Pasar Tradisional Tak Sekadar Tempat Belanja, tapi Penyangga Ekonomi Rakyat
Pasar rakyat tradisional dinilai masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat bawah di tengah gempuran ritel modern dan platform digital. Pengamat sosial-politik dari Lab45, Haryadi, menyebut pasar tradisional bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan institusi sosial, budaya, sekaligus ekonomi yang menopang kehidupan rakyat kecil.
“Pasar rakyat tradisional adalah ruang ekonomi kerakyatan. Di sana pedagang kecil, petani, nelayan, UMKM, hingga pekerja informal mendapatkan ruang hidup yang sulit mereka peroleh dalam sistem ritel modern bermodal besar,” tulis Haryadi, Rabu 20 Mei 2026. Menurutnya, pasar tradisional juga memiliki fungsi distribusi sosial yang inklusif karena memungkinkan tawar-menawar, pembelian dalam jumlah kecil, hingga hubungan berbasis kepercayaan antar pelaku ekonomi.
Ia menilai keberadaan pasar tradisional justru semakin penting di era sekarang. Selain menjadi penyedia pangan segar dengan harga terjangkau, pasar tradisional juga menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Saat krisis ekonomi terjadi, pasar rakyat dinilai lebih adaptif dibanding jaringan ritel besar karena berbasis kebutuhan primer warga dan jejaring lokal. “Uang berputar langsung di komunitas lokal, bukan terkonsentrasi pada korporasi besar atau platform digital global,” ujarnya.
Haryadi mengingatkan, jika negara membiarkan pasar rakyat melemah, dampaknya tidak hanya ekonomi tetapi juga sosial dan budaya. Pedagang kecil akan terpinggirkan, pengangguran informal meningkat, hingga identitas budaya lokal terkikis. Karena itu, ia mendorong negara melakukan modernisasi pasar tanpa menghilangkan karakter kerakyatannya, memperkuat rantai pasok lokal, memberi perlindungan regulasi yang adil, hingga mendorong digitalisasi yang inklusif. “Jika pasar rakyat tradisional mati, itu bisa menjadi awal hilangnya kedaulatan ekonomi bangsa di level paling dasar,” tegasnya.
Advertisement