Puasa dan Perbaikan Akhlak
Bulan Ramadan adalah syahrul madrasah. Pengertian ini mempunyai makna bahwa pada bulan Ramadhan tidak hanya wajib berpuasa, namun juga menjadi ajang mendidik perilaku yang baik yaitu perilaku perilaku akhlakul karimah.
Ketika berpuasa puasa kita akan dididik untuk mengelola hawa nafsu kita. Dari pendidikan ini akan lahirlah dalam dirinya sikap yang baik dan perilaku yang mulia.
Saat puasa pahala menjadi berlipat ganda serta mendapatkan keberkahan luar biasa dari Allah SWT. Puasa dalah bulan yang penug rahmat, maghfirah, barokah, keselamatan dan kenikmatan kepada orang yang berpuasa. Selain itu puasa adalah media pendidikan untuk menghindari akhlak yang buruk (akhlaq al-sayyiah).
Rasulullah SAW bersabda: ada lima perkara yang membatalkan puasa, menghapus pahala puasa yaitu bohong (kidzb), membuka aib orang lain (ghibah), fitnah, adu domba, provokasi (namimah), janji palsu (yaminul ghamus), dan mengumbar nafsu syahwat (al-nadhr bis-syahwat). Kelima perkara ini dalam ilmu akhlak disebut akhlaq al-sayyiah yang bermakna perilaku buruk.
Misi utama yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW salah satunya adalah menyempurnakan akhlak manusia. Dalam sebuah hadis, beliau menegaskan “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. .(HR. Baihaqi dan Bazzar) Sejarah membuktikan bagaimana pribadi Rasulullah, yang hidup di tengah masyarakat jahiliyah, mampu mengubah tatanan sosial dengan keteladanan akhlaknya. Dalam tempo singkat, dakwah beliau membentuk masyarakat baru yang beriman, beradab, dan berperan besar dalam perkembangan peradaban dunia.
Makna Akhlak
Secara bahasa, kata “akhlak” berasal dari bentuk jamak khuluq yang berarti tingkah laku, perangai, tabiat, adat kebiasaan, atau budi pekerti. Kata ini seakar dengan khaliq (pencipta) dan makhluq (yang diciptakan). Hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah perilaku batiniah yang tertanam kuat dalam jiwa manusia yang memunculkan perbuatan secara spontan. Dengan kata lain, akhlak adalah cerminan kondisi batin seseorang. Dalam bahasa Indonesia, kata akhlak kemudian diserap menjadi “budi pekerti”, yakni perilaku, watak, atau tabiat. KBBI mengartikan budi pekerti sebagai kelakuan atau sifat dasar manusia. Ini menegaskan bahwa akhlak mencakup seluruh perbuatan, baik ucapan maupun tindakan nyata.
Sementara itu para ahli menyimpulkan bahwa akhlak adalah sikap batin yang tertanam kuat dan melahirkan tindakan secara spontan. Jika tindakan yang timbul itu sesuai dengan nilai kebaikan dan ajaran agama, maka disebut akhlak terpuji (akhlaqul mahmudah). Sebaliknya, jika yang muncul adalah perbuatan buruk, itulah akhlak tercela (akhlaqul madzmumah). Akhlak bukanlah perilaku yang dibuat-buat, melainkan refleksi jujur dari apa yang ada di dalam jiwa seseorang.
Para ulama besar memberikan definisi dengan redaksi berbeda mengenai akhlak ini. Namun perbedaan itu memiliki inti yang sama yaitu akhlak bersumber dari kondisi batin yang mantap. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak adalah sifat tertanam dalam jiwa yang darinya lahir perbuatan dengan mudah tanpa perlu pemikiran panjang. Jika sifat itu melahirkan tindakan baik, itulah akhlak mulia; jika melahirkan keburukan, maka itulah akhlak tercela.
Sementara itu Ibnu Miskawaih memandang bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang bertindak tanpa pertimbangan rumit. Sedangkan Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam Minhaj al-Muslim menyebut akhlak sebagai sifat kuat dalam jiwa yang menjadi sumber berbagai perbuatan, baik maupun buruk. Kemudian Al-Qurthubi memaknai akhlak sebagai tata krama yang menyatu dalam diri manusia dan menjadi bagian dari pembentukan karakternya. Muhammad bin ‘Ilaan asy-Shiddiqi menekankan bahwa akhlak membuat seseorang mudah melakukan kebaikan tanpa paksaan pihak luar.
Akhlak merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam. Untuk memahami kedalamannya, para ulama menelusuri asal-usul kata serta merujuk pada pandangan tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali. Puasa dalam Islam bukan hanya praktik menahan diri dari makan dan minum, tetapi sebuah proses penyucian batin yang bertujuan membentuk karakter.
Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah "la‘allakum tattaqun"—agar manusia mencapai ketakwaan (QS Al-Baqarah: 183). Ketakwaan ini tercermin dalam akhlak sehari-hari, karena seseorang yang terbiasa mengendalikan hawa nafsu selama berpuasa akan lebih mampu menahan amarah, menjaga kata-kata, serta memperlakukan orang lain dengan kelembutan. Dengan demikian, puasa menjadi sarana pendidikan moral yang bekerja dari dalam diri manusia, menundukkan ego dan melatih disiplin spiritual.
Dalam tradisi para ulama, puasa selalu dipahami sebagai ibadah yang berkelindan erat dengan pembentukan akhlak mulia. Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususul-khusus. Tingkatan tertinggi adalah ketika seseorang tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga menjaga hati dari sifat-sifat buruk seperti iri, sombong, dan kebencian. Menurutnya, inti puasa adalah "menahan anggota tubuh dari segala sesuatu yang dimurkai Allah"—sebuah konsep yang menegaskan bahwa akhlak adalah fondasi ibadah, bukan sekadar formalitas.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement