Suzzanna: Santet, Dosa di Atas Dosa Jadi Tantangan Baru Reza Rahadian dan Luna Maya
Film berjudul “Suzzanna: Santet, Dosa di Atas Dosa”. Rencananya film produksi Soraya Intercine Films akan tayang pada hari pertama lebaran nanti. Tidak seperti film Suzanna sebelumnya Film ini menghadirkan pendekatan baru dengan menampilkan Suzzanna sebagai sosok manusia sepenuhnya, bukan lagi figur horor seperti pada dua film sebelumnya.
Film terbaru ini membalikkan persepsi publik tentang ikon horor nasional Suzzanna Martha Frederika van Osch. Untuk pertama kalinya, karakter Suzzanna digambarkan sebagai manusia bernama Suketi yang penuh konflik dan luka batin.
Aktor Reza Rahadian memberi apresiasi tinggi atas keberanian Soraya Intercine Films yang berani mengangkat nama asli Suzzanna sebagai intellectual property (IP). Reza menilai karakter Suzzanna kini ditampilkan sebagai sosok yang terluka, bukan sekadar ikon horor. “Bayangkan, nama asli dijadikan IP besar. Ini pendekatan baru yang membawa kisahnya ke level berikutnya,” ujar Reza di Jakarta.
Menurutnya pemilihan judul serta konsep cerita memperlihatkan upaya rumah produksi untuk menjaga warisan Suzzanna sebagai kekuatan sinema Indonesia. Reza mengatakan dirinya tertarik pada tema perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang dalam alur cerita. Meski demikian, film ini tetap menghormati elemen klasik dari film “Santet” (1988).
Sementara itu artis Luna Maya menuturkan untuk menjiwai karakter dirinya berlatih vokal intensif dengan mempelajari intonasi serta cara bicara khas Suzzanna. Luna menyebut hal itu bertujuan, agar penonton merasakan kedekatan emosi dengan karakter Suzzanna. Bahkan dalam film ini melibatkan ahli rias dari Bali dan Belgia untuk memberikan tampilan sedekat mungkin dengan wajah Suzzanna. Metode prostetik terbaru ini menuntut Luna menjaga berat badan agar konsistensi riasan tetap terjaga. Selain prostetik, teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) juga digunakan untuk menyesuaikan detail wajah legenda film Indonesia tersebut.
Selain itu Luna Maya juga mengonfirmasi bahwa film Suzzanna ketiga menjadi satu-satunya film layar lebar yang ia bintangi pada 2026. Ia memilih untuk beristirahat dari sejumlah proyek film dan mengurangi keterlibatannya dalam genre horor untuk sementara waktu. Aktris Luna Maya kembali dipercaya memerankan Suzzanna, tetapi dengan tantangan yang berbeda.
Bila dalam dua film sebelumnya ia muncul sebagai sosok supranatural, kali ini Luna tampil murni sebagai manusia dari awal hingga akhir. “Di film ini, Suzzanna ditampilkan sebagai manusia seutuhnya,” ujar Luna. Sedangkan sutradara Azhar Kinoi Lubis mengatakan dirinya memberikan ruang kreatif bagi para pemain untuk menghidupkan adegan melalui diskusi intensif selama proses produksi.
Produksi Berskala Besar
Film ini juga menampilkan pembangunan set rumah bergaya tahun 1982 di Pangandaran. Tim produksi turut melakukan efek praktis, termasuk peledakan empat mobil dan pembakaran rumah secara langsung. Reza mengungkapkan dirinya kaget saat menyaksikan skala ledakan di lokasi, yang jauh lebih besar dari aba-aba standar syuting.
Sunil menjelaskan bahwa pendekatan produksi besar ini dilakukan untuk menjaga kualitas film agar sekelas dengan produksi era kejayaan Suzzanna. Selain Reza Rahadian dan Luna Maya, film yang pengerjaan naskahnya dimulai sejak 2016 ini juga dibintangi Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet hingga Aziz Gagap Film “Suzzanna: Santet, Dosa di Atas Dosa” akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026.
Dalam film ini Suzzanna digambarkan sebagai perempuan yang terluka setelah ayahnya tewas akibat santet yang dilakukan Bisman, penguasa desa yang kejam dan ambisius. Hal ini membuat Suzanna hingga mempelajari ilmu santet demi membalas dendam. Namun, kekuatan gelap yang ia kuasai perlahan menguasai dirinya dan membuat batas antara kebenaran serta dosa semakin kabur.
Di tengah perjalanan balas dendam itu, hadir Pramuja, lelaki beriman berhati tulus yang tanpa sadar masuk ke dalam pergolakan batin Suzzanna. Hubungan mereka berkembang menjadi cinta yang rumit, sementara Suzzanna terjebak antara dendam yang membara atau mengorbankan segalanya demi cinta yang mungkin menjadi jalan keselamatannya.
Penulis: Nurul Huda