Tebang Langka: Membenahi Kemitraan Petani dan Rantai Pasok Industri Gula
Saya beruntung bertemu pria satu ini: Pak Fachrudin Rosyidi. Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Kami bertemu di Pabrik Gula Sragi, Pekalongan. Saat kunjungan bersama Dewan Komisaris PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Dia salah satu tokoh petani tebu di negeri ini. Bagian penting dari ekosistem industri gula sejak pabrik-pabrik gula milik negara masih terpecah-pecah hingga kini telah dikonsolidasikan. Baik yang sebelumnya berada dalam kelompok PTPN maupun Rajawali Nusantara Indonesia.
PG Sragi termasuk pabrik yang telah lama mati. Baru dihidupkan kembali pada 2023. Ketika PTPN Holding Persero dipimpin Mohammad Abdul Ghani. Pria kelahiran Sragi yang ketika kecil ingin bekerja di PTPN karena melihat makmurnya anak-anak pegawai pabrik gula.
Tentu bukan perkara gampang mengoperasikan kembali pabrik yang lama mati. Ekosistemnya sudah rusak. Petani tebu mitra PG telah beralih ke komoditas lain. Bahan baku tebu harus disiapkan kembali dari awal. Kalau pun ada tebu rakyat, pabrik harus menanggung beban angkutan dari lokasi yang cukup jauh.
Makanya, setelah tiga tahun beroperasi, PG Sragi masih harus berjibaku dengan persoalan BBT—bahan baku tebu. Pabrik memang telah didukung tebu sendiri melalui skema sewa lahan. Namun, luasannya masih jauh dari kebutuhan kapasitas giling. Masih butuh sekitar 2.000 hektare lahan tebu lagi.
“Petani sebetulnya masih bersemangat menanam tebu. Tapi harus ada bantuan akses permodalan dan pembinaan dari PG. Tanpa itu agak sulit menggerakkan mereka kembali,” kata Fachrudin. Ketua Dewan Pembina APTRI adalah Arum Sabil, tokoh petani tebu asal Jawa Timur.
Bahan Baku Tebu (BBT) selalu menjadi masalah hampir semua pabrik gula. Berulang setiap tahun. Kali ini, jumlah tebu sebenarnya melimpah. Namun, ada persoalan kekurangan tenaga tebang, muat, dan angkut atau TMA. Tahun lalu, masalahnya karena curah hujan tinggi. Bahkan sampai menerapkan tebang subuh untuk mengatasinya. Risikonya jelas: biaya tebang, muat, dan angkut (TMA) menjadi melejit.
Masalah TMA akan terus terjadi. Sebab, luasan kebun tebu bertambah, sedangkan tenaga kerjanya makin berkurang. Regenerasi tenaga TMA juga tidak berjalan. Sama seperti persoalan regenerasi petani tradisional pada umumnya. Inilah masalah sistemik berikutnya dalam ekosistem industri gula kita.
Keluhan tentang mahalnya biaya TMA juga disampaikan Bupati Sragen Sigit Pamungkas. “Bisakah SGN membantu petani kami mendapatkan tenaga tebang yang murah? Biar penghasilan petani tebu kami lebih besar. Ini keluhan mereka sekarang,” kata alumni Fisipol UGM ini.
Tampaknya kita telah lama salah mendiagnosis problem industri gula. Mesin-mesin pabrik tua selalu ditempatkan sebagai tersangka utama. Sebagian besar memang peninggalan zaman Belanda. Meski beberapa pabrik telah direvitalisasi. Padahal inti soalnya di BBT akibat peoduktivitas yang rendah dan rantai pasok.
Ketika Indonesia menjadi salah satu eksportir gula terbesar dunia pada 1930-an, satu hektar lahan dapat menghasilkan sekitar 14–15 ton gula. Setelah merdeka, produktivitas itu justru terus merosot. Kini, rata-rata nasional hanya sekitar 5–7 ton gula per hektare. Turun lebih dari separuhnya.
Revitalisasi mesin pabrik tidak akan banyak berarti jika tidak disertai revitalisasi kebun dan petaninya. Mesin canggih tidak akan mampu menghasilkan gula secara efisien jika kekurangan bahan baku, rendahnya kualitas tebu, harus menunggu kiriman tebu yang terhambat persoalan tebang dan angkut.
Tebu adalah tanaman. Tetapi industri gula merupakan ekosistem. Di dalamnya ada petani, lahan, pembiayaan, varietas, pupuk, tenaga kerja, transportasi, pabrik, pedagang, teknologi, dan kebijakan pemerintah. Kerusakan pada salah satu mata rantai akan memengaruhi seluruh sistem.
Karena itu, hubungan PG dan petani tidak boleh berhenti pada transaksi jual-beli. Harus dibangun kemitraan dalam satu sistem produksi. PG tidak hanya menunggu tebu datang di pintu pabrik. Ia perlu terlibat sejak penataan lahan, pemilihan varietas, penyediaan benih, pembiayaan, pemupukan, pengendalian hama, penentuan waktu tebang, dan pengangkutan tebu.
Di sisi lain, petani membutuhkan kepastian. Mereka perlu mengetahui sejak awal siapa yang membiayai? Siapa yang membina? Kapan tebu ditebang? Ke pabrik mana tebu dikirim? Bagaimana kualitasnya diukur? Dan berapa hasil yang akan diterima? Tanpa itu, loyalitas petani mudah goyah.
Pertemuan dengan Fachrudin memberikan harapan baru. Ia bersedia melakukan reorganisasi petani tebu berdasarkan satu hamparan lahan. Selama ini, kepemilikan dan pengelolaan lahan petani sangat terfragmentasi. Satu petak ditanam pada waktu berbeda. Juga menggunakan varietas dan dipelihara berbeda. Di tebang menurut kepentingan mereka.
Dalam kondisi seperti itu, mekanisasi menjadi sulit diterapkan. Mesin tidak mungkin bekerja secara efisien jika harus masuk ke petak-petak kecil dan tersebar. Apalagi tidak ada akses jalan memadai dan menggunakan pola tanam yang tidak seragam.
Reorganisasi berbasis hamparan tak berarti mengambil alih kepemilikan petani. Hak milik tetap di mereka. Yang disatukan adalah perencanaan budidaya dan operasionalnya. Jadwal tanam, varietas, pemupukan, pemeliharaan, waktu tebang, dan penggunaan alat secara kolektif.
Dengan model itu, mekanisasi dapat masuk secara ekonomis. Mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga tebang, muat, dan angkut. Ongkos produksi dapat ditekan, pekerjaan menjadi lebih cepat, dan kehilangan gula akibat keterlambatan pengiriman dapat dikurangi.
Mekanisasi TMA bukan sekadar jawaban atas kelangkaan tenaga tebang. Ia menjadi instrumen penciptaan kepastian rantai pasok. Pabrik dapat mengetahui kapan, dari mana, dan berapa banyak tebu yang masuk setiap hari. Jadwal tebang bisa diselaraskan dengan kapasitas giling. Jadi, tebu tidak terlalu lama menginap di kebun atau menumpuk di pabrik.
Inilah titik temu kepentingan PG dan petani. Pabrik memperoleh kepastian pasokan bahan baku. Sedang petani memperoleh biaya TMA yang efisien, jadwal tebang yang pasti, dan potensi pendapatan yang lebih besar. Reorganisasi petani berbasis hamparan juga memungkinkan akses pembiayaan secara kolektif dan lebih bankable.
Namun, reorganisasi petani dan mekanisasi TMA harus menjadi bagian dari desain yang lebih besar. Redesain ekosistem industri gula nasional berbasis agroklimat. Selama ini, pola tanam dan musim giling cenderung mengikuti kebiasaan administratif. Bukan mengikuti karakter iklim, tanah, air, dan tingkat kemasakan tebu di setiap wilayah.
Padahal, Indonesia memiliki zona agroklimat yang berbeda-beda. Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan kawasan timur Indonesia tidak dapat diperlakukan dengan kalender tanam dan pola giling seragam. Setiap wilayah memiliki peta agroklimat, varietas unggulan, pola tanam, sistem irigasi, jadwal tebang, dan musim giling yang spesifik.
Dengan pendekatan ini, pabrik tak lagi sekadar mengejar jumlah ton tebu. Orientasinya bergeser kepada jumlah hablur atau gula yang dihasilkan per hektar. Produktivitas lahan dan rendemen dipandang sebagai satu kesatuan. Tebu banyak dengan rendemen rendah belum tentu menyejahterakan petani dan menyehatkan pabrik.
Pemerintah, SGN, APTRI, perbankan, pemerintah daerah, dan lembaga riset harus duduk dalam satu meja. Bukan hanya ketika muncul kelangkaan pupuk, kekurangan tebu, atau protes harga. Mereka harus menyusun satu arsitektur industri gula dari hulu sampai hilir dengan pembagian risiko dan manfaat yang adil.
Kesediaan Ketua Umum DPP APTRI mereorganisasi petani berbasis satu hamparan merupakan pintu masuk yang penting. Inilah kesempatan mengubah petani yang tercerai-berai menjadi kekuatan produksi yang terorganisasi. Dari sekadar pemasok menjadi mitra strategis pabrik gula.
Jangan sampai kita berhasil membangun dan merevitalisasi pabrik, tapi gagal merawat petani serta memastikan tebunya. Sebab, masa depan industri gula tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih mesin di dalam pabrik. Ia ditentukan seberapa sehat hubungan antara pabrik, petani, lahan, teknologi, dan alam.
Tebang langka hari ini adalah alarm. Jawabannya bukan sekadar mencari tambahan tenaga tebang. Kita harus menata ulang seluruh ekosistemnya. Dari petak-petak kecil menuju hamparan. Dari kerja manual menuju mekanisasi. Dari hubungan transaksional menuju kemitraan. Dari pola tanam berbasis kebiasaan menuju industri gula berbasis agroklimat.
Dari sanalah kepastian BBT dan kesejahteraan petani tebu dapat dibangun secara bersamaan.