Ternate (1): Titik Pandang Sebuah Jendela
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.
Dosen Hubungan Internasional
Universitas Jember
Anak judul artikel tentang Ternate di atas bukan tanpa intensi. Narasi ini adalah sebuah imajinasi, terinspirasi oleh sepenggal histori. Syahdan, sebuah teks Melayu lama memuat sebuah kisah. Tahun 1511, armada ekspedisi laut Portugis, sebagai salah satu kekuatan maritim terkemuka Eropa kala itu, mendarat di Malaka. Kisah diawali dengan langkah pemberian hadiah oleh Kapten Portugis kepada Sultan Malaka, Ahmad Syah. Sesaat kemudian, perbincangan pun terjadi; seolah mewakili dialog peradaban antara kekuasaan Timur dan Barat …
Sultan Malaka bertanya kepada delegasi armada Portugis: “Apa yang kamu inginkan, [kok] memberi kami hadiah yang begitu indah?” Kapten Portugis menjawab: “Kami hanya berharap satu hal, Tuan tetap bersahabat dengan kami, orang kulit putih.” Sultan merespon: “Katakan saja [yang kamu maui], kami [akan] mengizinkan! Jika itu kami miliki, kami pasti akan mengabulkan keinginanmu!” Sang Kapten menyambut dengan antusias: “Kami [hanya] ingin meminta sebidang tanah selebar kulit binatang yang dikeringkan.” Sebagai orang Timur, Sultan pun menjawab: “Jangan bersedih sahabatku, ambillah tanah yang menyenangkanmu. Jika ukurannya [cuma] segitu, ambil [sajalah] tanah itu,” sebuah sambutan yang bukan hanya mencerminkan keramahan, tapi juga ketulusan.
Tragisnya, ketulusan dibalas dengan keserakahan, bahkan disertai dengan kekejaman. Mendapat tawaran tulus dari Sultan Malaka, armada Portugis menjadi bungah, tapi sekaligus pongah. Ketika turun ke darat, serdadunya bukan hanya membawa perbekalan, tapi juga batu bata, kapur, dan cangkul guna menggali tanah. Mereka membangun gedung besar berbenteng yang dilengkapi sekian meriam. Penduduk Malaka yang masygul pun bertanya: “Untuk apa [bangunan] ini?” Serdadu Portugis menjawab seru: “[Bangunan] ini [akan] kami gunakan sebagai jendela!” Sebuah jawaban singkat, tapi penuh muslihat. Setelah benteng dibangun kuat dan meriam telah siap, saat tengah malam para serdadu itu melumat Malaka yang sedang tidur lelap. Sejak malam itu, Malaka jatuh ke tangan kekuasaan Portugis.
Ekspedisi Portugis bukan sekadar penjelajahan laut, tapi juga mengemban misi ideologis. Dua ideologi dibawanya sekaligus, yakni: Mercantilism dan Messianism. Yang pertama memuat ambisi niaga, yakni pencarian Rempah; sedangkan yang kedua mengandung intensi menyebarkan agama. Maklum, keputusan Kepausan (Papal pronouncements) tahun 1455 mendorong dua imperium ekonomi Iberian, yaitu Portugis dan Spanyol, dalam ekspedisinya menemukan kepulauan Rempah juga membawa misi keagamaan. Tahun 1498, kedatangan ekspedisi Portugis di bawah Vasco da Gama di bandar laut Calicut, pantai barat India, sempat mengejutkan kerumunan pedagang Muslim. Maklum, seperti digambarkan oleh Gonzalo Valdés (2021), kala itu pedagang Muslim, khususnya dari Arab dan Gujarat, mendominasi jalur perdagangan maritim di lautan India, mulai dari pantai timur Afrika, jazirah Arab, anak benua India, sampai kawasan Asia Tenggara. Bahkan, kontrol Muslim atas jalur perdagangan maritim ini sempat memunculkan julukan bagi lautan India sebagai ‘danau Muslim’ (Muslim lake). Tak pelak, kedatangan ekspedisi Portugis—yang notabene merupakan komunitas non-Muslim—di Calicut mengundang perhatian para pedagang Muslim. Seorang pedagang Muslim asal Tunisia pun kemudian bertanya: “Apa yang mendorongmu [datang] untuk ke sini?” Anggota ekspedisi laut Portugis tersebut menyahut: “Kami datang untuk mencari [orang yang mau masuk] Kristen and Rempah!” Ekspresi ini menggarisbawahi bahwa ekspedisi laut Portugis bak tombak bermata dua: misi religi dan ambisi ekonomi.
Meskipun armada Portugis menghadapi banyak tantangan, pelan tapi pasti mereka bisa mengatasinya. Salah satu faktor yang menentukan adalah strategi perang mereka yang cukup matang. Intinya, mereka paham how to deal with their enemies, khususnya kaum Muslim. Sejak awal, misi Portugis memang berhasrat merebut jalur maritim perdagangan rempah yang menyusur lautan India beserta wilayah tepiannya dari dominasi pedagang Muslim. Salah satu strateginya, Portugis secara lihai memanipulasi keahlian kaum Muslim dalam navigasi laut. Tahun 1488, Vasco da Gama menapak tilas jalur pelayaran pendahulunya, Bartolomeo Diaz, dengan melewati ujung selatan Afrika. Di pelabuhan Malindi, Afrika Timur, Vasco da Gama berhasil membujuk seorang Muslim, Ahmad Ibn Madjid, nahkoda Arab paling terkenal dalam penguasaan navigasi di lautan India, agar mau memandunya untuk mencapai Calicut, sebuah bandar sekaligus pusat perdagangan laut penting di jalur perdagangan lautan India.
Dalam abad Penemuan (the Age of Discovery), dua kekuatan maritim terkemuka di Eropa, yaitu Portugis dan Spanyol, bersaing keras. Namun atas restu Paus di Roma, tahun 1494 kedua kerajaan Katolik ini menyepakati The Treaty of Tordesillas, yang membagi wilayah eksplorasi ‘wilayah baru’ (new world) menjadi dua bagian, dengan titik awal Kepulauan Cape Verde di laut Atlantik. Belahan dunia Timur adalah wilayah eksplorasi Portugis, sedangkan belahan dunia sebelah Barat merupakan wilayah eksplorasi Spanyol. Akibatnya, ekspedisi rempah Portugis berlayar ke Timur melewati Cape Good Hope di Afrika Selatan, sedangkan ekspedisi Spanyol berlayar ke arah Barat menyusuri the All Saint Pass, yang populer disebut the Strait of Magellan [Magalhaës], di ujung selatan negara Chili. Kemudian armada laut ini melanjutkan pelayaran dengan menyeberangi lautan Pasifik bagian selatan menuju Maluku. Ekspedisi laut Portugis dan Spanyol dengan arah keberangkatan yang berbeda akhirnya bertemu di Maluku. Kisah ini mengguratkan kepastian bahwa obsesi akan kepulauan Rempah telah menginspirasi ambisi manusia untuk mengelilingi dunia melalui jalur laut.
Kaitan dua ideologi yang dibawa ekspedisi Portugis di atas tak lepas dari sejarah konfliknya yang panjang dengan kaum Muslim. Kedua kerajaan Iberian, yakni Portugis dan Spanyol, mengidap trauma Perang Salib. Apalagi, Portugis juga punya sejarah konflik sendiri yang panjang dengan kekuatan Muslim. Musuhnya adalah suku Moors, kaum Muslim di wilayah Maroko, yang letaknya dari Portugis hanya dipisahkan Selat Gibraltar. Selain itu, pedagang Muslim, khususnya dari Arab dan Gujarat, telah lama mendominasi jaringan perdagangan Rempah, komoditas yang secara obsesif didambakan oleh kedua negara. Mungkin ideologi Messianism juga memuat hasrat untuk “member-adab-kan” penduduk di ‘wilayah baru’ yang ditemukan. Namun, seperti ditegaskan Barbara Watson Andaya, “aspek penting dari proyeknya ke mancanegara ini adalah episode perjuangan panjang Portugal dalam melawan Islam”. Tak pelak, komandan ekspedisi Portugis, Alfonso de Albuquerque, menyatakan ekspedisinya ke Timur berada di bawah perintah militer Kristus (the flag of military order of Christ). Bahkan, dalam timnya terdapat delapan pendeta Katolik. Simbolisasi keberhasilan misi religi ini, masih menurut Andaya, adalah “penghancuran Masjid Besar Malaka, [di mana] lokasinya kemudian dibangun benteng disertai gereja yang dipersembahkan untuk Bunda Maria (the building of a church to Our Lady)”. Amalgama ideologi dan The Treaty of Tordesillas ini pada gilirannya juga mewarnai ekspedisi Portugis dalam mencari keberadaan Rempah di Maluku, khususnya di Ternate.
Ungkapan Kapten ekspedisi laut Portugis di atas bahwa “bangunan” di Malaka akan digunakan sebagai “jendela” adalah sebuah metafora. Tafsiran saya, Portugis akan menjadikan Malaka sebagai pijakan bagi tujuan eksplorasi berikutnya, yakni mencari kepulauan Rempah yang kala itu lokasinya masih dianggap misterius. Hampir dapat dipastikan, pandangan dari “jendela Malaka” bidikan utamanya adalah Pulau Ternate. Pasalnya, sejak awal salah satu motif utama menjelajahi dunia memang untuk mencari Rempah.
Setahun setelah penaklukan Malaka, serdadu Afonso de Albuquerque yang juga seorang strategist mengirim ekspedisi tiga kapal ke Maluku. Satu kapal di bawah komando António de Abreu, sedangkan dua kapal lainnya dinakhodai Luçapinho Francesco Serrão (Francisco Serrano) dan Simon Affonso. Armada berkekuatan 120 serdadu ini berlayar ke Maluku dengan singgah di Gresik terlebih dahulu.
Superioritas Portugis di lautan sekali lagi terbukti. Sejarah pun berulang. Taktik Vasco da Gama kembali diadopsi. Guna mencapai Ternate, Portugis memanfaatkan nakhoda Ismail, pelaut Melayu Muslim yang punya jaringan luas dan mapan di sepanjang jalur perdagangan antar pulau di Nusantara. Mudah diduga, Portugis memanfaatkannya guna mempermudah menjalin hubungan perdagangan sepanjang jalur Rempah demi obsesinya meraih monopoli perdagangan cengkeh. Francesco Serrão tiba di Maluku tahun 1512. Ia merupakan orang Portugis pertama yang mencapai Ternate sebagai zero point jalur Rempah. Kedatangannya di Ternate mengakhiri obsesi panjang Eropa dalam menemukan kepulauan Rempah. Memang sempat dikabarkan bahwa ada pengelana Italia asal Bologna, Ludovico di Varthema, mengklaim singgah di Ternate tahun 1505, seperti tertuang dalam catatan perjalanannya (Itinerario, 1510). Namun informasinya dianggap minim dan dinilai banyak yang tak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga banyak sejarawan mengabaikannya. Wallahua’lam… (bersambung)