Salah Pilih Pemimpin, Organisasi Bisa Jalan ke Jurang
Fenomena salah memilih pemimpin dinilai menjadi salah satu penyebab utama melemahnya banyak organisasi di era modern. Pengamat sosial-politik dari Lab45, Haryadi, menilai tantangan organisasi saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu karena dipengaruhi dinamika global, digital, finansial, hingga geopolitik.
Dalam catatannya bertajuk Salah Pilih Pemimpin yang ditulis Selasa 19 Mei 2026, Haryadi menyebut tidak ada pemimpin yang benar-benar sempurna. Namun seorang pemimpin masih memiliki peluang membawa organisasi ke arah positif apabila mau belajar, terbuka terhadap kritik, mampu beradaptasi, dan mengakui kekurangannya.
“Masalahnya, banyak organisasi justru salah memilih pemimpin,” tulisnya.
Menurut Haryadi, pemimpin masa kini bukan lagi sekadar kepala organisasi. Pemimpin juga harus mampu menjaga stabilitas, menjadi mediator konflik, sekaligus mengarahkan transformasi organisasi di tengah perubahan zaman yang cepat.
Karena itu, salah memilih pemimpin bukan hanya soal figur yang tidak disukai. Lebih dari itu, terjadi ketidaksesuaian antara kapasitas pemimpin dengan tantangan struktural yang dihadapi organisasi.
Ia menilai pemimpin yang salah tidak selalu terlihat gagal bekerja. Namun orientasi kebijakannya cenderung menyimpang karena lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok pendukung dibanding kepentingan organisasi.
Fanatisme dan Pencitraan Digital
Haryadi melihat salah pilih pemimpin banyak dipengaruhi fanatisme buta. Fanatisme itu bisa muncul secara alami maupun terbentuk akibat personalisasi algoritma media sosial yang membuat publik hanya menerima informasi tertentu.
Selain itu, muncul fenomena hyper-packaging di mana kandidat pemimpin dikemas layaknya produk komersial dengan bantuan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI.
“Visi dan misi akhirnya tergantikan oleh estetika digital personal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti era post-truth yang membuat kebohongan diproduksi secara masif demi membangun citra tertentu. Di sisi lain, banyak anggota organisasi mudah tergoda janji-janji instan yang menawarkan jalan pintas menuju kecukupan ekonomi.
Tanda-tanda Salah Pilih Pemimpin
Haryadi menyebut tanda salah memilih pemimpin sebenarnya mudah dikenali. Di antaranya tidak adanya arah kebijakan organisasi yang jelas, kecenderungan menegasikan legacy pemimpin sebelumnya, anti terhadap collective intelligence, sinis terhadap kritik, hingga lemahnya kemampuan manajerial.
Selain itu, pemimpin seperti ini biasanya tidak konsisten antara ucapan dan tindakan serta tidak memiliki pola pikir mencetak pemimpin baru.
Jika kondisi itu terus berlangsung, dampaknya dinilai bisa serius. Mulai dari melemahnya fungsi normatif organisasi, terganggunya stabilitas internal, munculnya konflik berkepanjangan, hingga hilangnya daya saing organisasi.
Tiga Cara Meminimalkan Risiko
Untuk meminimalkan risiko salah memilih pemimpin, Haryadi menawarkan tiga langkah utama.
Pertama, memperbaiki pengetahuan seluruh insan organisasi agar menjadi anggota yang aktif dan kritis terhadap arah organisasi.
Kedua, melakukan reformasi struktur organisasi beserta fungsi normatifnya agar setiap pemimpin tetap tunduk pada kepentingan organisasi, bukan bertindak semaunya sendiri.
Ketiga, memperkuat komitmen moral pemimpin. Menurutnya, aspek moral menjadi faktor paling menentukan bagi keberlangsungan organisasi.
“Kalau problem dasarnya ada pada lemahnya komitmen pemimpin terpilih, maka satu-satunya jalan adalah gerakan sosial baru untuk mengganti pemimpin,” tulisnya.
Kepemimpinan Keras Kepala yang Halus
Dalam perspektif strukturalis mutakhir, Haryadi menilai fenomena salah pilih pemimpin kini semakin sulit dikenali. Sebab banyak pemimpin tampil seolah berpihak kepada anggota organisasi, seolah mengayomi, dan tampak bekerja demi kepentingan bersama.
Namun melalui penguasaan informasi, opini publik, algoritma media sosial, hingga kooptasi kekuasaan, ruang organisasi perlahan dikendalikan secara penuh.
Kondisi ini melahirkan apa yang disebutnya sebagai stubborn leadership atau kepemimpinan keras kepala yang tampil lebih halus tetapi sulit dideteksi.
“Memilih pemimpin dengan cara yang baik belum tentu menghasilkan kepemimpinan yang baik. Tapi memilih pemimpin dengan penuh siasat penyimpangan, pasti menghasilkan kepemimpinan yang tidak baik,” pungkasnya.
Advertisement