Aktivitas perempuan pekerja di jepang. Kasus bunuh diri terjadi terutama di kalangan perempuan dan anak-anak. (Foto: AS)

Angka Bunuh Diri Meningkat, Fakta Jepang di Tengah Pandemi

19 Jan 2021 08:04

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Angka bunuh diri di Jepang telah meningkat tajam, demikian hasil suatu survei mengungkapkan. Itu terjadi di tengah gelombang kedua pandemik Covid-19, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak.

Fakta ini, tentu saja, bertolak belakang dengan penurunan angka bunuh diri pada gelombang pertama Covid-19 di negara tersebut. Angka bunuh diri pada periode Juli-Oktober 2020 naik 16 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan pada Februari-Juni 2020 tercatat 14 persen. Survei tersebut dipublikasikan melalui studi gabungan dari Hong Kong University dan Tokyo Metropolitan Institute of Gerontology.

"Tidak seperti keadaan ekonomi normal, pandemik ini secara tidak proporsional memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak, remaja, dan wanita (terutama ibu rumah tangga)," tulis peneliti dalam studi yang diterbitkan pekan lalu di jurnal Nature Human Behavior, Selasa 19 Januari 2021.

Mengutip The Guardian, penurunan awal angka bunuh diri pada gelombang pertama dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti subsidi pemerintah, berkurangnya jam kerja dan penutupan sekolah. Namun, belakangan justru berbalik, dengan tingkat bunuh diri meningkat 37% untuk wanita, sekitar lima kali lipat peningkatan dibanding pria.

Pandemik yang berkepanjangan berdampak buruk terhadap industri di mana wanita mendominasi. Covid-19 juga telah meningkatkan beban bagi ibu yang bekerja, sementara kekerasan dalam rumah tangga meningkat.

Berdasarkan kementerian kesehatan Jepang, dari November 2016 hingga Oktober 2020, mencatat tingkat bunuh diri anak naik 49% pada gelombang kedua Covid-19 di Jepang.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga bulan ini telah memberlakukan keadaan darurat Covid-19 bagi Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya dalam upaya membendung lonjakan kasus infeksi. Sejak itu, status keadaan darurat telah diperluas untuk mencakup tujuh prefektur lainnya, termasuk Osaka dan Kyoto.

Menteri Reformasi Taro Kono pekan lalu mengatakan, meskipun pemerintah akan mempertimbangkan untuk memperpanjang keadaan darurat, hal itu tidak akan mematikan ekonomi nasional.

"Orang-orang khawatir dengan Covid-19. Tapi banyak orang juga bunuh diri karena kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan tidak bisa melihat harapan. Pemerintah perlu mencapai keseimbangan antara mengelola Covid-19 dan mengelola ekonomi," tuturnya.