Kiai Abdul Mu’ti Anjun: Ulama Madura yang Menghidupkan Tradisi Doa dan Tasawuf
Kiai Abdul Mu’ti adalah ulama lokal yang mempunyai akar kuat dalam tradisi Islam khususnya di Madura. Dalam membina masyarakatnya, Kiai Abdul Mu’thi menunjukkan karakter khas ulama Nusantara yaitu menguatkan pemahaman agama di komunitas lokal. Jejak dakwahnya ada dalam beberapa karyanya.
Pada awal abad ke-20, wilayah Madura, khususnya Bangkalan, melahirkan banyak ulama yang berperan penting. Kiai Abdul Mu’thi adalah salah satu di antaranya. Meski namanya tidak begitu populer secara luas di tingkat nasional, namun beliau memiliki pengaruh yang kuat di lingkungan tempatnya berdakwah.
Santri Setia Syekhona Kholil Bangkalan
Kiai Abdul Mu’thi memiliki hubungan erat dengan salah satu ulama besar Madura, yakni Syekhona Kholil Bangkalan. Beliau tercatat sebagai santri yang setia mendampingi gurunya hingga akhir hayat. Kedekatan ini tentu memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan spiritualitasnya.
Sebagai murid dari tokoh besar yang menjadi poros keilmuan Islam di Nusantara, Kiai Abdul Mu’thi menerima warisan ilmu yang mendalam. Kiai yang satun ini tidak berhenti pada tahap menerima, tetapi juga mengembangkan dan menyebarkan ilmu tersebut melalui karya tulis. Langkah ini menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya seorang praktisi dakwah, namun juga seorang intelektual yang berkontribusi dalam tradisi keilmuan Islam.
Melalui proses belajar yang panjang dan kedekatan dengan gurunya, beliau menginternalisasi ajaran-ajaran Islam, khususnya dalam bidang tasawuf dan amalan spiritual. Hal ini kemudian menjadi fondasi utama dalam karya yang ia hasilkan.
Karya Kitab: Perpaduan Doa, Tasawuf, dan Tradisi Lokal
Salah satu peninggalan penting Kiai Abdul Mu’thi adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan doa dan ajaran tasawuf. Kitab ini memiliki karakter unik karena memadukan unsur keilmuan Islam dengan tradisi lokal masyarakat Jawa dan Madura. Masyarakat sering menyebut karya semacam ini sebagai “primbon kiai”, yaitu kumpulan pengetahuan yang tersusun dalam satu naskah.
Kitab tersebut memuat berbagai doa yang bersumber dari ajaran Rasulullah, serta doa-doa yang dinisbatkan kepada para nabi seperti Nabi Sulaiman dan Nabi Musa. Selain itu, terdapat juga pembahasan mengenai syahadat sebagai fondasi agama, serta ajaran tentang keteguhan iman sepanjang hidup.
Tidak hanya berhenti pada teori, kitab ini juga memuat praktik spiritual yang harus dijalankan oleh masyarakat. Misalnya, anjuran untuk berpuasa selama periode tertentu dan membaca doa-doa khusus dalam bahasa Arab maupun Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa Kiai Abdul Mu’thi berusaha menyusun ajaran yang mudah masyarakat mengamalkan dan memahaminya. Beliau juga memasukkan doa Nurbuat yang hingga kini masih populer. Kehadiran doa-doa tersebut menunjukkan kesinambungan tradisi spiritual yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Ajaran Spiritual untuk Kehidupan Sehari-hari
Kiai Abdul Mu’thi tidak menyusun karyanya sebagai bahasa yang populer dan mudah.Karya-kartanya adalah panduan praktis bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Isi kitabnya menekankan pentingnya doa, keteguhan iman, dan kedekatan dengan Allah.
Salah satu pesan penting dalam naskah tersebut ialah penegasan bahwa salat merupakan ibadah utama yang harus dijaga hingga akhir hayat. Pesan ini ia sampaikan melalui narasi yang mengaitkan ajaran Islam dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam.
Selain itu, juga menghadirkan ajaran tasawuf yang bertujuan membersihkan hati dan memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya fokus pada aspek lahiriah agama, tetapi juga aspek batiniah yang menjadi inti dari spiritualitas Islam.
Hingga saat ini, ajaran-ajaran yang beliau wariskan masih relevan, terutama dalam konteks kehidupan masyarakat pesantren. Nilai-nilai seperti keteguhan iman, pentingnya doa, dan kedalaman spiritual tetap menjadi kebutuhan utama di tengah perubahan zaman.
Dengan demikian, Kiai Abdul Mu’thi layak dikenang sebagai salah satu ulama lokal yang memberikan kontribusi besar melalui cara yang sederhana namun berdampak luas. Jejak sunyinya justru menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk memberi makna.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement