesehatan. (Foto: Rifky Akbar)

Sesuai prediksi Arai, seluruh peserta yang start jam 5.00-5.30 pagi ini semuanya bisa finis dibawah COT. Arai mengatakan bahwa rute yang dilewati ini mayoritas adalah di dalam perkebunan teh Kertasari. Selebihnya adalah jalan aspal menuju dan pulang dari area kebun teh itu.  

Berikutnya kemana? DirtxClouds sudah punya angan-angan. Akhir tahun bakal gowes Jogjakarta–Bali. 1.000 km dalam delapan hari melanjutkan perjalanan Bandung–Jogjakarta tahun lalu.

“Rencananya sih full aspal. Tapi kan pakai sepeda gravel jadi kalo memungkinkan ada rute bolehlah main-main graventure dikit-dikit,” tutup Arai lantas tertawa.

Peserta bisa menikmati pemandangan yang spektakuler Foto Rifky AkbarPeserta bisa menikmati pemandangan yang spektakuler. (Foto: Rifky Akbar)
Pemandangan yang spektakuler membuah lelah hilang Foto Suryo EndroPemandangan yang spektakuler membuah lelah hilang. (Foto: Suryo Endro)
Melewati jembatan sebagai variasi Foto Rifky AkbarMelewati jembatan sebagai variasi. (Foto: Rifky Akbar)
Seru melewati perkampungan warga Foto Rifky AkbarSeru melewati perkampungan warga. (Foto: Rifky Akbar)
Peserta dari Jakarta Ronald Simanjuntak helm putih Gya Amalia helm merah marun dan Romi Pangestu dua dari kanan Foto DirtxcloudsPeserta dari Jakarta, Ronald Simanjuntak (helm putih), Gya Amalia (helm merah marun) dan Romi Pangestu (dua dari kanan). (Foto: Dirtxclouds))

Penulis : Yudy Hananta

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Nov 2020 01:30 WIB

Transgender, Millendaru dan Lucinta Luna Beda Sel

Gosip Artis

Terjerat kasus narkoba, Lucinta Luna dan Millendaru beda sel.

24 Nov 2020 00:50 WIB

GOT7 Rilis Lagu Breath Sebelum Launching Album Baru

ngopiK-pop

Single Breath terangkum dalam album Breath of Love: Last Piece.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...