Kiai Hasan Besari Sang Punjer Jawa
Di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, sebuah kompleks pemakaman tua yang selalu ada peziarahnya. Salah satu makam yang menjadi saya tarik mengapa para peziarah datang adalah ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam Jawa yaitu Syekh Hasan Besari.
Tokoh yang memimpin Pondok Pesantren Tegalsari selama hampir tujuh dekade ini masyhur sebagai pusat rujukan keilmuan pada paruh pertama abad ke-19. Selain itu Kiai Hasan Besari adalah penggerak sistem pendidikan pesantren yang lebih tertata dan modern pada masanya.
Beliau lahir pada 1729 M. Semenjak kecil Hasan Besari tidak pernah jauh dari atmosfer kitab kuning dan aroma kayu papan pesantren. Hal itu karena Kiai Hasan Besar merupakan cucu Kiai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Gebang Tinatar atau yang kelak populer dengan sebutan sebagai Pesantren Tegalsari. Dari keluarga ulama inilah Hasan mulai menyusun langkah awal sebagai penuntut ilmu.
Meski catatan resmi tentang pendidikannya samar, banyak kisah tutur yang menyebut ia belajar langsung dari kakeknya. Selain itu dalam kajian sejarah mengungkapkan juga beliau menghabiskan masa mudanya dari pesantren yang kelak ia besarkan sendiri yaitu pesantren Tegalsari. Pada masa itu pesantren ini adalah rumah bagi tradisi keilmuan berhaluan Sunni-Syafi’i.
Laboratorium Ilmu dan Laku Spiritual
Pada tahun 1797 tongkat kepemimpinan pesantren berpindah ke tangan Kiai Hasan Besari. Lewat tangan dinginnya pesantren ini berkembang dengan pesat dan mencapai kejayaaannya kala itu. Di bawah asuhannya, sistem pembelajaran Tegalsari mengalami perubahan yang jauh melampaui zamannya. Pengajian tidak lagi hanya berlangsung pada jam-jam tertentu seperti usai Ashar atau Maghrib, tetapi berjalan dari pagi hingga sore. Kemudian juga diteruskan dengan sorogan malam hari.
Selain itu para santri terbagi dalam tingkatan yaitu dari mereka yang baru belajar huruf Arab hingga yang menelaah kitab-kitab klasik. Selain mengaji kitab klasik, para santri juga melakukan olah jiwa. Mereka melakukan riyadhoh, wirid, puasa, dan mujahadah sebagai laku harian. Maka pesantren Tegalsari berubah menjadi “laboratorium hidup” tempat ilmu bertemu spiritualitas. Tempat dimana nalar dan rasa saling mengasah. Jumlah santri disebut mencapai 16.000 orang. Ini sebuah angka yang bagi ukuran sekarang jumlahnya sangat mencengangkan.
Dari serambi dan pesantren juga lahir nama-nama besar yang kelak mewarnai peta pemikiran Nusantara. Adapun murid pesantren ini yang tersohor antara lain KH Abdul Manan, pendiri Pondok Tremas Pacitan. Kemudian RMH Sulaiman Jamaluddin, pendiri cikal-bakal Pesantren Gontor awal. Dan tentu saja, Ronggowarsito, sang pujangga besar Keraton Surakarta. Dari Ronggowarsito pula kita mengetahui betapa kuat pengaruh pendidikan di Tegalsari. Karya-karya sang pujangga Surakarta ini sarat nuansa tasawuf, sebuah ciri khas pendidikan ruhani yang ia dapatkan dari Syekh Hasan Besari. Dari sinilah simpul jaringan ulama Jawa dan keilmuan Islam dari Ponorogo merambah ke seantero Nusantara .
Sang Punjer Jawa
Selama 70 tahun menjadi pengasuh Pesantren Tegalsari, Syekh Hasan Besari tercatat tidak hanya memimpin sebuah lembaga pendidikan. Namun, beliau menjadi punjer atau poros tempat ulama dan bangsawan bertanya. Selain itu tempat untuk belajar, atau sekadar mencari arah hidup. Pada separuh pertama abad ke-19, nama Tegalsari adalah pusat keilmuan di Jawa. Di masa itu, para pengunjung tidak hanya datang untuk belajar atau berguru, akan tetapi tempat mendiskusikan peristiwa-peristiwa besar Tak pelak lagi pesantren Tegalsari menjadi ruang terbuka antara tradisi, agama, dan dinamika zaman.
Syekh Hasan Besari wafat pada usia yang diyakini lebih dari 100 tahun. Kepergiannya meninggalkan warisan model pendidikan pesantren yang terstruktur, jaringan ulama yang kuat, dan kontribusi tak terhingga bagi wajah keislaman di Jawa.
Syekh Hasan Besari wafat pada 1867 dalam usia lebih dari seratus tahun. Makam beliau ada dalam kompleks keluarga di Tegalsari, tempat yang kini menjadi tujuan ziarah banyak orang. Warisan terbesarnya bukan hanya pada bangunan pesantren, tetapi pada model pendidikan, jaringan intelektual, dan tradisi keilmuan yang terus berlanjut hingga kini. Pondok Pesantren Tegalsari mungkin tidak lagi sebesar masa jayanya, tetapi sejarah mencatat bahwa dari tempat inilah lahir ulama, pujangga, dan pemimpin pergerakan yang membentuk wajah Islam di Jawa selama berabad-abad.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement