Pergulatan Menghadapi "Fatherless Issue" dalam Film Suka Duka Tawa
Apa jadinya jika panggung komedi yang selama ini menjadi tempat persembunyian namun berubah menjadi cermin luka masa lalu? Itulah premis emosional yang ditawarkan oleh film terbaru besutan sutradara Aco Tenri berjudul Suka Duka Tawa. Film yang diproduksi oleh BION Studios dan Spasi Moving Image, ini siap tayang pada 8 Januari 2026 mendatang ini justru siap-siap menguras air mata.
"Film ini berbicara banyak tentang luka dan menertawakannya. Harapannya, penonton bisa melihat duka sebagai sesuatu yang dipikul untuk bertumbuh," ujar Aco Tenri sang sutradara. Film berkisah tentang perjalanan Tawa yang diperankan Rachel Amanda. Ia adalah seorang karyawan toko furnitur yang merangkap sebagai komika perempuan. Baginya, panggung stand-up adalah ruang untuk mengubah kepahitan hidup menjadi punchline yang mengundang tawa.
Namun, ketenangan semu itu runtuh ketika Keset yang diperankan Teuku Rifnu Wikana, ayahnya yang hilang selama 20 tahun tiba-tiba muncul kembali. Kehadiran sang ayah tidak hanya memanaskan suasana rumah, tetapi juga mengguncang hubungan Tawa dengan ibunya yang Ibu Cantik .Tawa pun dipaksa menghadapi dilema besar: apakah luka lama cukup ditertawakan di atas panggung, atau harus benar-benar dibereskan di dunia nyata?
Isu "Fatherless" yang Relate
Untuk mendalami perannya dalam film ini, Rachel Amanda menunjukkan totalitas luar biasa dengan melakukan open mic sungguhan di depan penonton asli. Menurutnya, karakter Tawa sangat dekat dengan realitas masyarakat Indonesia yang sering mengalami hubungan keluarga yang renggang.
"Gak semua cerita kita sama, tapi pasti ada momen ketika kita ingin memperbaiki hubungan yang renggang dan caranya sering kali aneh, lucu, atau malah bikin bingung," ungkap Rachel. Menurutnya drama komedi keluarga yang dekat dengan banyak orang. “ hal inilah yang bikin cerita menjadi terasa nyata. Seperti rasa bagaimana misalnya kita kesal dengan seseorang tapi dihadapkan sama hidup kita yang juga penuh dengan komedi,” ujarnya.
Senada dengan Rachel, komika Bintang Emon yang berperan sebagai Iyas, sahabat Tawa, mengaku bahwa isu fatherless (ketiadaan peran ayah) dalam film ini memberikan refleksi mendalam bagi dirinya. "Banyak pelajaran dari karakter Keset. Film ini bikin gue refleksi sebagai manusia dan juga sebagai ayah," tuturnya.
Salah satu daya tarik utama film ini adalah keberanian Aco Tenri menyatukan para legenda lawak dengan jajaran komika papan atas. Selain pemeran utama, film ini bertabur bintang seperti Abdel Achrian, Mang Saswi, hingga Nazira C. Noer. Selain itu terdapat beberapa komika papan atas antara lain Panji Pragiwaksono, Gilang Bhaskara, Arif Brata, hingga Bintang Emon. Ada juga penampilan khusus dari Enzy Storia. Perpaduan ini menciptakan komedi yang cair dan relevan bagi lintas generasi, namun tetap memiliki kedalaman drama yang mampu menyentuh hati.
Meski trailer resminya yang rilis sejak 25 November lalu menampilkan banyak banyolan segar, Suka Duka Tawa bukanlah film komedi biasa. Penonton diingatkan untuk menyiapkan tisu karena film ini "mengandung bawang"—istilah populer untuk cerita yang mengharukan. Sebagai negara dengan isu fatherless yang cukup tinggi, Suka Duka Tawa hadir sebagai pengingat bahwa ketawa dan luka sering kali berjalan berdampingan. Jangan lewatkan kisah penuh haru dan tawa ini di bioskop mulai 8 Januari 2026.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement