Mahasiswa UNAIR Dorong Produktivitas Ternak Lewat Edukasi Inseminasi Buatan di Desa Pule, Lamongan
Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam program KKN Belajar Bareng Komunitas (BBK) 6 menggelar penyuluhan peternakan di Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, pada Rabu, 23 Juli 2025. Fokus utama kegiatan adalah meningkatkan pemahaman peternak terhadap keberhasilan Inseminasi Buatan (IB), yang menjadi metode penting dalam pengembangan sapi potong dan perah di wilayah tersebut.
Penyuluhan diselenggarakan di Balai Desa Pule dan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ulul Azmi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, dan drh. Dani Eka Fiernanda, Kepala Puskeswan Kecamatan Modo yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Desa Pule. Penyuluhan bertema "Faktor-Faktor Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB)" juga dihadiri oleh puluhan peternak dan perangkat desa di Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan,
Fokus pada Produktivitas Ternak
Desa Pule dikenal memiliki populasi sapi yang cukup tinggi. Namun, produktivitas ternak dinilai belum optimal karena masih rendahnya pemahaman teknis peternak terhadap manajemen reproduksi, termasuk program IB.
“Kami melihat potensi peternakan di sini sangat besar, tapi belum ditunjang dengan pengetahuan teknis yang memadai. Maka kami memulai dari hal kecil yaitu edukasi,” ujar Ulul Azmi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR yang menjadi pemateri dalam penyuluhan.
Materi yang disampaikan mencakup definisi IB, manfaat, waktu ideal pelaksanaan, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan. Edukasi juga diberikan terkait cara membaca kode pada straw (semen beku), agar peternak mengetahui asal-usul dan kualitas genetik dari bibit yang digunakan.
Tantangan Repeat Breeding
Salah satu persoalan yang mengemuka dalam sesi diskusi adalah kasus kawin berulang atau repeat breeding. Ketua Kelompok Ternak Barokah, H. Suharto menyebut beberapa peternak harus melakukan Inseminasi Buatan (IB) hingga lima kali, tanpa hasil kebuntingan yang memuaskan.
Ketua Kelompok Ternak juga menyebutkan bahwa ada perbedaan kualitas semen beku (straw) yang di produksi di Lembang, Jawa Barat dengan di Singosari, Jawa timur berbeda. Banyak peternak yang menilai semen beku dari Jawa Barat memiliki kualitas yang lebih baik.
Drh. Dani Eka Fiernanda, Kepala Puskeswan Kecamatan Modo, menjelaskan bahwa banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan IB. “Tujuh faktor utama yang menentukan keberhasilan IB adalah peternak, ternak (sapi), inseminator, kualitas straw, nutrisi, deteksi birahi, dan sistem perkandangan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pakan seimbang dan perhatian terhadap manajemen pemeliharaan. Menurutnya, meskipun genetik sapi pejantan dari bibit IB sangat baik, jika tidak ditunjang manajemen yang tepat, hasilnya tidak akan optimal.
Kualitas Straw Masih Jadi Perdebatan
Dalam diskusi, juga muncul perdebatan seputar kualitas semen beku produksi BIB Lembang (Jawa Barat) dan BBIB Singosari (Jawa Timur). Sebagian peternak menilai straw dari BIB Lembang lebih unggul. “Belum ada riset resmi yang membandingkan secara langsung kualitas dari dua balai tersebut. Preferensi inseminator dan pengalaman lapangan sering kali lebih menentukan,” ujar drh, Dani saat menanggapi isu tersebut.
Meski penyuluhan berlangsung singkat, antusiasme para peserta menunjukkan kebutuhan mendesak akan pendampingan lanjutan dalam bidang peternakan. Mahasiswa UNAIR dan perangkat desa berharap Dinas Peternakan dan pihak terkait dapat mengambil peran lebih intens dalam mendampingi peternak lokal.
“Inseminasi Buatan sudah dikenal luas, tapi keberhasilannya belum maksimal. Kuncinya ada pada edukasi berkelanjutan,” ujar Ulul.
Potensi besar sektor peternakan di Desa Pule menjadi peluang nyata untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Namun, tanpa pemahaman yang memadai mengenai manajemen kesehatan reproduksi ternak, seperti dalam praktik Inseminasi Buatan (IB), potensi itu bisa terbuang sia-sia.
Penyuluhan yang dilakukan oleh mahasiswa UNAIR bersama tenaga medis veteriner setempat menjadi langkah awal yang penting. Ke depan, pendampingan intensif dan kolaborasi berkelanjutan antara akademisi, pemerintah desa, dan dinas terkait dibutuhkan agar pengetahuan peternak terus berkembang seiring dengan tuntutan produktivitas ternak yang lebih optimal.
Advertisement